Tari Tortor Dalam Pernikahan Adat Batak di Sumatera Utara

0
379
Tari Tortor
Instagram/ namorapictures

Salah satu kebudayaan yang kerap dihadirkan dalam pesta pernikahan adat yang besar (Horja Godang) adalah tari tortor. Hingga kini, tari tortor dikenal sebagai tarian yang gerakannya seirama dengan iringan musik dari alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, dan ogung. Tapi tahukah Anda jika tortor yang dilakukan dengan gerakan-gerakan yang khas tersebut memiliki sifat, makna dan tujuan-tujuan tertentu?

Sejarah Tarian Tortor

Dalam masyarakat adat Mandailing, tari tortor awalnya hanyalah pelengkap gondang (uning-uningan). Batak Mandailing adalah etnis asli Tapanuli Selatan, salah satu Kabupaten di wilayah Sumatera Utara. Selain itu, tari totor juga dapat dijumpai di daerah Humbang Hasundutan, Toba Samosir dan Samosir. Kata tortor konon berasal dari suara entakan kaki penarinya saat menari di atas papan rumah adat Batak.

Pada upacara-upcara adat di Mandailing, di mana uning-uningan dibunyikan (margondang), selalu dilengkapi dengan acara manortor. Namun dalam perkembangannya, manortor juga dilakukan pada acara-acara hiburan untuk beberapa kondisi, termasuk saat resepsi pernikahan. Pesta pernikahan yang diselenggarakanpun harus besar, atau disebut Horja Godang. Biasanya pesta digelar selama satu hari satu malam, tiga hari tiga malam, atau tujuh hari tujuh malam.

Tari Tortor
Instagram/ bonapasogit_pic

Jika dilihat, konsep margondang saat ini terbagi menjadi tiga, antara lain:

Margondang pesta, yakni suatu kegiatan yang menyertakan gondang guna mengungkapkan kegembiraan atau sebagai media pengembira, misalnya gondang naposo, godang mangompoi jabu (memasuki rumah) dan godang pembangunan gereja.

Margondang adat, yaitu suatu kegiatan yang menyertakan godang sebagai aktualisasi dari sistem kekerabatan dalihan na tolu, misalnya: godang pangolin anak (perkawinan), gondang saur matua (kematian), gondang mamampe marga (pemberian marga), dsb.

Margondang Religi, yang dilakukan setiap upacara keagamaan penganut batak purba, misalnya parmalim, parbaringin, parhudamdam Siraja Batak.

Tari Tortor dalam Pernikahan Adat

Dalam upacara adat perkawinan yang disebut horja haroan botu (pesta kedatangan penngantin di kediaman laki-laki), manortor baru boleh ditarikan setelah selesai penyampaian pidato adat (maralok-alok). Manortor dalam suatu pernikahan adat tidak boleh dilakukan berpasangan laki-laki dan perempuan, kecuali saat tortor naposo nauli bulung (tortor muda-mudi), namun dengan syarat penari berasal dari marga yang berbeda.

Tari Tortor
Instagram/ argareza

Tari totor dimulai saat pengantin mulai memasuki tempat pesta (adat na gok). Pengantin berdiri bersama keluarga pihak laki-laki di pintu masuk. Kemudian dipanggil keluarga pihak perempuan (hula-hula) untuk memasuki ruangan diikuti para tamu undangan dan diiringi dengan musik sambil menyalami pengantin dan keluarganya. Kemudian, seluruh keluarga akan manortor, baik dari pihak boru-boru, hula-hula maupun dongan sabutuha.

Menariknya, setiap manortor (menari), tidak terdapat penari (panortor) khusus, semua orang bisa menari bersama, sehingga terkesan meriah dan intim. Namun, setiap orang yang hadir dalam pesta pernikahan adat harus mengetahui posisi yang tepat saat tortor berlangsung.

Jika melihat upacara adat pernikahan Batak Toba, Anda akan melihat dua gerombolan yang manortor berbaris, di sebelah kanan merupakan pihak hula-hula dan sebelah kiri pihak boru. Sedangkan tamu undangan yang hadir akan ikut manortor dalam beberapa kelompok. Dalam upacara atau pesta, tortor yang wajib dilakukan adalah tortor mula-mula, tortor somba, tortor mangaliat dan tortor hasatan/sitio-tio.

ELSA FATURAHMAH

Sumber: Warisan Budaya Tak Benda Indonesia: Penetapan Tahun 2013 Buku Satu dan sumber lain

LEAVE A REPLY