Wah! Deretan Makanan Tak Biasa Ini Hanya Boleh Disantap Raja

0
72

Tentu saja para raja tak menikmati makanan yang persis kita sehari-hari. Untuk mereka, ada rajamangsa alias makanan raja. Apa saja itu?

Eksistensi makanan raja alias rajamangsa disebut-sebut dalam berbagai sumber teks kuno.

‘Rajamangsa’ sendiri sebenarnya terdiri dari dua kata, ‘raja’ dan ‘mangsa’. ‘Raja’ berasal dari kata serapan bahasa Sanskreta, ‘rajya’, yang berarti raja, berkuasa, pemimpin. Sedangkan ‘mangsa’ berasal dari Sanskreta juga, ‘mansa’ yang berarti ‘daging’, ‘mangsa’, ‘pemakan daging’.

Jadi ya, ‘rajamangsa’ adalah makanan raja atau makanan yang khusus disediakan untuk raja. Demikian penjelasan Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, seperti dilansir dari Historia.ID.

Lalu apa saja deretan menu dari Rajamangsa?

Pepes dan botok ini dulunya adalah rajamangsa.
(Foto: MalangTimes)

Salah satu menu rajamangsa ini tertulis dalam transkrip prasasti milik H.Kern (VG VII.32f dan VIIIa), ahli epigrafi Belanda.

Ada Wedus gunting yang adalah menu berupa daging kambing yang belum keluar ekornya.

Lalu ada Badawang Baning. ‘Baning’ itu sendiri adalah penyu atau kura-kura. Lalu ada ‘Karung Pulih’ yang adalah babi hutan. Disebut karung pulih karena kata ‘pulih’ menunjuk pada babi yang dikebiri.

Duh, aneh-aneh, ya, deretan makanan para raja dulu! Hehehe…

Tapi tunggu dulu, masih ada deretan ‘menu’ rajamangsa lain.

Misalnya, Asu Tugel / Asu Ser.

Nah, Asu Tugel ini muncul dalam kumpulan transkrip prasasti milik J.L. Brandes. Menurut Dwi, Asu Tugel berarti anjing yang dikebiri – yang juga disebut ‘asu ser’. Kata ‘ser’ mungkin artinya sama dengan ‘sor’, yang berarti ‘dikebiri’. Biasanya ditandai dengan memotong ekornya (disebut ‘asu buntung’).

Baca Nyam-Nyam Nasi Tekor yang Katanya Nggak Akan Bikin Tekor

Lalu ada Karung Pulih alias babi hutan aduan. Rajamangsa ini muncul dalam makalah Arkeolog Universitas Indonesia, Kresno Yulianto Sukardi, yang berjudul ‘Sumber Daya Pangan Pada Masyarakat Jawa Kuno: Data Arkeologi – Sejarah Abad IX-X Masehi’.

Oh iya, meski rajamangsa adalah deretan menu makanan yang disajikan khusus untuk raja saja, tapi di beberapa kesempatan orang luar lingkungan istana juga bisa menyantapnya. Misalnya saja seperti mereka penerima anugerah (waranugraha) dalam upacara sima.

Itu ditegaskan Arkeolog Supratikno Rahardjo dalam ‘Peradaban Jawa’. Dia bilang, hak mengonsumsi makanan (rajamangsa) bisa menjadi kesempatan untuk mereka yang punya hak istimewa dan ini dikeluarkan sejak masa Mpu Sindok hingga masa Majapahit.

‘Anugerah’ sendiri adalah hak istimewa untuk diri si penerima dan keluarganya diperkenankan untuk menyantap menu rajamangsa tersebut. Demikian kata Dwi.

 

 

O.J.

Foto: Malang Times – JatimTimes / Patembayan Citralekha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here