Fakta Suku Mandailing dari Sumatera Utara (Part-2)

0
211
Fakta Seputar Suku Mandailing
Instagram/ mediaindonesia

Perhelatan pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan seorang pria dari suku Mandailing, Bobby Nasution kerap mewarnai media massa nasional. Tidak hanya menggelar prosesi pernikahan Adat Solo, Kahiyang dan Bobby juga melangsungkan serangkaian tradisi pernikahan adat Mandailing. Alhasil, kebudayaan adat Mandailing mendapat banyak sorotan dan perhatian masyarakat tanah air.

Selain adat pernikahannya, Mandailing memiliki banyak fakta menarik yang mungkin belum banyak orang ketahui. Apa saja itu? Mari simak artikel ini!

Memiliki Lima Bahasa untuk Berbagai Situasi

Dalam Suku Mandailing terdapat lima jenis bahasa yang biasanya digunakan dalam siatuasi berbeda, diantaranya:

  1. Hata soma: digunakan untuk obrolan sehari-hari
  2. Hata andung: digunakan ketika suasana duka
  3. Hata teas dohot jampolak: digunakan saat dalam keadaan marah
  4. Hata sobaso: digunakan saat suasana magis/ upacara adat
  5. Hata parkapur: digunakan saat orang-orang sedang berada di dalam hutan

Adat Upacara Pernikahan

Dalam ritual adat pernikahan Mandailing, terdapat beberapa perlengkapan adat, seeprti sentang (gambir), sirih, pinang, tembakau, soda, yang dimasukkan ke dalam sebuah tepak. Selain itu, ada pula payung rarangan, pedang dan tombak, bendera adat (tonggol), serta langit-langit bertabir yang melambangkan kebesaran (paragat).

Prosesi upacara pernikahan diawali dengan musyawarah adat yang disebut makkobar/ makkatai. Prosesi ini menggunakan tutur bahasa yang sangat khusus dan unik. Setiap anggota berbalas tutur layaknya berbalas pantun secara bergantaian. Orang yang membuka pembicaraan pertama kali adalah juru bicara yang punya hajat (suhut), dilanjutkan dengan menantu yang punya hajat (anak boru suhut), ipar dari anak boru (pisang raut), para peserta musyawarah yang hadir (paralok-alok), raja adat di kampung tersebut (hotabangan), raja adat dari kampung sebelah (raja torbing balok) dan raja diraja adat/ pimpinan sidang (raja panusunan bulan). Acara disusul dengan prosesi mangupa, yakni upacara adat berupa doa, pesan dan petunjuk kepada pengantin. Nasihat yang disampaikan biasanya sesuai dengan ajaran Islam.

Pakaian Adat Pernikahan

Busana pengantin adat Mandailing biasanya didominasi dengan warna merah, emas dan hitam. Pengantin wanita memakai bulang (mahkota), dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Sedangkan pengantin pria mengenakan penutup kepala (ampu) berbahan beludru hitam dengan ornamen warna emas. Selain itu, pengantin pria juga mengenakan baju godang atau baju kebesaran berbentuk jas tutup terbuat dari kain beludru berwarna hitam. Baju godang pun dipadankan dengan kain sesamping yang terbuat dari songket atu tenun yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut.

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here