Yuk! Kenali Keseruan Bebunyian Karinding dari Bandung

0
26

Bandung lebih dari sekadar tempat pelarian orang Jakarta (Ehem! Hehehe… ) dan obyek plesir mencari tempat-tempat seru buat kuliner-an. Kenal Karinding?

Nah, jabat erat nih dengan Karinding. Tentu saja ini bukan temannya merinding dan semua yang berakhiran ‘ding’ pada sebutannya. Hehehe…

Karinding masuk hitungan sebagai alat musik tradisional Sunda. Kerapkali Karinding juga disebut-sebut sebagai alat permainan dan juga alat musik yang suka sekali dipakai sebagai ‘teman’ petani saat sedang asyik-asyiknya bercocok-tanam – apalagi pas musim panen tiba.

Gunanya sebagai pengusir rasa bete pas sedang bercocok tanam?

Jelas nggak. Karinding justru dimainkan untuk mengusir hama di ladang.

Sebagai alat musik tradisional, Karinding mengeluarkan bebunyian getar dan dengung.

Karinding sendiri terdiri dari kata ‘Ka Ra Da Hyang’ yang artinya ‘dengan diiringi oleh doa sang Maha Kuasa’.

Serunya lagi, karinding sudah ada sejak enam abad lalu.

 

Memperkaya eksistensi alat musik tradisional

Karinding jelas makin memperkaya khazanah alat musik tradisional negeri ini. Di wilayah-wilayah negeri nusantara lainnya ada juga alat musik seperti karinding, loh!

Misalnya saja, ada Slober dari Lombok, Dunga dari Sulawesi, Riding (Cirebon), Genggong (Bali), Rinding (Jawa Tengah), Pikon (Papua), lalu ada Karindang (Kalimantan), dan Sagasaga (Sumatera).

Sedangkan dari luar negeri pun ada juga jewsharp.

Menurut Ayo Bandung, ada proses panjang sebelum Karinding pada akhirnya jadi alat musik pertanian. Dan ya, Karinding diciptakan untuk menjadi pedoman pengelolaan alam dan lingkungan hidup. Demikian keterangan dari Iman Rahman Anggawiria Kusumah (40) alias Kimung, salah satu dedengkot musik cadas di Bandung.

Filosofi tersebut masih dipegang Karinding hingga detik ini.

Mengingat didalamnya ada norma-norma Ketuhanan, Kemanusiaan, Kemasyarakatan, ada hukum waktu, hukum menetapkan kenegaraan, yang mana punya hubungan dengan demografi penduduk.

Karena nilai-nilai norma yang baik inilah karinding harus diwariskan. Demikian menurut Kimung lagi tatkala melakukan proses rekaman album kompilasi karinding bareng kawan-kawan.

Zaman dahulu, karinding pertama kali diberikan ke anak kecil, dengan harapan dari kecil sang anak sudah pahami getar dan dengung yang dihasilkan, sebagai awal pengelolaan alam dan lingkungan hidup.

Bagi anak kecil, karinding hanya sebatas menjadi alat kaulinan (permainan) saja, tapi begitu mereka beranjak dewasa, mereka mulai melalui masa-masa pubertas dan karinding dijadikan sebagai alat musik pergaulan.

Baca Keseruan Menawan Saat Melangkah di Lorong-Lorong Cirebon

Misalnya, sebagai musik untuk menarik lawan jenis dengan suara khasnya yang bisa menjadi daya pikat.

Lebih jauh lagi Ayo Bandung menjelaskan, saat mereka menikah kemudian mempunyai rumah, sawah dan ladang di situlah karinding menjadi alat musik pertanian yang kemudian mewarnai aktifitas kehidupan mereka yang notabene adalah petani.

“Sepanjang tiga fungsi ini, kaulinan, pergaulan, dan alat musik pertanian muncul ekspresi-ekspresi estetis kalau misalnya ngajak kencan cewek menggunakan nada khusus, dan kalo aman dibalas dengan nada khusus juga. Pola-pola estetis itulah yang kemudian menjadi pola-pola musikal,” jelasnya.

 

 

 

 

O.J.

Sumber: AyoBandung

Foto: Pesona.Travel

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here