Kemeriahan Tradisi Perayaan Natal Keturunan Portugis di Kampung Tugu

0
227
kampung tugu - perayaan natal - budaya kampung tugu
travel.detik.com

Hari Natal akan segera tiba. Di Indonesia, ada berbagai tradisi unik dalam merayakan hari besar bagi umat Kristiani dan Katholik ini. Seperti yang dilakukan masyarakat keturunan Portugis di Kampung Tugu, Semper Barat, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Ya, dulunya Kampung Tugu merupakan sebuah wilayah di pinggir Batavia yang diperuntukan oleh pemerintah Hindia Belanda bagi para Mardijkers yang telah dibebaskan dari tawanan perang Melaka dan India Selatan.

Mejelang hari raya, tepatnya setelah melakukan kebaktian, warga biasa melakukan ziarah ke makam yang berada di samping Gereja Tugu. Makam tersebut khusus diperuntukkan untuk komunitas keturunan Portugis.

Kemeriahan Natal di kampung ini mulai terlihat saat acara rabo-rabo. Budaya yang berasal dari bangsa Portugis ini  berasal dari kata rabo, yang dalam bahasa portugis berarti mengekor. Karena masyarakat kampung Tugu gemar mengulang-ulang kata, akhirnya sekarang dikenal dengan istilah rabo-rabo.

Rabo-rabo merupakan pesta adat, yang mana para warga akan saling berkunjung sambil menyanyikan lagu-lagu Natal. Mereka juga bersalam-salaman dan meminta maaf. Mirip seperti acara halal bihalal umat Islam saat lebaran, ya.

Seperti namanya, warga yang dikunjungi rumahnya harus ikut mengekor di belakang rombongan untuk berkunjung ke rumah warga lainnya. Mereka berjalan sambil menari dengan ceria. Pesta adat ini dimulai dari mengunjungi gereja yang berlanjut hingga ke rumah warga terakhir.

Puncak dari perayaan Natal di Kampung Tugu adalah mandi-mandi. Acara yang dimaksud bukan ritual mandi bersama, ya. Namun, acara di mana para warga harus menyanyikan lagu wajib berjudul “Mande Mande”.

“Mande Mande. Mande, mande, mande, anak ona e mande. Kalau rasa bagaimana, beta pilang kawin dengan se. Sareka, reka, gaba-gaba, ampat buah. Kalau nona sayang beta, mari dekak, dekat dekat jua. Ma yong, mala yong, mala yong, mala ditinggal dan tanjang, tanjung nyo (tanjung nyo). Mala tinggal dari tanjung, tanjung, tanjung nyo,” demikianlah bunyi syairnya.

Dalam acara mandi-mandi, warga berkumpul dan saling mencoret wajah satu sama lain menggunakan bedak putih. Coretan tersebut menjadi simbol penebus dosa dan permintaan maaf. Selainya acara mandi-mandi juga menjadi tanda bahwa warga siap menyambut tahun baru.

Teks: Elsa Faturahmah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here