Makna dan Tradisi Lebaran Ketupat di Indonesia

0
56
lebaran ketupat
Ilustrasi Ketupat - wikipedia.

KETUPAT selalu identik dengan momen Lebaran. Kudapan yang berasal dari beras dan dibungkus dalam anyaman daun kelapa ini menjadi makanan wajib bagi masyarakat Indonesia saat hari Lebaran. Proses memasak ketupat yang memakan waktu cukup lama (sekitar 4 – 5 jam) membuat ketupat tidak mudah basi. Agar semakin lengkap ketupat akan disajikan bersama dengan lauk bersantan seperti opor ayam, rendang, atau sambal goreng ati.

Dibalik lezatnya ketupat ternyata ada makna dan filosofi yang lebih dari sekadar kudapan khas lebaran. Ketupat atau ‘Kupat’ berarti mengaku lepat atau mengakui kesalahan. Makan ketupat setelah tradisi halal bialal di Idul Fitri melambangkan saling memafkan dan mengakui kesalahan.

Tidak hanya itu lauk bersantan yang kerap menjadi teman makan ketupat juga menyimpan makna tersendiri. Bahkan ada peribahasa atau pantun Jawa yang berbunyi ‘kupat kalian santen, sadaya ngaku lepat nyuhunkeun dihapunten’ yang kurang lebih bermakna : ‘semua mengaku bersalah mohon dimaafkan. 

anyaman ketupat
Anyaman Ketupat

Uniknya di beberapa daerah Indonesia, ketupat tidak hanya disajikan tepat saat hari Lebaran saja. Mereka justru menyajikan dan makan ketupat sebanyak dua kali. Saat Idul Fitri yang bertepat dengan 1 Syawal dan sepekan sesudahnya pada 8 Syawal. Tradisi memakan ketupat sepekan sesudah Idul Fitri ini dikenal dengan istilah Lebaran ketupat.

Sesuai namanya, Lebaran ketupat sendiri mengacu pada hidangan utama yang disajikan berupa ketupat. Asal mula tradisi Lebaran ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Salah satu tokoh penyebar agama Islam di Jawa ini mengenalkan tradisi Bakda Lebaran yang diartikan sebagai perayaan pada Idul Fitri dan Bakda kupat yang dirayakan sepekan setelah Idul Fitri.

Biasanya saat Lebaran ketupat rumah-rumah warga akan sibuk menganyam janur ketupat dan memasaknya sepekan setelah lebaran untuk kemudian dibagikan kepada tetangga dan saudara sebagai simbol kebersamaan.

Hingga kini tradisi Lebaran ketupat tersebut masih dipertahankan di berbagai daerah seperti Trenggalek, Kudus, Lombok, hingga Manado. Bahkan beberapa di antaranya masih mempertahankan tradisi Lebaran ketupat secara meriah hingga saat ini.

Misalnya saja  prosesi kirab gunungan Seribu Ketupat yang dilaksanakan di Kudus, Jawa Tengah dan tradisi Nyangkar berupa arak-arakan cidomo hias yang mengangkut dulang berisi ketupat di Lombok. Selain mempertahankan kearifan lokal, tradisi Lebaran ketupat yang digelar meriah ini tentu dapat menjadi hiburan tersendiri bagi warga sekitar maupun wisatawan. (*)

 

Teks. Intan Widiastuti

 

LEAVE A REPLY