Lihat Warga Baduy Berbondong-Bondong Keluar Kampung? Ada Apa?

0
95
Seba masyarakat baduy
Instagram/ madein_baduy

Suku baduy merupakan salah satu kelompok masyarakat adat di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Ini merupakan salah satu suku yang memisahkan diri dari dunia luar. Mereka hidup di hutan dan masih sangat memegang teguh tradisi nenek moyangnya, terutama bagi suku Baduy bagian dalam.

Ya, Suku Baduy terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar. Bedanya terletak pada bagaimana masing-masing kelompok memegang dan menjalankan pikukuh (aturan adat). Suku Baduy Luar sudah bersinggungan dengan dunia luar (menggunakan teknologi modern misalnya), sedangkan Baduy Dalam masih sangat tradisional (tidak menggunakan kendaraan dan alat modern lainnya), serta masih memegang ketat aturan adat.

Meski memiliki perbedaan, ada sebuah prosesi adat yang selalu dilakukan suku Baduy Dalam dan Baduy Luar setiap tahunnya. Prosesi ini dikenal dengan Seba, yakni turunnya warga Baduy dari gunung untuk mengunjungi pemerintah Banten. Hanya saja, Suku Baduy Dalam pergi pagi-pagi sekali dengan berjalan kaki, sedangkan warga Baduy Luar berangkat lebih siang karena boleh menggunakan kendaraan bermotor. Mereka semua turun tanpa menggunakan alas kaki, lho.

Prosesi Seba dilakukan di bulan Safar, bulan pertama dalam penanggalan suku Baduy. Prosesi ini konon sudah dilakukan sejak masa Kesultanan Banten. Bedanya, dulu mereka bertemu sultan, namun kini mereka menemui Kepala Pemerintahan, seperti bupati dan gubernur.

Mereka datang untuk bersilaturahmi, sekaligus melaporkan keadaan warga Baduy, baik tentang kesehatan, hasil panen, dan masalah lainnya. Mereka juga selalu membawakan hasil panen yang dikumpulkan dari masing-masing warga. Buah tangan yang dibawa biasanya ubi-ubian, gula aren, pisang tanduk, beras ketan, dan lain sebagainya.

Seba bisa jadi merupakan acara rekreasi bagi masyarakat Baduy, karena saat itulah warga Baduy bisa beramai-ramai pergi ke kota dan melihat dunia luar. Sambil menunggu acara, warga Baduy berkumpul di alun-alun kota Lebak, Banten. Sebagian ada juga yang berkeliling kota. Namun, prosesi ini ternyata hanya dilakukan oleh warga laki-laki. Pada malam hari, mereka tidur di tempat seadanya, seperti di pendopo kabupaten, teras gedung, dan di bawah pohon.

ELSA FATURAHMAH

LEAVE A REPLY