Wow! Ini 4 Tradisi Malam Menjelang Lepas Masa Lajang

0
451

Setiap ‘langkah’ dalam sebuah upacara adat pernikahan, tentu memiliki makna berarti. Doa dan harapan yang terselip dalam setiap prosesi diharapkan mampu menjadi bekal bagi kedua mempelai untuk melangkah ke jenjang rumah tangga.

Ada malam midodareni, mappacci, malam bainai serta ngeyeuk sereuh, tahapan prosesi dari beberapa adat pernikahan yang biasanya dilakukan sehari sebelum upacara akad nikah atau pemberkatan.

Beragam tata cara pada malam menjelang melepas masa lajang dengan adat yang berbeda, namun bermakna baik dilakukan untuk mendapatkan sebuah kesempurnaan.

 

Midodareni

Dalam bahasa Jawa, midodareni berasal dari kata ‘widodari’ yang artinya ‘bidadari cantik dari surga dan sangat harum.’  Dipercaya, saat itu para bidadari turun dari khayangan untuk memberi restu pernikahan esok hari.

Biasanya midodareni dilakukan malam sehari sebelum pernikahan, malam terakhir sebelum sang pengantin putri melepas masa lajangnya. Malam ini juga bermakna memohon berkah dari Tuhan untuk kelancaran proses pernikahan yang dilakukan pada keesokan hari.

Malam ini, calon pengantin putri tak diperkenankan bertemu dengan calon pengantin pria. Dengan tata rias yang sangat tipis tanpa mengenakan perhiasan, ia berdiam diri di kamar ditemani oleh beberapa kerabat wanita dan sesepuh memberi wejangan berkaitan dengan kehidupan rumah tangganya kelak.

Sementara di luar kamar, ada beberapa prosesi yang harus dilakukan calon pengantin pria beserta keluarga, yaitu:

  • Seserahan

Dengan menggunakan busana Jawa beskap landung namun tanpa keris, calon pengantin pria beserta dengan rombongan keluarga mengunjungi kediaman calon pengantin wanita  untuk menyerahkan seserahan.  Seserahan dimaksudkan sebagai sebuah wujud tanda kasih ikatan kedua keluarga.

  • Tantingan

Saat dimana orangtua calon pengantin wanita mendatangi putrinya yang berada di kamar pengantin, untuk menanyakan kembali kemantapan hati sang putri untuk menikah esok hari. Tradisi unik, karena calon pengantin wanita akan menjawab kematangan hatinya dan kemudian meminta orangtuanya untuk dicarikan sepasang kembar mayang sebagai persyaratan pernikahan.

  • Jonggolan

Disinilah kesiapan dan kemantapan hati calon pengantin pria ‘diuji’. Calon pengantin pria akan menjalani ‘nyantri’, yakni diberi nasihat dan wejangan dalam menjalani kehidupan tumah tangganya kelak.

 

Baca juga Wow! Ternyata Baju Pengantin Ini Pusaka Tradisional Menawan

 

  • Angsul-angsul

Setelah beramah-tamah dengan keluarga CPW, CPP pun berpamitan. Inilah akhir dari upacara midodareni. Sang ibu calon pengantin wanita memberikan bingkisan balasan yang diserahkan kepada pihak calon pengantin pria. Selain itu, juga diserahkan perlengkapan busana yang akan dikenakan oleh mempelai pria pada upacara akad nikah keesokan harinya.

 

MAPPACCI

Adat Bugis mengenal mappacci, sedangkan adat Makassar mengenalnya sebagai akkoronitigi  artinya malam menyucikan diri.

Sebuah prosesi pernikahan yang dilakukan pada malam sebelum akad nikah di masing-masing kediaman calon pengantin.

Biasanya rumah keduanya ditata dan dihias sedemikian rupa dengan dekorasi khas Bugis Makassar yang terdiri dari pelaminan, lila-lila, meja oshin lengkap dengan bosara serta perlengkapan mappacci.

Mappacci sendiri berarti ‘pacar’, tumbuhan yang daunnya dihaluskan untuk memerahkan kuku. Tumbukan daun pacar konon dipercaya memiliki sifat magis dan melambangkan kesucian.

Diletakkan di tangan calon mempelai oleh orang-orang yang dianggap punya kedudukan sosial  yang baik serta memiliki kehidupan rumah tangga langgeng bahagia.

Saat prosesi berlangsung, CPW menggunakan baju bodo dengan sarung lipa yang terbuat dari kain penuh benang emas atau perak, tanpa perhiasan lengkap. Sedangkan calon mempelai pria mengenakan jas biasa dengan sarung sutera serta songko pamiring (peci penutup kepala dianyam dengan benang emas).

 

Ada beberapa perlengkapan yang disiapkan untuk prosesi ini, yaitu:

  • Bantal Diletakkan di depan calon pengantin. Melambangkan penghormatan atau martabat.
  • Sarung sutera (lipa sabbe). Sebanyak 7 lembar ditata di atas bantal, melambangkan harga diri, ketekunan dan kesabaran gadis-gadis Bugis Makasar yang memiliki tradisi menenun sarung sutera.
  • Pucuk pohon pisang melambangkan kehidupan yang berkesinambungan.
  • Daun nangka beberapa lembar, melambangkan harapan atas cita-cita.
  • Daun pacci atau daun pacar melambangkan kebersihan dan kesucian
  • Lilin ukuran besar yang telah dihias melambangkan penerangan
  • Benno (bennte). Beras yang digoreng tanpa minyak sampai mekar mengandung harapan agar mempelai mudah rezekinya serta mapan rumah tangganya.
  • Pisang raja. Mengandung hikmah agar kedua keluarga, khususnya kedua calon pengantin, memiliki  jiwa yang sabar
  • Nasi ketan melambangkan persaudaraan yang tidak terpisah
  • Telur mauled, telur dimasak yang diberi warna-warni, ditusuk bambu semacam tusuk sate, lalu dihias kertas krep, kemudian ditancapkan beberapa puluh bambu pada pohon pisang yang dibungus kertas hijau

 

Proses mappacci dimulai apabila sanak saudara atau para undangan yang diberi mandat untuk meletakkan pacci telah tiba. Dimulai dengan pembacaan Shalawat Nabi, kemudian proses peletakan pacci dimulai oleh anrong bunting (juru rias pengantin yang biasanya juga menjadi juru bicara pengantin) yang kemudian diikuti oleh sanak keluarga.

Para undangan dipanggil oleh gadis-gadis pembawa lilin yang menjemput mereka dan memandu menuju pelaminan. Mappacci ini diakhiri dengan peletakan pacci oleh kedua orangtua tercinta dan ditutup dengan doa.

 

 

Bersambung

 

 

 

 

 

Theresia Triomegani

Foto: Dok. Mahligai

berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here