Gordang Sambilan: Alat Musik Penting Bagi Masyarakat Mandailing

0
684
Gordang Sambilan - Mandailing
Instagram/ jeebee_tigor_gomgom

Sebelum Islam masuk ke Sumatera Utara, masyarakat Mandailing menggunakan gordang sambilan dalam upacara Paturuan sibaso, yakni sebuah ritual memanggil roh nenek moyang yang nantinya akan merasuki medium sibaso. Upacara ini dilakukan jika terjadi kesulitan yang menimpa masyarakat Mandailing, seperti wabah penyakit menular.

Tidak hanya itu, gordang sambilan juga biasa digunakan dalam upacara mangido udan (meminta hujan) oleh masyarakat Mandailing kala itu. Jika hujan sudah berlangsung cukup lama yang menimbulkan banjir dan kerusakan hasil panen, gordang sembilan digunakan untuk memohon agar hujan lekas berhenti.

Tabung resonator gordang sambilan terbuat dari kayu yang dilubangi dan salah satu ujung lobang di bagian kepalanya ditutup dengan membran berupa kulit lembu yang ditegangkan dan diikat dengan rotan.

Gordang sambilan terdiri dari sembilan gendang dengan ukuran berbeda. Setiap gendang menghasilkan jenis suara berbeda dan memiliki nama esembelnya sendiri. Namun, penamaan tersebut berbeda-beda di setiap daerah Mandailing. Misalnya, pada masyarakat di Gunung Tua – Muarasoro, nama gendang secara berurutan (dari yang paling kecil hingga yang paling besar) antaralain eneng-eneng, udang-kudang, paniga dan jangat.

Instrumen musik tradisional ini dilengkapi dengan sebuah ogung boru boru (gong berukuran paling besar atau disebut gong betina), ogung jantan (gong berukuran lebih kecil), doal (gong yang lebih kecil dari ogung jantan), tiga salempong atau mongmongan (gong dengan ukuran yang paling kecil). Selain itu, ada alat tiup terbuat dari bamboo yang dinamakan sarune atau saleot, dan sepasang sambal kecil yang dinamakan tali sasayat.

Pada permainan ensambel gordang sambilan, yang memimpin adalah disebut Panjangati – orang yang memainkan gordang yang paling besar (jangat). Seorang panjangati harus menguasai pola ritmik setiap instrument dalam ansambel gordang sambilan dan memiliki selera ritme yang sangat tinggi. Dia bertugas mengolah nada-nada ritme dari semua pola ritmik instrument gordang sambilan. Tiap instrument jika diberi aksen yang berbeda akan menimbulkan efek ketengangan yang berbeda.

Saat ini gordang sambilan kerap dimainkan saat upacara perkawinan (Orja Godang Markaroan Boru) dan upacara kematian (Orja Mambulungi). Penggunaan Gordang Sambilan untuk kedua upacara tersebut apabila untuk kepentingan pribadi harus terlebih dahulu mendapat izin dari pemimpin tradisional yaitu Namora Natoras dan dari raja sebagai kepala pemerintahan. Proses permohonan izin ini melalui suatu musyawarah adat yang disebut markobar adat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Namora Natoras dan Raja beserta pihak yang akan menyelenggarakan upacara tersebut.

Selain harus mendapat izin dari Namora Natoras dan raja, penggunaan Gordang Sambilan dalam upacara perkawinan (Orja Godang Markaroan Boru) dan untuk upacara kematian (Orja Mambulungi) juga harus disembelih paling sedikit satu ekor kerbau jantan dewasa yang sehat. Namun apabila persyaratan tersebut belum dapat dipenuhi maka Gordang Sambilan tidak boleh digunakan.

Untuk upacara kematian (Orja Mabulungi) yang dipergunakan hanya dua buah yang terbesar dari instrumen Gordang Sambilan yang digunakan (jangat). Akan tetapi khusus untuk upacara kematian istilah itu digunakan adalah bombat.

Penggunaan Gordang Sambilan dalam upacara adat biasanya disertai dengan peragaan benda-benda kebesaran adat, seperti bendera-bendera adat (tonggol) payung kebesaran yang yang dinamakan Payung Raranagan. Adapun fungsi lain dari Gordang Sambilan adalah sebagai pengiring tari yang dinamakan Sarama. Penyarama (orang yang menarikan Tari Sarama) kadang-kadang mengalami kesurupan (trance) pada waktu menari karena sudah dimasuki roh nenek moyang.

Pada perkembangannya Gordang Sambilan ini masih digunakan oleh masyarakat Mandailing sebagai alat musik sakral. Meskipun demikian saat ini Gorndag sambilan juga dikenal sebagai alat musik kesenian tradisional Mandailing yang sudah mulai populer di Indonesia bahkan di dunia.

Sumber: kemendikbud.go.id

 

LEAVE A REPLY