Serunya Prosesi Perkawinan Adat betawi

0
1563
Ilustrasi Pernikahan Betawi Foto: Dok. Mahligai

Budaya Betawi memang sangat kental dengan kehidupan di Jakarta. Keseniannya, kulinernya, hingga logat bahasanya. Semua begitu familiar karena sering dilihat dan didengar. Tapi, bagaimana dengan perkawinan adat Betawi? Apakah masih sama heboh dan meriahnya dengan keseniannya?

Berikut penjelasan proses panjang adat pengantin Betawi sebelum akhirnya tinggal dalam satu atap.

Ngedelengin
Inilah tahap awal pihak keluarga calon pengantin pria untuk melakukan pendekatan dan penelaahan terhadap seorang gadis sebagai calon menantu. Hal itu dilakukan untuk mengetahui latar belakang si gadis calon menantu, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Dahulu tugas Ngedelengin dipercayakan kepada seseorang yang disebut Mak Comblang yang memiliki peran penting. Tugasnya, sebagai penghubung atau perantara pihak calon pengantin pria dan keluarga calon pengantin wanita.

Ketika sudah mantap untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, Mak Comblang akan mempertemukan kedua belah pihak keluarga dan saling mengenalkan. Biasanya, Mak Comblang merupakan encang alias paman atau encing alias bibi dari calon mempelai pria.

Uniknya, pada malam ngedelengin, si Mak comblang akan menggantungkan ikan bandeng di depan rumah si cewek. Kalau orang lewat, mereka bisa tahu kalau si perempuan ini sudah ada yang punya.

Seiring kemajuan zaman,  peran Mak Comblang dan proses Ngedelengin sudah jarang diperlukan. Pasalnya, si pria sudah bisa menemukan tambatan hati sendiri, sekaligus memiliki kesanggupan untuk menentukan gadis pilihan membangun rumahtangga.

Ngelamar
Setelah Ngedengin tuntas, pihak keluarga laki-laki akan menyambangi rumah keluarga perempuan untuk melamar. Pada prosesi itu, pihak laki-laki akan membawa tande putus kepada pihak wanita sebagai simbol pertunangan. Selain menentukan waktu penyelenggaraan pernikahan, kedua keluarga juga membicarakan mas kawin yang harus diserahkan pihak laki-laki untuk meminang sang perempuan.

Dalam tradisi Betawi ada tradisi unik dalam penyampaian permintaan mas kawin atau mahar. Biasanya disampaikan dalam bahasa kiasan. Misalnya, bila Mak Comblang menyebut mahar ‘’mate bandeng seperangkat’’, artinya mahar yang diinginkan pihak calone none pengantin adalah perhiasan emas bermata berlian.

Jika Mak Comblang menyatakan ‘’mate kembung seperangkat, berarti yang diinginkan sebagai mahar atau mas kawin adalah seperangkat perhiasan emas bermata intan asli yang ukuran cukup besar. Nah, bagi kalian yang ‘berhadapan’ dengan calon mantu adat Bertawi, tentu perlu paham dengan kata-kata sandi atau kiasan tersebut. Jangan sampai salah tafsir, karena bisa runyam di tengah jalan.

Pada saat itu juga dibahas soal rencana pelaksanaan pesta, akan berlangusng berapa lama (dalam tradisi Betawi, pesta pernikahan bisa beberapa hari), bahkan hingga hiburan saat pernikahan seperti apa.

Malam Pacar

Ilustrasi Pengantin Betaw-Foto: Dokumentasi Mahligai
Ilustrasi Pengantin Betawi-Foto: Dokumentasi Mahligai


Malam yang berlangsung meriah, lantaran calon mempelai perempuan menyiapkan diri, baik mental maupun fisik. Atau kalau istilah di adat Jawa disebut malam midodareni, kalau dalam adat Minang disebut malam bainai. Disebut malam pacar, karena none calon pengantin menjalani ritual diberi hiasan daun pacar tumbuk pada ujung jari tangannya, juga diberi hiasan henna atau motif ukiran artistik pada punggung telapak tangannya.

Calon mempelai wanita juga menjalani ritual Ngerik yakni membersihkan bulu-bulu kalong yang tumbuh di sekitar kening, pelipis, tengkuk dan leher, serta bagian tubuh lainnya. Pendek kata, malam pacar merupakan malam persiapan sang none calon pengantin agar esok hari saat akad nikah dan perhelatan pernikahan tampak kinclong sempurna.

Ngerudat
Merupakan prosesi iring-iringan rombongan calon mempelai pria menuju kediaman calon pengantin wanita. Prosesi ini berlangsung menjelang upacara Akad Nikah. Keberangkatan rombongan ini disebut rudat yang artinya mengiringi calon tuan mantu menuju rumah calon none mantu untuk melaksanakan pernikahan. Rombongan akan membawa perlengkapan dan barang-barang seserahan untuk calon mempelai wanita.

Buka Palang Pintu
Prosesi selanjutnya adalah buka palang pintu. Tahap inilah yang biasanya ditayangkan di televisi. Sebelum masuk ke rumah perempuan, arak-arakan keluarga laki-laki melakukan beberapa prosesi. Sambil membawa seserahan dan membawa roti buaya, keluarga pria biasanya diiringi tanjidor dan iring-iringan lainnya. Roti Buaya menjadi salah satu tradisi dan khas budaya Betawi, sebagai simbol dan harapan agar pasangan mempelai memiliki jiwa yang ulet, panjang umur, kuat, juga sabar dan setia.

Kemudian, tiba di depan rumah perempuan, dilakukan adu pantun dan silat. Pada adu silat ini, perwakilan dari keluarga pria yang menjadi juaranya. Kono katanya, itu melambangkan kalau si pria sudah ‘lolos ujian’ dan bisa melindungi keluarganya dari segala rintangan. Setelah tiu, baru diterima ke rumah perempuan. Kemudian berlangsung acara Akad Nikah.

Setelah rangkaian upacara akad nikah, baru digelar pesta pernikahan ala adat Betawi. Biasanya pesta digelar selama 2 atau 3 hari berturut-turut sambil menyalakan petasan dan alat musik Betawi lainnya.

Malam Negor
Setelah menikah, secara adat pasangan Betawi tidak langsung tinggal satu atap dan tidak boleh berhubungan badan layaknya suami istri. Malam sehari setelah pernikahan, suami bersama teman-temannya akan mendatangi rumah ‏istrinya. Si laki-laki masuk ke dalam rumah, sedangkan teman-temannya menunggu di luar. Di sini si istri diam saja di kamar bahkan tidak bicara atau bertegur sapa dengan suami.

Si suami harus merayunya sampai sang gadis yang telah menjadi istrinya mau bertegur sapa. Kalau sudah ngomong, senang, suaminya keluar  dari kamar dan nyamperin teman-temannya dengan wajah gembira. Namun, tradisi ini merupakan kebiasaan zaman dulu kala. Ketika sang gadis ‘dijodohkan’ dengan sang pria, sehingga perlu beberapa hari untuk ‘lebih terbiasa dan mengenal’ sebelum akhirnya tinggal serumah sebagai suami istri.

Pulang Tige Hari
Setelah tiga hari menikah, barulah suami menjemput istri untuk tinggal di rumahnya. Biasanya sambil membawa aneka jenis makanan dan mengadakan selamatan. Baru deh mereka tinggal satu atap.

Very Barus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here