Wow! Ternyata Tradisi Bakar Batu ‘Barapen’ Demi Solidaritas Kuat

0
178

Siapa sangka jika sebuah tradisi bisa bikin solidaritas itu menjadi kuat? Contohnya saja tradisi Bakar Batu dari Papua ini!

Suka jalan-jalan dan bosan ke area wisata yang itu-itu saja?

Ah, kayaknya harus mulai coba datang berkunjung ke Papua. Mengingat Papua punya ragam kebudayaan yang unik dan memang benar-benar khusus tak dimiliki wilayah Negeri Nusantara lainnya.

Misalnya saja, Tradisi Bakar Batu.

Tradisi Bakar Batu adalah ritual adat yang dimiliki suku Dani di Wamena, Papua. Asal tahu saja, dalam bahasa tradisional mereka, bahasa Lani, ‘bakar batu’ disebut ‘lago lakwi’ yang punya arti ‘membakar segala jenis makanan dengan memakai batu’.

Serunya di Wamena sendiri bakar batu lebih sering disebut dengan sebutan ‘kit oba isago’, sedangkan di daerah lain seperti Paniai disebut ‘mogo gapil’. Nah, untuk istilah umum yang dikenal masyarakat kebanyakan, bakar batu disebut dengan istilah ‘barapen’.

Lalu bagaimana awal mula Bakar Batu eksis?

Tradisi ini sudah berjalan dari ratusan tahun lalu – jadi tepatnya tidak diketahui waktunya. Tapi semua bermula dari sepasang suami-istri yang kebingungan ingin mengolah hasil kebun mereka. Gara-garanya panci yang biasa dipakai nyatanya nggak ada!

 

Baca Libur? Yuk, Jalan-Jalan ke Museum Serangga di Taman Mini Indonesia Indah

 

Pikir punya pikir, muncul ide memasak dengan batu. Lucunya, nggak disangka-sangka memasak dengan batu malah menghasilkan makanan yang lebih nikmat!

Asyiknya lagi, makanan yang bisa dimasak dengan batu pun bervariasi. Tak cuma umbi-umbian saja tapi daging juga bisa dimasak dengan metode ini. Demikian lansiran dari Adira.

Tapi aneh nggak sih memasak dengan batu?

Ya, pastinya aneh, tapi coba deh lirik tata cara bagaimana memasak dengan batu:

 

Persiapan

Sejak pagi buta persiapan sudah dilakukan. Serunya, sampai kepala suku turun tangan dengan memakai pakaian adat berkeliling mengundang warganya untuk berpartisipasi!

Lalu bersama-sama mereka berburu. Konon, jika ada panah yang berhasil melumpuhkan hewan buruan, acara akan diadakan. Tapi sebaliknya, jika hewa buruan masih hidup maka acara akan mengalami kendala.

Saat penyerahan hewan buruan berlangsung, sebagian warga akan menari dan sisanya menata batu.

Serunya nih, batu yang dipakai nggak boleh batu sembarangan! Batu yang dipakai harus keras agar tak mudah hancur.

Batu ditata sesuai ukuran, batu besar diletakkan paling bawah. Urutannya sendiri: batu, tumpukan kayu, batu, tumpukan kayu, begitu seterusnya. Pembakaran batu sendiri menghabiskan waktu dua hingga empat jam.

 

Memasak

Tahap kedua ini bisa dilakukan jika kayu dan batu sudah panas. Tapi sebelumnya, warga lebih dulu menggali tanah kira-kira sepanjang empat meter hingga 50 meter.

Lubang diisi dengan batu panas dan apando (daun pisang dengan penjepit kayu khusus) yang fungsinya jadi wadah sayur dan daging.

 

Makan Bareng

Barulah setelah semuanya kelar, makanan siap dilahap secara berbarengan. Biasanya nih, kepala suku yang melahap porsi makanannya sendiri, barulah setelah itu warga lain menyantapnya.

Baca Nyam-Nyam Nasi Tekor yang Katanya Nggak Akan Bikin Tekor

Setelah itu bubar?

Oh, tunggu dulu. Setelah semua makanan habis disantap, bak kumpulan tradisional perkotaan seperti ‘arisan’,warga menggelar acara bergoyang dengan menyanyikan lagu khas, Weya Rabo dan Besek!

Seru, ya!

Keseluruhan momen tradisi ini sekilas biasa-biasa saja, padahal ada makna didalamnya. Apalagi kalau bukan ungkapan syukur pada Tuhan dan dengan makan bareng itu jadi simbol mengikat solidaritas yang kuat.

 

 

 

 

O.J.

Sumber & Foto: Adira

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here