Dugderan, Kemeriahan Rakyat Semarang Saat Menyambut Bulan Ramadhan

0
22
Dugderan - Semarang
Instagram/ event.semarang

Bulan Suci Ramadhan sebentar lagi tiba. Itu berarti akan ada banyak perayaan yang digelar oleh sebagian masyarakat Indonesia, salah satunya masyarakat di Semarang, Jawa Tengah. Anda yang punya rencana berburu tradisi spesial menyambut Ramadhan, bisa menjadikan Semarang sebagai destinasi menarik.

Sejak tahun 1881, masyarakat Semarang sudah menjalankan tradisi Dugderan. Awal mula tradisi ini konon dikarenakan sering terjadinya perbedaan penentuan awal Ramadhan di tengah masyarakat Semarang kala itu.

Ialah Kanjeng Bupari RMTA Purbaningrat, pemimpin yang pertama kali berani menetapkan mulainya bulan puasa, yakni setelah bedug Masjid Agung dan Meriam di halaman kantor kabupaten dibunyikan masing-masing tiga kali. Istilah Dugderan sendiri diambil dari perpaduan bunyi “dugdug” dari beduk, dan bunyi “der” dari meriam.

Kini Dugderan diadakan bukan hanya sebagai sarana informasi pemerintah mengenai penentuan awal puasa, namun juga dijadikan sebagai perayaan pesta rakyat yang meriah. Kemeriahan acara ini menjadi daya tarik yang kerap diincar oleh para pelancong.

Prosesi Dugderan biasanya terdiri dari tiga agenda yakni diawali dengan Pasar Dugderan selama satu bulan penuh, mulai siang hingga malam. Setelah itu kepala pemerintah akan mengumumkan penetapan awal puasa, biasanya ditandai secara simbolis dengan penabuhan bedug yang dilakukan oleh walikota. Agenda berikutnya adalah Kirab Budaya Dugderan yang dimulai dari halaman Balai Kota Semarang dan diikuti oleh berbagai kalangan, yakni berupa karnaval yang diikuti pasukan merahputih, drumband, meriam, pasukan yang berpakaian adat, serta berbagai kesenian rakyat yang ada di Kota Semarang.

Hadir pula maskot Dugderan yang dikenal dengan istilah “Warak Ngendog“, sebuah boneka tiruan yang menyerupai binatang bertubuh kambing, berkepala naga, dan kulitnya bersisik. Boneka tersebut dihias sedemikian rupa dengan kertas warna-warni. Terdapat unsur Cina, Arab dan Jawa yang menyatu harmonis dalam wujud Warak Ngendog. Acara ini pun menjadi pemersatu masyarakat kota Semarang khususnya ketika menetapkan jatuhnya tanggal 1 Ramadhan. Berbarengan dengan penyelenggaraan festival Warak Ngendog, ada pula festival Jipin Blantenan yang menambah kemeriahan.

Teks: Elsa Faturahmah – dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY