Wah! Ini Dia 10 Langkah Momen Mitoni atau Tingkepan

0
79

Masa-masa menjelang  kehadiran buah hati, adalah saat yang membahagiakan sekaligus mendebarkan. Ini dia momen Mitoni atau Tingkepan dari masyarakat Jawa.

Harapan akan kelancaran proses persalinan, keselamatan bayi dan ibu yang mengandung jadi doa yang tiada putus.

Nah, doa dan harapan itu oleh masyarakat Jawa diwujudkan dalam tradisi ‘Tujuh Bulanan’, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘mitoni’ atau ‘tingkepan.’

Kata ‘pitu’ itu selain mengandung arti tujuh, juga bermakna pitulung, yang berarti pertolongan.

Secara garis besar, acara ini berarti memohon pertolongan Tuhan demi keselamatan persalinan.

Oh ya, jangan salah, prosesi ini umumnya dilakukan pada kehamilan pertama saja.

Sepintas Tradisi Mitoni yang unik ini terlihat rumit, namun jika diamati seksama nggak seperti itu. Ini terlihat dari perlengkapan yang hampir semuanya murah dan mudah didapat. Kalau pun harus bikin sendiri, juga nggak sulit.

Namun seiring zaman yang makin modern, eksistensi Tradisi Mitoni jadi terlupakan.

Yuk, bisa diintip nih proses apa saja buat Momen Mitoni alias Tujuh bulanan ini:

 

TATA CARA TINGKEPAN/TUJUH BULANAN

 

1. Sungkeman

Calon ayah dan calon ibu barengan melakukan sungkem, mohon doa restu untuk keselamatan dan kelancaran persalinan. Diawali sungkeman ke orang tua pihak calon ibu, disusul sungkem ke orang tua pihak calon ayah.

 

 

2. Siraman

Calon ibu  yang sudah berganti pakaian dan memakai kemben berhias ‘Rimo melati’  dibimbing menuju tenda siraman.

Air siraman bertabur kembang setaman (melati, mawar, kenanga) pertama kali disiramkan oleh ayah yang disusul oleh ibu, lalu orang tua pihak calon ayah dan para sesepuh.

 

 3. Peluncuran Telur

Juru pandu menjatuhkan telur melintasi kain putih yang dililitkan kendur pada bagian perut calon ibu. Telur yang jatuh dan pecah menjadi simbol dan harapan persalinan berjalan lancar tanpa halangan apapun.

 

 4. Membuka janur

Janur yang melilit perut sang calon ibu sebagai simbol penghalang jalan bayi menuju kelahiran, dilepas calon ayah lalu dibuang jauh keluar rumah agar tak ada lagi yang mempersulit jalan lahirnya.

 

5. Brojolan

Eksistensi Cengkir Gading (kelapa muda warna gading) yang dilukis Dewi Kamaratih & Dewa Kamajaya. Harapan bila lahir seorang bayi wanita diharapkan menjadi wanita sejati (cantik lahir dan batin, cerdas & berbudi luhur).

Bila lahir seorang pria, harapannya menjadi pria bijaksana, pintar & berbudi luhur. Yang meluncurkan kelapa yaitu calon ayah sedangkan yg menerima calon nenek.

 

6. Ganti Busana 7 kali

Ritual unik ini calon ibu harus berganti busana hingga tujuh kali. Dari busana pertama hingga ke enam yang dipakai, hadirin yang datang harus bilang ‘Belum pantas’, baru pada busana ke tujuh calon ibu boleh bilang ‘Pantas’.

Ini menyimbolkan usia kandungan satu hingga enam bulan bayi belum ‘pantas’ dilahirkan karena proses bentukannya yang belum sempurna hingga sangat rawan jika dilahirkan. Pada usia tujuh bulan, barulah janin siap lahir.

 

 7. Angkreman

Calon ibu duduk di antara tumpukan kain dan berkotek layaknya ayam yang sedang mengerami telur diatas jerami, sedangkan calon ayah yang duduk tak jauh darinya diminta untuk berkokok keras menyahuti kotekan calon ibu.

Itu maksudnya sebagai lambang dia mengetahui kehamilan itu dan bertanggungjawab atas bayi dan ibu yang mengandung dengan menjaga dan mencari penghidupan bagi kesejahteraan keluarga.

 

8. Membelah Kelapa

Calon ayah membukakan jalan si jabang bayi supaya lahir pada jalannya. Konon jika kelapa yang belah airnya memuncrat, maka kemungkinan bayi yang dikandung laki-laki, sedang jika airnya merembes kemungkinan yang akan lahir adalah bayi perempuan.

 

 9. Potong Tumpeng

Sebagai ungkapan syukur kalau selamatan Tujuh Bulanan telah dilaksanakan dengan lancar, calon ayah menyuapi calon ibu.

Ini sebagai simbol dalam berumah-tangga suami wajib memenuhi kewajibannya ke calon ibu dan bayinya.

 

10. Jualan Rujak

Menghidangkan makanan kesenangan orang hamil yang dibuat terdiri dari 7 buah-buahan segar. Calon ayah dan calon ibu menjual rujak, sedangkan tamu-tamu membeli dengan uang kreweng (uang-uangan dari tanah liat).

 

 

 

 

 

Sumber: Mahligai 07/2007

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here