Tenun Ikat Kalimantan yang Memikat

0
995
Ilustrasi kain tenun-Foto: Dokumentasi Majalah Mahligai

Budaya menenun  benang menjadi selembar kain diperkirakan usianya sama dengan sejarah peradaban manusia. Tenun ikat berasal dari bahasa Melayu yang berarti mengikat atau membalut. Kain tradisonal ini memang memiliki simbol-simbol tertentu untuk menggambarkan status, kekayaan, dan kehormatan. Di beberapa kebudayaan dunia, suku-suku tertentu percaya bahwa kain tersebut me-nyimpan kekuatan magis.

Konon, menenun yang telah dilakukan sejak masa purba terinspirasi dari pengamatan pada jaring laba-laba atau sarang burung. Akti-vitas menenun kemudian tersebar ke berbagai tempat di dunia, termasuk ke pelosok wilayah Indonesia. Salah satu ‘surga’ keindahan motif kain tenun ada di Kalimantan. Memiliki motif unik dan sangat khas bahan material pembuatnya.

Banyaknya pengrajin tenun di Pulau Kalimantan, membuatnya menjadi salah satu produsen tenun yang diperhitungkan di tanah air. Hampir di setiap daerah terdapat pengrajin tenun dengan kualitas apik. Belum lagi jika berbicara tentang corak, sudah pasti tidak kalah beragamnya dengan tenun ikat pulau lain.

Beberapa contoh produksi tenun Kalimantan yang sudah diakui oleh mancanegara antara lain; tenun Sambas dan Sintang dari Kalimantan Barat, tenun Doyo dari Kalimantan Timur, tenun Pagatan dari Kalimantan Selatan dan masih banyak yang lain. Bahkan tenun Sambas, sempat mendapat klaim dari Malaysia. Hal ini membuktikan bahwa kain tenun asal Kalimantan sangat layak dijadikan harta budaya yang patut untuk dilestarikan.

Kain Tenun Ikat Doyo
Kain dari serat daun doyo ini merupakan hasil kerajinan yang hanya dibuat oleh wanita-wanita suku Dayak Benuaq yang tinggal di Tanjung Isuy, Kali-mantan Timur. Biasanya motif ikat Doyo berbentuk bunga, daun serta hewan yang hidup di alam sekitar Tanjung Isuy. Warna kain sangat khas, yakni merah, kuning, coklat dan kehijauan, kesemuanya dibuat dari pewarna alam.

Tenun Ikat Sintang
Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, memiliki karya tenun ikat unik sebagai kain adat tradisional. Kain ini kerap dipergunakan untuk upa-cara adat, upacara panen, dan sebagainya. Pola-pola yang sangat menarik dan merupakan ciri khas tenun daerah Sintang adalah Nabau, Naga, Buaya, Pucuk Rebung, Naga, dan beberapa motif orang-orangan hingga motif pepohonan.  Kain tenun ikat dibuat masih dalam skala sebagai pengisi waktu luang –terutama para wanita Dayak dalam kesehariannya.

 

LEAVE A REPLY