Lima Fakta Unik Rumah Gadang Khas Minangkabau

0
193
rumah gadang minangkabau
Dok. Mahligai Indonesia

Siapa yang tidak mengetahui bangunan rumah gadang atau rumah godang khas Minangkabau di Sumatera Barat? Dikenal dengan bentuk atapnya yang berbentuk unik, rumah gadang menjadi ikon yang kerap ditemui pada kantor-kantor pemerintahan di Sumatera Barat, Restoran-restoran khas Minang atau sebagai logo perkumpulan masyarakat Minang itu sendiri. Berikut ada fakta menarik tentang rumah gadang yang belum banyak orang tahu!

Asal Muasal Bentuk Atap atau Gonjong

Gaya arsitektur rumah gadang yang paling menonjol adalah bentuk atapnya. Berbeda dulu dengan sekarang, rumah gadang yang tadinya beratapkan bahan ijuk kini banyak terbuat dari seng.

Ada beberapa versi cerita terkait bentuk atap rumah gadang yang melengkung dengan ujung yang lancip. Ada yang mengatakan bentuk tersebut diilhami dari tanduk kerbau. Hal tersebut selaras dengan cerita tambo yang mengisahkan kemenangan orang Minangkabau saat adu kerbau dengan raja Jawa di masa lalu. Nah, untuk mengabadikan kemenangan tersebut, masyarakat Minang membuat atap rumahnya menyerupai tanduk kerbau.

Dok. Mahligai Indonesia

Selain berbentuk seperti tanduk kerbau, rumah gadang juga dikatakan menyerupai susunan sirih dan cerana. Pendapat inipun diperkuat karena sirih juga merupakan lambang kekeluargaan dan persaudaraan bagi masyarakat Minang.

Kisah lainnya mengatakan bahwa bentuk rumah gadang mirip dengan kapal atau yang sering mereka sebut sebagai “lancang”. Konon lancang tersebut datang melalui sungai Kampar dari arah timur. Ketika sedang bersandar di darat, pemiliknya memasang atap yang terbuat dari layar agar kapal tidak mudah lapuk. Ujung-ujung layar diikat pada tiang-tiang kapal, dan bagian tengahnya melengkung menyerupai gonjong karena beban layar yang cukup berat. Nah, bentuk lancang tersebut yang akhirnya menjadi inspirasi masyarakat Minang dalam membuat rumah gadang.

Jumlah Gonjong Tergantung Jumlah Lanjar

Pada umumnya, Rumah Gadang berlanjar dua dan memiliki dua gonjong. Rumah Gadang yang demikian biasa disebut lipek pandan. Sedangkan Rumah Gadang dengan tiga lanjar atau disebut balah bubuang biasa, mempunyai empat gonjong. Namun, ada juga Rumah Gadang berlanjar empat yang disebut gajah maharam atau gajah terbenam.

Kondisi Ruangan

Ruangan rumah gadang yang berbentuk empat persegi panjang secara keseluruhan terbagi atas lanjar (ruas dari depan ke belakang) dan ruang lepas yang dibagi menurut batas tiang. Tiang disusun berbanjar dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan. Jumlah lanjar tergantung dengan luas rumah, namun wajarnya berjumlah ganjil antara tiga hingga sebelas.

Di bagian depan terdapat Rangkian, yakni bangunan berbentuk bujur sangkar dan beratap ijuk bergonjong yang digunakan untuk menyimpan padi. Pada bagian kiri dan kanan terdapat anjung atau anjuang sebagai tempat upacara pernikahan atau keagamaan. Sedangkan dapur dibangun terpisah pada bagian belakang rumah yang didempet pada dinding.

Dekorasi Ukiran

Permukaan tembok bagian depan rumah biasanya terbuat dari papan yang disusun vertikal dan penuh dengan ukiran, sementara bagian belakang permukaan luarnya dilapisi belahan bambu. Penempatan motif ukiran tergantung pada susunan dan letak papan pada dinding Rumah Gadang. Motif-motif tersebut antara lain motif daun, bunga, buah dan tumbuhan merambat.

Rumah Panggung

Jika diperhatikan, pada umumnya Rumah Gadang berbentuk rumah panggung dengan tinggi kurang lebih 2m dari permukaan tanah. Pada bagian depan juga terdapat tangga. Hal ini konon dimaksudkan untuk menghindari serangan hewan buas pada zaman dulu.

Memiliki Empat Tiang Utama atau Tonggak Tuo

Rumah Gadang memiliki empat tiang utama atau tonggak tuo dari pohon juha panjang dan berdiameter 40 dm hingga 60 cm. Ternyata, sebelum digunakan pohon juha harus direndam di dalam kolam selama bertahun-tahun sehingga menjadi sangat kuat, anti rayap dan bisa bertahan hingga ratusan tahun lamanya. Mendirikan tonggak tuo juga dipandang sebagai meneggakkan kebesaran, lho.

Anti Gempa

Dilihat dari lingkungan alamnya yang rawan gempa, rumah gadang pun dibangun dengan desain arsitektur bebas gempa, yakni ditopang dengan tiang-tiang panjang yang menjulang ke atas dan tidak mudah rusak karena goncangan.

Seluruh tiang rumah gadang tidak ditanamkan ke dalam tanah, namun hanya bertumpu pada batu datar yang lebar dan kuat. Tidak menggunakan paku, seluruh sambungan tiang dan kasau (kaso) besar menggunakan pasak yang juga terbuat dari kayu. Saat gempa, rumah gadang akan bergerak atau bergeser dengan flesibel sehingga lebih tahan terhadap gempa.

ELSA FATURAHMAH

 

LEAVE A REPLY