Fakta Tentang Tari Saman yang Jarang Orang Ketahui

0
288
Fakta Tari Saman
Instagram rakhaaf_

Siapa yang tidak kenal tari Saman dari Aceh? Ya, Saman merupakan salah satu kesenian tradisional yang telah tumbuh dan berkembang pada masyarakat Gayo di Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur (Kecamatan Serbejadi), Kabupaten Aceh Tamiang (Tamiang Hulu). Permainan tradisi ini biasanya dilakukan oleh laki-laki berusia muda untuk mengisi waktu luang, baik pada saat di sawah, mersah, sepulang mengaji atau di rumah. Saat ini, tari Saman menjadi tarian tradisional yang populer baik di dalam maupun luar negeri.

Saman menjadi sebuah seni pertunjukan yang sering dipentaskan sebagai media silaturahmi, menjalin persahabatan, penyampaian pesan-pesan moral, pantun muda-mudi, penggambaran alam dan lingkungan sekitar, dan sebagainya.

Asal Muasal Tari Saman

Konon, sebelumnya Saman disebut dengan pok ane, yang artinya menepuk tangan sambil bernyanyi. Menurut catatan sejarah, Saman dikembangkan oleh seorang tokoh Islam bernama Syeh Saman yang ternyata juga seorang seniman. Nah, untuk itu namanya didedikasikan sebagai tarian Saman. Dalam perkembangan selanjutnya kesenian ini digunakan sebagai media dakwah agama Islam, bisa dilihat dari syair-syairnya yang sarat akan nilai keislaman. Keberadaan Saman dalam masyarakat Gayo adalah sebuah tradisi yang turun-temurun dan menjadi bagian dalam kehidupan mereka.

Jenis Tari Saman

Ada beberapa jenis tari Saman:

  • Sama Jejunten, yakni saman yang dilakukan di atas pohon kelapa yang ditebang saat malam hari.
  • Saman Njik, Saman yang dilakukan pada waktu istirahat saat mengirik padi.
  • Saman Ngerje (Umah Sara), yakni tari Saman yang dilakukan oleh para pemuda saat acara pesta perkawinan.
  • Bejamu Besaman, yaitu Saman yang dilakukan dengan mengundang grup saman dari kampung lain. Tari Saman jenis ini dilakukan dengan dua cara, yang pertama Saman Sara Ingi (Saman satu malam) yang dilakukan semalam suntuk pada hari besar keagamaan (Aidul Fitri, Aidhul Adha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW), yang kedua, Saman Roa Lo Roa Ingi (Saman dua hari dua malam) yang dilakukan secara terus menerus.
  • Saman Bale Asam yang dilaksanakan pada siang hari dalam rangka peringatan hari besar. Sama ini dilaksanakan secara bersama-sama di sebuah lapangan dan setipa grup bebas memilih lawannya. Biasanya panitia acara akan mengundang grup saman dari berbagai kampung untuk bertemu dan bertanding.

Bagain Penting dalam Tari Saman

Tari Saman ini terdiri dari Keketer, Rengum, Salam, Gerakan Tari, Ulu Ni Lagu, Anak ni Lagu, Saur, Syair, Guncang dan Penutup.

Saman memiliki sisipan bahasa Arab dan bahasa Aceh. Pada umumnya, sebelum tarian Saman dimulai, ada orang tua yang mewakili masyarakat setempat memberikan nasihat (keketar) yang ditujukan kepada para pemain dan penonton.

Dalam tarian Sama terdapat Rengum, yakni mukadimah berupa tiruan bunyi yang diucapkan bersama-sama. Kemudian dilanjutkan dengan Salam yang diucapkan oleh salah seorang pemain (penangkat/ Syech). Setelah itu disebut Ulu Ni Lagu atau permulaan tari. Tahap selanjutnya adalah gerak tangan yang ringkas dan pendek berisi syair yang terdiri dari Saur dan Redet. Begitu lagu dinyanyikan pemain membuat Saur lalu disaurkan bersama-sama. Beberapa kali saur diselingi Syech menyanyi melengking, dua atau tiga kali lalu naik atau berdiri di atas lutut dan dari Syech itulah diberi isyarat lalu disambung Guncang. Guncang ini dilakukan dengan berdiri di atas lutut. Apabila duduk bersimpuh dengan adegan yang sangat cepat sekali dinamakan gerutup. Gerutup dilakukan pada posisi duduk. Dalam satu lagu, hal demikian terus dilakukan berkali-kali yang kemudian berubah berpindah dengan irama atau lagu lain. Sebagai penutup, biasanya dilakukan surang-saring atau dengan melakukan tepuk tangan dengan nyanyian bersama disertai saur hingga pertunjukan berakhir.

Komposisi Penari Saman

Pada Tari Saman terdapat empat komposisi pemain, antara lain:

  • Penangkat, tokoh utama (Syech) yang mengatur gerakan dan ritme Saman, gerak tari, level tari, dan menyanyikan syair-syair. Posisi berada di tengah-tengah pemain.
  • Pengapit, tokoh pembantu pengangkat, baik gerakan tari maupun nyanyian/ vokal. Tugasnya mengingatkan penangkat apabila lupa gerakan berikutnya, umumnya dua orang yang posisinya di kanan dan kiri penangkat.
  • Penyepit, penari biasa yang mendukung tari atau gerak tari yang diarahkan pengangkat. Selain sebagai penari juga berperan menyepit (menghimpit). Dengan begitu kerapatan antara penari terjaga, sehingga penari menyatu tanpa antara dalam posisi banjar/ bershaf (horizontal) untuk keutuhan dan kekompakan gerak.
  • Penupang, penari yang paling ujung kanan-kiri dari barisan penari yang duduk berbanjar. Penupang selain berperan sebagai bagian dari pendukung tari juga berperan menupang/ menahan keutuhan posisi tari agar tepat rapat dan lurus. Penupang disebut penamat kerpe jejerun (pemegang rumput jejerun), seakan-akan bertahan memperkokoh kedudukan dengan memegang rumput jejerun (sejenir rumput yang memiliki akar kuat dan sulit dicabut).

Sumber: Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Penetapan Tahun 2013, Kemendikbud

ELSA FATURAHMAH

LEAVE A REPLY