Ah, Saatnya Menikmati Ukiran Sejarah lewat Perhiasan

0
113

Siapa yang tak suka perhiasan? Perhiasan bisa bikin penampilan kita jadi cantik, mantap dan menawan. Kalau perhiasan etnik tradisional?

Sebelumnya, di balik indahnya warisan perhiasan etnik nusantara, ‘terukir’ tradisi dan sejarah peradaban akan suatu masa di dalamnya.

Kini perhiasan etnik antik kian langka dijumpa. Nggak heran, geliat membuat replika perhiasan tradisional nusantara, kian mendapat tempat di hati para pecinta budaya.

Kalung etnik Bugis, Sulawesi Selatan dengan liontin ukuran sedang yang cukup masif, bersiluet bunga motif sulur-suluran. Kultur Eropa turut mewarnai uniknya perhiasan asal Bugis, berupa kalung Kanatar dimana kedua ujungnya berbentuk siluet bunga Tulip.

Pengaruh kultur Cina memperkaya perhiasan dari Bugis, terlihat pada liontin bersiluet kepala naga.

Baca juga Ragam Jenis Wayang di Indonesia Bukan Hanya dari Kulit Loh!

Sesuai bentuknya, biasanya disebut kalung Sukun Kupu, merupakan replika perhiasan dari etnik Jambi. Siluet sayap kupu-kupu juga diwujudkan pada liontin kalung, dengan hiasan batu-batuan dan ornamen sulur, menggambarkan percampuran tradisi lokal Jambi dengan pengaruh kultur India dan Eropa.

Perhiasan dari bahan perak, tak kalah cantiknya. Kalung panjang unik, bagian tengah bentuknya serupa rumah kepompong dengan ornamen ulir filigree, dari etnik Jambi.

Bros liontin silver 925 berbentuk Melati Madura dengan hiasan batu biru lapis Lazuli, dikelilingi batu-batu kecil citrine oranye dan kuning.

Baca juga Siap Jadi Cantik dengan Kopi Nusantara? Kenapa Nggak!

Terinspirasi oleh batik Mega Mendung Cirebon, perhiasan anting dan bros  ini dibuat dari materi silver 925, dengan taburan batu merah ruby.

Aceh pernah menjadi sentra persinggahan kapal-kapal dagang dari luar negeri, cukup banyak menyerap ‘percampuran’ budaya mulai dari Gujarat, India, bahkan Spanyol yang tergambar dalam berbagai perhiasan.

Ornamen bentuk bulan sabit maupun simbol-simbol kultur Islam mewarnai perhiasan khas Aceh; sementara motif sulur dan floral merupakan perpaduan dengan kultur Gujarat-India yang cukup kental. Cantiknya penampilan bros, tusuk rambut, gelang, hingga ikat pinggang yang lazim dikenakan oleh perempuan etnik Aceh.

Setelan choker dan anting-anting ‘’Leaf of Life’’ terinspirasi dari anting-anting kuno suku Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Terbuat dari silver 925 disepuh emas, dengan batuan ruby.

Tusuk konde silver 925 disepuh emas dengan manik rumbai ornamen etnik Sumatera Barat.

Perhiasan etnik Jawa antara lain berupa bros dan cincin menggambarkan perpaduan pengaruh kultur Hindu dan Eropa yang cukup kental, terwujud dalam siluet teratai serta hiasan batu-batuan.

 

 

 

Dwi Ani Parwati

Foto: Allan Likumahua – Perhiasan: Brian Stones, Manjusha, dan Ranina Jewelry

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here