Wah! Ini Keseruan Tradisi Maudu’ Lompoa dari Sulawesi Selatan

0
16

Ngomongin keramaian, yang namanya tradisi nusantara pasti seru-seru! Termasuk tradisi Maudu’ Lompoa ini, nih… Sejauh apa keseruannya, ya?

Setiap daerah pasti punya tradisi dan budaya yang berbeda-beda. Masing-masing tradisi tersebut selalu dirayakan dengan cara yang berbeda-beda juga.

Itu sebabnya kenapa Indonesia dikenal dengan keaneka-ragaman budayanya. Bahkan perayaan tradisi-tradisi itu bisa menjadi salah satu agenda wisata yang mengundang banyak turis lokal dan manca negara untuk datang dan melihat langsung perayaan tradisi tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh warga Takalar, Sulawesi Selatan. Tradisi yang sangat kental dengan budaya Takalar adalah perayaan “Maudu’ Lompoa”.

Maudu’ Lompoa sendiri adalah tradisi maulid yang dirayakan warga Takalar guna memperingati harinya Nabi muhammad SAW. Uniknya, perayaan ini diselenggarakan di Sungai Cikoang.

Keseruannya terletak pada puluhan pemuda bergotong royong mengarak julung-julung (replika kapal).

Julung-julung ini berisikan hidangan makanan khas berupa nasi pamatara (setengah matang) beserta lauk pauknya yang didominasi ayam kampung dan telur warna-warni serta  hiasan kain khas Sulawesi beraneka warna juga aksesori lainnya.

Mereka semua menuju pinggir Sungai Cikoang pada puncak perayaan Maudu Lompoa di Kecamatan Mangarabombang, Desa Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan! Wah …

 

Makna Tradisi

Tradisi ini ditujukan untuk menanamkan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Maudu Lompoa Cikoang merupakan pesta keagamaan masyarakat Cikoang yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang terus dilestarikan turun-temurun.

Pelaksanaan Maudu Lompoa mempunyai ritual-ritual dan prosesi adat yang dilaksanakan selama 40 hari sebelum puncak

Sebelum perayaan ini digelar, ada beberapa rangkaian acara yang harus dilakukan untuk siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam acara Maudu’ Lompoa tersebut ini.

Misalnya saja, menyediakan ayam, beras, minyak kelapa, telur, perahu, panggung upacara, lapangan upacara, bembengan(hiasan warna-warni) dan kendawari.

Uniknya lagi, ayam yang akan dipersembahkan harus sudah dikebiri minimal sebulan sebelum perayaan digelar.

Kemudian, ayam-ayam tersebut dimasukkan ke dalam kandang dirawat dan makanannya pun harus diperhatikan agar tidak menyentuh makanan yang dianggap najis.

Menjelang perayaan, ayam yang sudah dikebiri dan terisolasi tadi akan dipersembahkan pada perayaan Maudu’ Lompoa.

 

Baca Selain Lulur, Ini Ritual Perawatan Pra-Nikah Calon Pengantin Wanita

 

Syarat lainnya, ayam yang akan dipersembahkan tersebut tidak boleh disembelih orang sembarangan. Harus disembelih oleh anrongguru atau tokoh dari keluarga Sayyid. Atau orang yang memimpin prosesi upacaya tersebut.

Selain ayam, persembahan berupa beras juga bukan beras sembarangan. Beras yang hendak dipersembahkan harus diproses sendiri.

Mulai dari padi yang sudah menguning dikeringkan, lalu ditumbuh pada sebuah lesung yang juga harus sudah dibersihkan. Bahkan, agar tidak mengenai tanah, lesung tersebut harus dipagari.

Orang yang menumbuk padi tadi juga tidak boleh menaikkan kakinya di atas lesung. Jika pada kebiasaan masyarakat setempat saat menumbuk padi, kaki mereka biasanya berada diatas lesung agar menahan lesung tidak goyang.

Tapi, untuk menumbuh beras yang akan dipersembahakn pada acara Maudu’ Lompoa, hal tersebut tidak boleh dilakukan. Karena itu sudah melanggar persyaratan. Padi yang ditumbuh harus ditumbuh secara perlahan-lahan untuk menjaga agar pagi-pagi tersebut tidak terjatuh ke tanah.

Bahkan sebiji padi pun diharamkan terjatuh ke tanah. Jika padi sudah ditumbuk dan berubah menjadi beras, maka ampas-ampas padi harus dikumpulkan baik-baik pada tempat yang tidak mudah kena kotoran sampai selesai dibacakannya surat Rate’ atau kitab Maudu’.

Ampasnya harus dikumpul baik-baik pada tempat yang tidak mudah kena kotoran sampai selesainya dibaca Surat Rate’ (Kitab Maudu’). Kenapa harus sampai selesai dibacakan kitab tersebut? Karena kitab Maudu menceritakan kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad dan juga riwayat datangnya agama Islam yang dibawakan oleh Sayyid Jalaluddin.

(bersambung)

 

 

 

Tim Mahligai Indonesia

Foto: TirtoID

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here