Nostalgia Permainan Tradisional di Hari Anak Nasional

0
38
permainan tradisional
Kiri. Yoyo - Kanan. Bunga Kertas

Tepat tanggal 23 Juli 2017 kemarin diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Bermula dari gagasan mantan presiden RI ke-2 yang melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa, akhirnya sejak tahun 1984  tiap tanggal 23 Juli dikukuhkan sebagai Hari Anak Nasional.

Omong-omong soal masa anak-anak, tentu tak bisa terlepas dengan permainan ya. Kalau anak-anak zaman dahulu sangat akrab dengan permainan tradisional, namun tidak demikian di zaman serba canggih seperti saat ini. Permainan tradisional anak-anak sudah terasa sulit ditemukan. Coba Anda tanyakan pada anak-anak sekolah dasar, seberapa seringkah mereka bermain permainan tradisional seperti congklak, kelereng ataupun gangsing?

Kemajuan teknologi memang tak bisa begitu saja disalahkan sebagai biang keladi terlupakannya mainan tradisional anak ini. Namun demikian, tak dipungkiri bila anak-anak zaman sekarang lebih cenderung menyukai permainan elektronik seperti video game, game online dan lain sebagainya.

Padahal beberapa mainan tradisional seperti kelereng ataupun bola bekel mampu melatih kemampuan motorik dan juga daya pikir seorang anak. Tidak hanya itu, entah siapa yang memulai, aneka permainan tradisional tersebut ternyata juga mengandung sejarah dan nilai-nilai positif bagi anak-anak. Mari kita bernostalgia dengan permaianan anak di sini!

Memulai Permainan dengan Hompimpa

Hompimpa Alaium Gambreng” masih ingat dengan ‘mantra’ yang sering kita rapalkan sebelum memulai permainan saat masa anak-anak dahulu? Dalam bahasa Sansekerta, kalimat tersebut ternyata memiliki arti “Dari Tuhan kembali ke Tuhan, Mari Bermain!” Selain sebagai penentu pemenang dalam kelompok bermain, Ini juga menjadi simbol musyawarah yang tinggi. Secara tak langsung Hompimpa juga mengajarkan anak-anak akan pentingnya menerima kesepakatan dalam keputusan bersama.

Permainan Anak Congklak

Di daerah Jawa, congklak biasa disebut dakon. Diduga berasal dari Jordania sekitar 7000 tahun SM. Keberadaannya di tanah air kemungkinan dibawa oleh saudagar-saudagar Arab lewat jalur perdagangan. Permainan congklak ini sendiri dapat mengasah kemampuan dalam menyusun stategi.

Permainan Anak Gasing

permainan anak gasing
Gasing – Foto. Andri Cipto Utomo. Dok. Majalah Mahligai Edisi ke-10

Pukang, panggal, begasing, apiong adalah sebutan lain gangsing. Gasing pun menjelma dengan bentuk yang beraneka ragam, ada yang bentuk piring terbang, bulat lonjong, silinder maupun kerucut. Cara mainnya, tali dililitkan pada tangkai gasing. Kemudian dilemparkan ke tanah/ubin hingga gasing berputar. Dalam permainan ini, gasing siapa yang paling lama berputar ialah yang keluar sebagai pemenang.

Permainan Anak Yoyo

Dipercaya berasal dari Cina, permainan ini mulai dikenal  pada 1920. Menurut situs Wikipedia, Yoyo pertama kali dibuat orang Yunani pada tahun 500 SM. Akan tetapi, permainan yoyo populer di beberapa bagian dunia. Bahkan tren permainan Yoyo pun semakin populer sejak munculnya film berjudul Blazing Teens 2 pada tahun 2008.

Ada beberapa teknik memainkan permainan ini. Namun secara dasar, cara memainkannya adalah dengan mengaitkan tali pengait yoyo dengan salah satu jari. Kemudian melemparkannya ke bawah.

Permainan Anak Bekelan

permainan anak bekelan
Bekelan – Foto. Andri Cipto Utomo. Dok. Majalah Mahligai Edisi ke-10
Bekelan berasal dari bahasa Belanda, ‘bikkelen’ yang berati ‘semangat juang’. Dalam tradisi Yogyakarta, permainan ini mirip dengan gathengan. Hanya saja, gathengan menggunakan batu kerikil sebagai biji bekel. Pada awalnya biji bekel dibuat dari engsel tulang tumit kaki belakang domba. Namun kini biji bekel terbuat dari logam. Bisa berjumlah empat, enam, atau bahkan dua belas.

Bekalan memang identik dengan permainan anak perempuan. Cara bermain bekelan ialah dengan melemparkan bola bekel dan membolak-balikan biji bekel sesuai aturan. Permainan ini menjadi salah satu jenis permainan tradisional yang mampu mengasah ketangkasan seorang anak.

Permainan Anak Kelereng

permainan anak kelereng
Foto. Andri Cipto Utomo. Dok. Majalah Mahligai Edisi ke-10

Orang Betawi menyebutnya sebagai gundu. Sementara di Jawa, kelereng biasa disebut keneker. Berdasarkan catatan sejarah, kelereng bahkan sudah ada sejak zaman Mesir Kuno tepatnya tahun 3000 SM. Pada masa Romawi, kelereng bahkan dianggap sebagai simbol persahabatan yang dibagikan menjelang perayaan Natal.

Di masa modern, pembuatan kelereng dengan bahan kaca ditemukan pada 1864 di Jerman. Barulah produksi kelereng dengan beranek warna diproduksi di Amerika dan Eropa. Pada permainan tradisional, kelereng dimainkan dengan cara disentil hingga mengenai kelereng lain.(*)

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY