Batik Lasem: Jejak Pembauran Kultur Cina dan Tradisi Pesisiran Jawa

0
483
Batik Lasem

Selembar batik dari Lasem menggambarkan pembauran kultur Cina dan tradisi lokal pesisiran Jawa. Salah satu keistimewaan batik dari kota kecil di Jawa Tengah ini adalah warna merahnya khas seperti darah ayam tak bisa dibuat di tempat lain. Mari telusuri perjalanan batik Lasem.

Sepuluh tahun lalu nama Lasem yang identik sebagai salah satu penghasil batik pesisiran, belum terdengar senyaring dua tiga tahun belakangan ini. Batik Lasem memang tidak sepopuler batik dari Solo, Yogya, atau Pekalongan, bahkan Cirebon. Nama Lasem terdongkrak seiring menggeliatnya perhatian pecinta wastra nusantara terhadap batik, sejak penetapan batik Indonesia sebagai World Heritage (warisan dunia) oleh UNESCO.

Lasem, sebuah kota kecil kecamatan di sebelah timur Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, memiliki jejak sejarah sebagai kota kecil penghasil batik di era 1930-an. Bila Anda pernah mendengar nama ‘batik tiga negeri’, maka kain batik dengan tiga warna (merah, hijau dan biru) itu warna merahnya hanya bisa dihasilkan di Lasem. Warna merah batik buatan Lasem, kala itu, dipandang sangat istimewa, karena tidak ada satupun daerah lainnya yang bisa membuat warna merah sebagus warna merah batik buatan Lasem.

Ya, warna merah batik Lasem sangat khas, seperti warna merah darah ayam. Di kemudian hari, setelah ada penelitian dari ahli tekstil dari negeri China, barulah diketahui mengapa merahnya batik Lasem demikian istimewa. Hal ini disebabkan oleh kandungan air di daerah Lasem memiliki kadar mineral tertentu berbeda dengan kota lain (Solo, Pekalongan, Yogya, atau Semarang). Konon, pernah ada pengusaha batik membawa bahan pewarna merah (seperti yang biasa dipergunakan di kalangan para perajin batik Lasem) ke Pekalongan dan diproses di Pekalongan. Hasilnya tidak semerah dan sebagus jika dibuat di kota Lasem.

Cerita soal ‘merah darah’nya batik Lasem sangat menggelitik rasa penasaran dan ingin mengenal lebih jauh tentang batik dari kota kecil Jawa Tengah ini. Mahligai Indonesia berkesempatan menyambangi beberapa tempat perajin batik Lasem, menempuh perjalanan sekitar 4 jam dari kota Semarang ke arah kota kecamatan yang terletak sekitar 12 km di timur kota Rembang.

 Cikal Bakal Batik Lasem

Keberadaaan batik Lasem terkait dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho dari negeri China pada tahun 1413. Salah seorang anak buah Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un akhirnya menetap di Lasem bersama sang istri Na Li Ni yang mulai berkreasi menciptakan kain batik. Jejak pembauran etnis China dan kultur Jawa tergambar dalam lembaran-lembaran motif kain batik dari Lasem. Ragam hias seperti burung hong, kupu-kupu, dan banji menandakan pengaruh budaya China yang kental. Motif-motif tersebut tampak berpadu serasi dengan corak batik khas Jawa seperti lereng, parang, kawung, maupun udan liris.

Motik Klasik Batik Tulis Lasem

Batik Lasem mengalami masa kejayaan di abad ke -19, ketika hampir setiap keturunan Tionghoa yang bermukim di Lasem menjadi pengusaha batik. Sebagai pengusaha batik merupakan bisnis kebanggaan bagi keturunan Tionghoa. Produksi batik dilakukan di  rumah-rumah dengan memberdayakan masyarakat sekitar sebagai perajin. Tak heran motif batik Lasem mendapat pengaruh corak simbolik tradisi Tionghoa yang bersanding dengan motif lokal. Mereka juga membuat kain batik panjang dan kain batik penutup meja altar persembahan. Batik Lasem masa itu diekspor secara besar-besaran ke Singapura dan Sri Lanka.

Namun kondisi politik dan ekonomi di era 50-an memaksa banyak pengusaha Tionghoa gulung tikar. Batik Lasem yang pernah mengalami kejayaan, kemudian semakin turun drastis. Bahkan, sekitar 30 tahun lalu batik Lasem sempat mati suri, kalah pamor dengan batik Pekalongan, Solo, Yogyakarta, bahkan Cirebon. Seiring dengan kembalinya tren batik di Indonesia beberapa tahun ini, batik Lasem dengan ciri motif burung hong dan bunga seruni mulai menunjukkan geliat perkembangan.

Pengusaha batik tulis klasik Lasem yang masih bertahan kini salah satunya adalah keluarga Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian). Dialah sesepuh etnis Tinghoa di kota Lasem. Sigit bersama istrinya termasuk salah satu dari sedikit perajin batik Lasem yang tetap setia memproduksi batik Lasem tulis klasik.

Motif batik tulis klasik Lasem seakan mampu ‘memotret’ akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Motifnya lebih besar-besar dan agak acak  dengan warna-warna klasik seperti merah, kebiruan, serta hijau, bahkan kuning yang cukup mencolok; khas warna pesisiran. Seperti juga batik pesisir Pekalongan, batik Lasem banyak menampilkan motif burung hong, bunga peony, teratai, watu pecah atau watu krecak, dan liong. Konon motif watu pecah menggambarkan penghancuran batu-batu ketika pembuatan jalan Anyer-Panarukan era kolonial Belanda di bawah Gubernur Daendels.

Warna Merah Khas Batik Lasem Motif Modifikasi Batik Lasem

Batik Lasem Era Modifikasi

Setelah batik diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO, batik Lasem yang sempat mengalami penurunan kini bergairah kembali. Memang, hanya beberapa keluarga di kota tua (pecinan) Lasem yang masih berjuang melanjutkan usaha batik warisan keluarganya. Setidaknya ada enam rumah batik di kota tua Lasem yang masih bercirikan batik klasik Tionghoan dan 120 rumah batik yang menggarap motif-motif modifikasi batik Lasem di seluruh Kabupaten Rembang.

Salah satu perajin batik yang berinovasi dengan modifikasi motif-motif Lasem adalah batik Lasem berlabel ‘’Ningrat’’ yang dimiliki Rifai. Rumah produksi batik Lasem ‘Ningrat’ ini berada di Desa Sumbergirang, Lasem. Karakter warna batik yang dihasilkan  tergolong lebih kontemporer dengan bermain warna-warna kuat dan mengikuti selera kekinian, meskipun masih memiliki ‘jejak’ batik tulis klasik Lasem.

“Karakter warna batik saya memang lebih kuat, lebih gonjreng. Saya juga membuat pengembangan motif-motif baru berdasarkan motif batik Lasem klasik. Saya juga mempertahankan keindahan sisi cantingan atau goresannya. Batik itu harus punya seni,’’ ungkap Rifa’i yang juga membuat warna ‘monokrom’ pada batik kreasinya.

Kreasi batik Lasem era modifikasi memang memberikan sentuhan modernitas. Jelas tujuannya, supaya batik dari Lasem bisa diterima kalangan muda. Harga batik yang dihasilkan pun cukup bervariasi, mulai dari Rp 150.000,- hingga Rp. 4 juta yang tergolong kualitas pima untuk batik tulis Lasem.

Teks & Foto: Dwi Ani Parwati

LEAVE A REPLY