Legenda Dewi Sri, Dewi Kesuburan di Muka Bumi

0
15985
Legenda Dewi Sri Dewi Padi
Ilustrasi - Baltyra.com

Dahulu kala, hidup seorang penguasa tertinggi kerajaan langit bernama Batara Guru. Suatu hari ia memerintahkan para dewa dan dewi untuk melakukan kerja bakti guna membangun sebuah istana baru yang lebih megah di Kahyangan. Ia pun mengancam akan memotong tangan dan kaki siapa saja yang malas mengerjakan perintahnya.

Dialah Antaboga, seorang dewa ular yang merasa cemas dengan ancaman yang dibuat oleh Batara Guru. Mengetahui kondisi tubuhnya yang tidak memiliki tangan dan kaki, tentu ia akan merasa kesulitan untuk bekerja. Namun, jika ia tidak bekerja, lehernya akan dipenggal. Dihantui rasa takut, ia pun pergi meminta nasihat kepada Batara Narada, yang merupakan saudara Batara Guru.

Sesampainya di kediaman milik Batara Narada, ia menyampaikan tentang apa yang membuatnya risau. Mendengar curahan hati Antaboga, Batara Narada justru kebingungan dan tidak memiliki solusi. Kemudian Antaboga menangis meratapi nasib buruk yang harus menimpa dirinya. Tak disangka, tetesan air matanya berubah menjadi telur dengan kulit yang sangat indah. Melihat keajaiban itu, Narata Narada menyarankan agar telur tersebut diberikan sebagai permohonan maaf karena tidak bisa membantu membangun istana. Tanpa pikir panjang, ia pun bergegas menaruh telur tersebut ke dalam mulutnya dan pergi menemui Batara Guru.

Di tengah perjalanan ada seekor burung gagak yang menyapa Antaboga. Namun, karena ada tiga telur di dalam mulutnya, Antaboga menjadi enggan berbicara dan terus berjalan. Tidak dinyana, sang burung gagak kecewa karena mengira Antaboga bersikap sombong dan menyerang Antaboga hingga dua butir telur yang ada di mulutnya pecah. Tersisalah satu telur yang mungkin akan menyelamatkan Antaboga dari hukuman.

Ternyata benar, Batara Guru menerima dengan senang hati hadiah tersebut dan menyuruh Dewa Antaboga untuk mengeraminya. Waktu demi waktu, akhirnya telur itu menetaskan seorang bayi perempuan yang diberi nama Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Anak tersebut diangkat sebagai anak angkat Batara Guru dan permaisuri. Ia tumbuh menjadi sesosok perempuan yang cantik jelita.

Dikisahkan bahwa Batara Guru lama-kelamaan menyukai Nyi Pohaci Sanghyang Sri dan hendak memperistrinya. Para dewa di Khayangan merasa resah dengan hal ini, takut menghadirkan bencana di Khayangan. Akhirnya mereka berencana memisahkan Batara Guru dari Nyi Pohaci Sanghyang Sri dengan menaruh racun pada minuman Nyi Pohaci Sanghyang Sri hingga akhirnya meninggal. Untuk menghilangkan jejak perbuatan keji mereka, jenazah Nyi Pohaci Sanghyang Sri dibawa turun ke bumi dan dikubur di tempat tersembunyi.

Konon, pusara dari Nyi Pohaci Sanghyang Sri kemudian ditumbuhi tanaman padi yang sangat bermanfaat bagi manusia di bumi. Sejak saat itulah Nyi Pohaci Sanghyang Sri atau dewi Sri dijuluki sebagai dewi Padi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here