Kuda Lumping, Tarian Penuh Atraksi Berbahaya dari Tanah Jawa

0
427
kuda lumping, jaran, jathilan
Instagram/ awox_photo

Apakah Anda pernah menonton tari kuda lumping? Tarian yang atraktif ini memang kerap dijumpai di beberapa daerah, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Namun, di tiap daerah tarian ini memiliki penamaan yang berbeda, seperti di Yogyakarta dan sekitarnya, kuda lumping disebut Jathilan Diponegoro, serta Jaran Sang Hyang di Bali.

Dalam kamus musik, kuda lumping diartikan sebagai kesenian rakyat berupa gerak tarian kuda oleh sejumlah orang yang diiringi gamelan sakral sehingga menyebabkan mereka keserupan dan berprilaku seperti kuda, seperti makan rumput, dedak, padi, bahkan pecahan kaca atau tidur di atas duri tajam. Lumping sendiri artinya anyaman bambu (kepang). Ya, para penari memegang anyaman berbentuk kuda, seolah-seolah sedang berkuda.

Konon, tarian ini memang merupakan tarian kesurupan sejak zaman dulunya. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa tari kuda lumping merupakan gambaran serial legenda reog abad ke-8, yakng mengkisahkan seorang prajurit kuda bergelar Jathil yang menunggangi kuda putih dengan ekor, rambut, dan sayap berwarna emas. Pasukan tersebut membantu pertempuran kerajaan Bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan Lodaya.

kuda lumping, jaran, jathilan
Instagram/ andi_muliadi

Dilihat dari gerakannya, tari kuda lumping sangat merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kaveleri. Hal tersebut dapat Anda lihat dari gerakan-gerakan ritmis, agresif, dan dinamis para penari yang mengibaskan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah medan perang.

Tari kuda lumping selalu menghadirkan empat fragmen trarian di setiap pagelarannya, antaralain dua kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri. Pada fragmen Buto Lawas, tarian hanya dilakukan 4 sampai 6 penari pria. Pada bagian ini, para penari Buto Lawas kerap mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Kadang kala, para penonton juga bisa kerasukan dan ikut menari, kompak dengan penari lainnya.

Dalam tarian kuda lumping selalu dihadirkan sosok yang dipanggil Warok, yakni orang yang memiliki ilmu supranatural. Dialah yang akan menyadarkan orang-orang yang kerasukan. Biasanya warok menggunakan baju serba hitam bergaris merah.

Setelah menari Buto Lawas, berikutnya bergabung penari wanita menarikan tari senterewe bersama penari pria. Dan fragmen terakhir, hanya diisi sekitar enam orang wanita yang membawakan tari Begon Putri, tarian penutup dari seluruh atraksi tari kuda lumping.

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here