Serunya Tradisi Jemparingan alias Memanah Kerajaan Mataram

0
128

Tradisi memanah gaya Mataram ini sangat unik, dilakukan dalam posisi duduk bersila. Itulah bedanya dengan cara memanah yang kita kenal!

Tentu saja jelas beda dengan sikap badan dalam olah raga memanah pada umumnya, yang dilakukan dalam posisi badan tegak, berdiri. Tradisi memanah gaya Mataram ini tentu bukan sekadar olah raga, tapi juga olah jiwa dan tata krama.

Berapa sering kamu datangi kota gudeg Yogya? Sekali, dua kali, atau bahkan seringkali? Pernah mendengar (bahkan menyaksikan) jemparingan?

Bila belum, berarti kamu perlu banget (jika situasi memungkinkan dan aman dari wabah apapun) berkunjung lagi ke Yogya dan mengagendakan ‘kunjungan wisata budaya’.

Maklum, tradisi memanah ini jadi salah satu keunikan tradisi peninggalan semasa kerajaan Mataram berabad silam ini.

 

Jemparingan

Keunikan relung-relung tradisi dan budaya ada banyak yang dimiliki kota Yogya. Berasal dari kata ‘jemparing’, yang dalam bahasa Jawa berarti panah.

Jemparingan sendiri seni memanah Jawa kuno, atau juga bisa disebut ‘’panahan tradisional Mataram.”

Kenapa ini menjadi tradisi?

Menurut tutur sejarahnya, jemparing ini adalah tradisi seni olah tubuh sekaligus tata krama yang dilakukan keluarga Kerajaan Mataram.

Kebudayaan memanah tradisional ala ‘Robin Hood’ ini pun jadi salah satu kegiatan latihan para prajurit kerajaan semasa Keraton Mataram Yogya, berabad silam.

Saat Mahligai berkunjung ke Yogyakarta tempo hari, tampak sejumlah pria berusia muda hingga paruh baya mengenakan busana tradisional Jawa adat surjan atau peranakan, kain jarit dan blangkon.

Mereka duduk bersila dengan takzim di depan halaman Pendopo Agung Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.

Sembari duduk bersila, mereka menyiapkan anak panah untuk dipasang tepat di tengah tali busur panah. Suara peluit dan aba-aba dari seorang pria pemandu memberi komando ke para ‘ksatria pemanah’ itu untuk berisap-siap membidik sasaran.

Beberapa detik kemudian, tali busur yang telah dipasang anak panah pun ditarik dengan kekuatan yang terukur dan penuh konsentrasi.

Mata pun terpicing melihat secara cermat ke arah sasaran di depan mereka yang disebut bedor atau bandul –bentuknya bulatan seperti bola kecil warna merah yang dipasang berjarak sekitar 50 meter ke depan.

Beberapa detik kemudian anak-anak panah para ‘ksatria’ pun melesat cepat menuju sasaran.

Begitulah kegiatan rutin yang dilakukan para ‘ksatria’ ketika berlatih memanah menurut tradisi gaya Mataram.

Royal Ambarrukmo Hotel, hotel legendaris yang berada di Yogyakarta ini bisa menyediakan area atau tempat untuk berlatih jemparingan, sesuai permintaan para tamu.

Selain melestarikan tradisi Kraton Mataram, juga bisa menjadi agenda kegiatan dan hiburan wisata budaya yang unik.

Kegiatan jemparingan langka tersebut biasanya dilakukan di depan halaman Pendopo Agung, bisa dicoba para tamu hotel yang berminat.

 

Sarat nilai

Jemparingan bukan sekadar olah jasmani, melainkan juga sarat dengan nilai-nilai budaya, yaitu membutuhkan keahlian, kekuatan dan konsentrasi agar bisa memanah di bandul sasaran.

Bidikan busur panah ketika berhasil menembus bandul sebagai sasaran, dimaknai bahwa sang ‘ksatria’ Mataram mampu mengasah dan mengolah rasa, serta membangun hubungan dengan sesuatu yang jauh dari dirinya.

Pada awalnya, jemparingan adalah kegiatan rutin latihan para prajurit kraton. Namun, di kemudian waktu kegiatan memanah ini juga dijadikan kegiatan lomba.

Pesertanya pun tak hanya dari kalangan kraton atau masyarakat Yogyakarta, orang dari suku atau bangsa lain pun bisa ikut ambil bagian.

Konon sejak 1934 sudah ratusan kali pihak Keraton Yogyakarta menggelar perlombaan untuk olah raga seni memanah gaya Mataram ini

Untuk bisa mengikuti secara rutin olah seni Jemparingan Jawi Mataram, tentunya diperlukan sejumlah perlengkapan.

Yang utama adalah busur dan anak panah. Harganya bervariasi, tergantung kualitas materinya, namun berkisar mulai Rp 750 ribu untuk untuk membeli busur dan anak panah sebanyak 10 buah.

Menurut Agus Yuniarso, salah satu penggiat perkumpulan pemanah Jawi Mardisoro, Yogyakarta, jenis busur dan anak panah yang dipergunakan untuk jemparingan punya spesifikasi yang berbeda dengan busur dan anak panah yang biasa dipergunakan untuk olahraga panahan nasional (PERPANI). ‘’Alat panah tradisional Jemparingan secara bahan dan estetika sangat berbeda dengan alat panah yang biasa dipakai atlet panahan,’’ ungkap Agus.

’Ini lebih tepat disebut sebagai kegiatan klangenan –(kegiatan untuk menenangkan dan menyenangkan olah rasa/jiwa), ketimbang disebut sebagai kegiatan sport (olah raga),’’ Ungkap Agus.

Saat kamu mencoba Jemparingan, pasti bisa merasakan betapa unik dan nikmatnya seni memanah Jawi ini.

Di sela-sela ‘ketegangan dan konsentrasi’ setelah membidik sasaran sambil bersila, kemudian sejenak bisa menuang kopi hangat sembari mencicipi gorengan, kacang rebus bahkan ubi kukus hangat, yang memang sudah ‘satu paket’ dalam rangkaian kegiatan membidik sasaran ala ‘Robin Hood’ Mataram.

Seru, kan?

 

 

 

 

 

Tim Mahligai-Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here