Kisah Asal Mula Upacara Bekakak di Sleman, Yogyakarta

0
74
Asal Mula Upacara Bekakak
Instagram/ info.diy

Yogyakarta dikenal sebagai kota pariwisata yang kaya akan seni budaya dan tradisi. Salah satu tradisi yang masih menjadi daya tarik wisatawan adalah Upacara Bekakak atau Saparan yang merupakan upacara adat masyarakat di Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Upacara yang dilangsungkan setiap bulan Safar (bulan kedua dalam kalender Hijriah) ini konon bermula dari sebuah musibah yang menimpa dua orang abdi dalem (pengapdi keraton) Sultan Hamengkubuwono I.

Sri Sultan Hamengkubuwono I dan Kedua Abdi Dalemnya

Pada 1755 menjadi tahun di mana Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I. Ia pun berniat untuk mendirikan sebuah istana atau keraton yang akan dijadikan sebagai tempat tinggalnya. Sembari menunggu selesainya pembangunan istana tersebut, Sultan memilih sebuah pesanggrahan di di Desa Ambarketawang, Sleman, sebagai kediaman sementara. Saat itu, sebagian besar penduduk Ambarketawang gemar mengumpulkan batu-batu gamping dari gunung kapur di daerah itu sebagai matapencaharian.

Sri Sultan Hamengkubuwono I memiliki dua abdi dalem kesayangan yang sangat rajin dan selalu turut serta mendampingi Sultan kemanapun sambil membawa payung kebesaran keraton. Dua abdi dalam ini merupakan sepasang suami istri yang bernama Kyai dan Nyai Wirasuta. Keduanya gemar memelihara binatang seperti ayam, burung puyuh, bebek, kelinci, merpati, dan landak.

Suatu hari, tiba saatnya Sri Sultan Hamengkubuwono pindah ke istana baru miliknya. Namun, saat para abdi dalem lainnya bersiap-siap, Kyai Wirasuta dan istrinya merasa sedih karena harus meninggalkan pesanggrahan yang selama ini mereka tinggali. Merekapun akhirnya meminta izin kepada baginda Sultan untuk tetap tinggal dan mengurus pesanggrahan tersebut.

“Ampun, Kanjeng Gusti. Bukannya hamba berdua tidak setia kepada Kanjeng Gusti. Namun, hamba berdua ingin mohon izin tetap tinggal di tempat ini dan merawatnya. Hamba berdua merasa sangat betah tinggal di sini. Hamba berdua juga merasa sayang dengan hewan peliharaan di sini yang sudah mulai banyak,” pinta Kyai Wirasuta.

“Baiklah, jika itu sudah menjadi keinginan kalian. Rawatlah baik-baik pesanggrahan ini beserta hewan-hewan peliharaan kalian,” tutur Sultan.

Akhirnya mereka berdua tetap tinggal dipesanggrahan. Sang Sultan juga memperbolehkan Kyai Wirasuta membawa putra-putrinya, Raden Bagus Gombak, Raden Bagus Kuncung, Roro Ambarsari, dan Roro Ambarsekar, untuk tinggal bersama. Selain itu, mereka juga diperbolehkan memboyong kedua pembantu setianya, Kyai dan Nyai Brengkut.

Asal Mula Upacara Bekakak
Instagram/ matiusyogi

Musibah Tak Terduga di Bulan Safar

Pada suatu hari, ketika Kyai WIrasuta bersama istrinya sedang membersihkan halaman pesanggrahan, secara tak terduga Gunung Kapur yang berada di dekat tempat itu runtuh. Seketika area pesanggrahan dan mereka berdua pun terkubur.

Mendengar kejadian tersebut, Sri Sultan merasa sangat sedih dan kehilangan. Dia pun memberikan perintah untuk mencari jenazah kedua abdi dalem setianya itu. Namun, jasad mereka berdua tidak pernah ditemukan.

Satu tahun kemudian peristiwa naas itu telah berlalu. Ketika kesedihan Sang Sultan sudah mulai meredup, terdengar kabar bahwa ada kejadian serupa telah terjadi lagi. Gunung Kapur kembali longsor dan memakan korban jiwa. Kejadian terus terulang dan selalu terjadi di bulan Safar. Karena itu, masyarakat meyakini bahwa meskipun jasadnya menghilang, jiwa dan arwah Kyai dan Nyai Wirasuta masih tetap ada di Gunung Kapur. Mereka pun mulai resah dan takut mengumpulkan batu-batu gamping di sekitar gunung, terutama saat bulan Safar.

Sri Sultan Hamengkubuwono I yang mengetahui keresahan tersebut akhirnya bertitah kepada masyarakat Ambarketawang agar setiap bulan Safar mengadakan upacara selamatan. Upacara itu bertujuan untuk memohon keselamatan warga desa pada Tuhan Yang Maha Esa. Pada upacara tersebut, masyarakat melakukan penyembelihan bekakak, yang dilengkapi dengan beberapa perangkat upacara lainnya seperti tumpeng, ingkung ayam, jajan pasar, dan lain sebagainya.

Bekakak yang dimaksud berwujud sepasang boneka pengantin dalam posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung kentan dengan isian cairan gula merah. Penyembelihan bekakak bertujuan untuk menggantikan Kyai dan Nyai Wirasuta, serta warga lain yang tertimpa musibah.

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY