Kearifan Budaya dan Tradisi Orang Jawa

0
119
Mitos dan Primbon Jawa
Instagram/ rhobi_initiald

Bila Anda orang Jawa atau berada di lingkungan orang Jawa, sautu ketika Anda akan menjumpai pandangan atau perilaku yang bisa jadi kurang bisa Anda pahami. Ya, mengenal orang Jawa dan budayanya itu tak ubahnya mengenali diri sendiri, demikian pula dengan mengenali kearifan budayanya. Bila Anda ingin, gambaran budaya akan tampak pada pertunjukan wayang, maupun pada tembang-tembang Jawa.

Beberapa literatur secara singkat menggambarkan, kepribadian orang Jawa yang umumnya tertutup dalam segala hal, dan mau terbuka hanya pada saat-saat dan tempat tertentu. Hal ini dulu terwujud dengan gaya pakaian serba panjang dan tertutup. Segala hal selalu disampaikan dengan tertutup, halus dan bermakna. Yang cukup banyak Anda kenal sekarang mungkin adalah basa-basinya yang ditujukan untuk membahagiakan orang lain.

Contoh sederhanya adalah menolak tawaran hidangan saat bertamu, agar tuan rumah tak repot. Kehalusan ini muncul kemudian dengan konsep saru saat orang Jawa menginjak usia remaja atau dewasa, yang dimaksud yaitu sesuatu yang kasar, semaunya sendiri, dan dianggap kurang memperhatikan norma. Hubungan antara pria dan wanita selalu terkait dengan norma ini, mengingat orang Jawa tak mau malu, disangka yang bukan-bukan, dan kehilangan harga diri (wirang).

Rasa dalam budaya Jawa ini merupakan perpaduan antara emosi, intuisi, akal dan nalar sehat. Dan kedalaman jiwa yang menjadi pertimbangan perilaku orang Jawa terletak pada hati nurani. Orang Jawa umumnya hidup dalam dunia kejiwaan yang dalam. Yang mana konsep hidup orang Jawa biasanya didasarkan pada pengalaman nyata kehidupan tradisi Jawa, yang merupakan perpaduan antara pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.

Sebagai gambaran, lihat saja prinsip bungah sajroning susah yang diartikan sebagai menerima kesedihan dengan senang hati. Maksudnya manusia harus bisa menerima suka maupun duka yang sementara sifatnya. Prinsip lainnya adalah tentang kawruh begja sawetah, yaitu bahwa hidup itu tak harus ngaya atau dengan kata lain hidup sebaiknya apa adanya saja. Inilah yang mendasari sikap yang cenderung menerima segala sesuatu tanpa menggerutu di belakang. Hal ini masih dilengkapi dengan rasa rumangsa, yaitu kemampuan mengukur diri dengan bermawas diri dan berempati terhadap orang lain. Selain itu ada dua hal utama acuan pandangan dan perilaku orang Jawa yakni mitos dan primbon.

Primbon

Primbon yang merupakan dasar primbonisme, adalah gudang ilmu pengetahuan (pengawikan Jawa). Isi primbon sedikitnya menyangkut berbagai aspek kehidupan orang Jawa yang serba kompleks. Kandungan primbon berasal dari leluhur, dari kitab-kitab suluk, kitab-kita wirid, dan sastra ajaran yang lain. Primbon termasuk ada yang disakralkan, sehingga setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jum’at Kliwon juga diberi kemenyan. Bahkan ada diantara orang Jawa yang membungkus primbon dengan kain mori, diletakkan pada tempat khusus yang tak boleh dibuka oleh anak kecil.

Tentang Mitos

Mitos di Jawa termasuk sebagai kategori cerita rakyat lisan yang diturunkan dari mulut ke mulut. Cerita begini bisa dianggap sebagi cerita yang ‘aneh’ yang sering sekali sulit dipahami maknanya atau diterima kebenarannya karena kisah di dalamnya terdengar tidak masuk akal.

Pertama, ada mitos yang berupa gugon tubon yaitu larangan-larangan tertentu. Jika larangan tersebut diterjang, orang Jawa takut menerima akibat tak baik. Misalnya, orang Jawa melarang pernikahan dengan saudara misalnya, tumbak-tinumbak, dan geing (anak yang lahir pada penanggalan Jawa pada hari Wage dan Pahing), dan sebagainya. Hal ini berhubungan dengan keturunan cacat yang mungkin dilahirkan. Orang Jawa juga melarang menunjuk kuburan, dengan kepercayaan, nanti jarinya bisa patah. Jika terlanjur menunjuk kuburan, jari tadi harus diomoti (dikulum).

Kedua, mitos yang berupa bayangan yang berhubungan. Mitos ini biasanya muncul dalam dunia mimpi. Karena itu, orang Jawa mengenal mimpi baik dan mimpi buruk. Jika kebetulan mimpi buruk, orang Jawa menghubungkannya dengan kemungkinan datangnya suatu musibah. Begitu pula kalau orang Jawa mimpi jadi pengantin, orang akan segera menangkap maksud bahwa masa kematiannya telah dekat.

Untuk hal-hal tersebut perlu dilakukan acara ‘selamatan’ agar tak segera meninggal dunia, terlebih lagi mati dengan cara tak wajar.

Ketiga, mitos berupa dongeng, legenda dan cerita-cerita. Hal ini biasanya diyakini karena memiliki legitimasi yang kuat di alam pikiran orang Jawa. Misalnya, mitos terhadap Semar, Dewa Sri, Kanjeng Ratu Kidul dan Aji Saka. Semua ini berupa dongeng mistis yang dapat mempengaruhi dunia batin orang Jawa. Tokoh-tokoh mitologis tersebut dianggap memiliki kekuatan supranatural, karena perlu dihormati dengan cara-cara tertentu.

Keempat, mitos yang berupa sirikan (yang harus dihindari). Mitos Jawa ini masih bernafas asosiatif, tetapi tekanan utamanya pada aspek ora ilok (tak pantas) jika dilakukan. Kalau orang Jawa melanggar hal-hal yang telah disirik, mereka takut bila ada akibat kurang menyenangkan.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

Sumber: Falsafah Hidup Jawa – Suwardi Endraswara & Sumber Lain.

LEAVE A REPLY