Tradisi Memanah dari Kerajaan Mataram

0
855
Tradisi Memanah
Jemaparingan - Mahligai

Tradisi memanah gaya Mataram ini sangat unik, dilakukan dalam posisi duduk bersila. Jelas beda dengan sikap badan dalam olah raga memanah pada umumnya, yang dilakukan dalam posisi badan tegak, menarik busur, serta memicingkan mata mengincar sasaran. Tradisi memanah gaya Mataram ini tentu bukan sekedar olah raga, melainkan juga olah jiwa dan tata krama.

Berapa sering Anda berkunjung ke kota gudeg Yogya? Sekali, dua kali, atau bahkan seringkali? Pernah mendengar (bahkan menyaksikan) jemparingan? Bila belum, berarti Anda perlu berkunjung lagi ke Yogya dan mengagendakan ‘kunjungan wisata budaya’ yang menjadi salah satu keunikan tradisi peninggalan semasa kerajaan Mataram berabad silam ini. Jemparingan !

Tradisi Memanah
Jemparingan – Mahligai

Begitu unik relung-relung tradisi dan budaya yang dimiliki kota Yogya. Berasal dari kata jemparing, yang dalam bahasa Jawa berarti panah. Jemparingan merupakan seni memanah Jawa kuno, atau juga bisa disebut ‘’panahan tradisional Mataram’’, karena menurut tutur sejarahnya, jemparing ini merupakan tradisi seni olah tubuh sekaligus tata krama yang dilakukan oleh keluarga Kerajaan Mataram. Kebudayaan memanah tradisional ala ‘Robin Hood’ ini merupakan salah satu kegiatan latihan para prajurit kerajaan semasa Keraton Mataram Yogya, berabad silam.

Beruntung sekali Mahligai berkesempatan menyaksikan atraksi jemparingan, dalam kunjungan ke Yogyakarta beberapa waktu silam. Tampak sejumlah pria berusia muda hingga paruh baya mengenakan busana tradisional Jawa adat surjan atau peranakan, kain jarit dan blangkon; duduk bersila dengan takzim di depan halaman Pendopo Agung Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.

Tradisi Memanah
Para Pria Duduk Bersila – Mahligai

Sembari duduk bersila, mereka menyiapkan anak panah untuk dipasang tepat di tengah tali busur panah. Terdengar suara peluit dan aba-aba dari seorang pria pemandu memberi komando kepada para ‘ksatria pemanah’ itu untuk berisap-siap membidik sasaran. Beberapa detik kemudian, tali busur yang telah dipasang anak panah pun ditarik dengan kekuatan yang terukur dan penuh konsentrasi.

Mata pun terpicing melihat secara cermat ke arah sasaran di depan mereka yang disebut bedor atau bandul –bentuknya bulatan seperti bola kecil warna merah yang dipasang berjarak sekitar 50 meter dari tempat para ‘ksatria’ berbusana beskap duduk bersila. Mata pun dipicingkan, mengarah tepat ke sasaran. Menarik nafas cukup dalam, dan beberapa detik kemudian anak-anak panah para ‘ksatria’ pun melesat cepat menuju sasaran.

Begitulah kegiatan rutin yang dilakukan para ‘ksatria’ ketika berlatih memanah menurut tradisi gaya Mataram. Royal Ambarrukmo Hotel, hotel legendaris yang berada di Yogyakarta ini bisa menyediakan area atau tempat untuk berlatih jemparingan, sesuai permintaan para tamu. Selain melestarikan tradisi Kraton Mataram, juga bisa menjadi agenda kegiatan dan hiburan wisata budaya yang unik.

Tradisi Memanah
Para ‘Ksatria’ Sedang Membidik Target – Mahligai

Kegiatan jemparingan langka tersebut biasanya dilakukan di depan halaman Pendopo Agung, bisa dicoba oleh para tamu hotel yang berminat.
Jemparingan bukan sekedar olah jasmani, melainkan juga sarat dengan nilai-nilai budaya, yaitu membutuhkan keahlian, kekuatan dan konsentrasi agar bisa memanah di bandul sasaran. Bidikan busur panah ketika berhasil menembus bandul sebagai sasaran, dimaknai bahwa sang ‘ksatria’ Mataram mampu mengasah dan mengolah rasa, serta membangun hubungan dengan sesuatu yang jauh dari dirinya.

Pada awalnya, jemparingan adalah kegiatan rutin latihan para prajurit kraton. Namun, di kemudian waktu kegiatan memanah ini juga ditujukan sebagai kegiatan lomba. Pesertanya pun tak hanya dari kalangan kraton atau masyarakat Yogyakarta, orang dari suku atau bangsa lain pun bisa ikut ambil bagian. Konon sejak 1934 sudah ratusan kali pihak Keraton Yogyakarta menggelar perlombaan untuk olah raga seni memanah gaya Mataram ini

Untuk bisa mengikuti secara rutin olah seni Jemparingan Jawi Mataram, tentunya diperlukan sejumlah perlengkapan. ‘’Yang utama adalah busur dan anak panah. Harganya bervariasi, tergantung kualitas materinya, namun berkisar mulai Rp 750 ribu untuk untuk membeli busur dan anak panah sebanyak 10 buah.

Tradisi Memanah
Jemparingan – Mahligai

Menurut Agus Yuniarso, salah satu penggiat perkumpulan pemanah Jawi Mardisoro, Yogyakarta, jenis busur dan anak panah yang dipergunakan untuk jemparingan memiliki spesifikasi yang berbeda dengan busur dan anak panah yang biasa dipergunakan untuk olahraga panahan nasional (PERPANI). ‘’Alat panah tradisional Jemparingan itu secara bahan dan estetika sangat berbeda dengan alat panah yang biasa dipakai oleh atlet panahan,’’ ungkap Agus.

Ya, seni memanah Jawi ala Kraton Mataram memang kaya akan makna budaya. ‘’Ini lebih tepat disebut sebagai kegiatan klangenan –(kegiatan untuk menenangkan dan menyenangkan olah rasa/jiwa), ketimbang disebut sebagai kegiatan sport (olah raga),’’ Ungkap Agus.

Tentu Anda akan mengangguk setuju, karena bila Anda ingin mencoba Jemparingan, bisa merasakan betapa unik dan nikmatnya seni memanah Jawi ini. Di sela-sela ‘ketegangan dan konsentrasi’ setelah membidik sasaran sambil bersila, kemudian sejenak Anda bisa menuang kopi hangat (sambil tetap duduk bersila) sembari mencicipi gorengan, kacang rebus bahkan ubi kukus hangat, yang memang sudah ‘satu paket’ dalam rangkaian kegiatan membidik sasaran ala ‘Robin Hood’ Mataram.

Teks & Foto: Dwi Ani Parwati

 

LEAVE A REPLY