Makna Daun Sirih dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa

0
10351
daun sirih
Instagram | namorapictures

Berbicara soal pernikahan adat, tentu tak bisa lepas dari serangkaian ritual yang memiliki makna filosofis tersendiri. Dalam ritual tersebut pula, biasanya dihadirkan sederet perlengkapan yang juga mengandung makna mendalam.

Dalam upacara panggih misalnya, momen kedua mempelai bertemu di pelaminan ini memiliki serangkaian ritual yang menghadirkan daun sirih sebagai perlengkapannya, yakni saat prosesi balangan suruh.

Pada prosesi balangan suruh, kedua mempelai akan berdiri saling berhadapan dengan jarak dua sampai tiga meter. Kemudian, keduanya sama-sama melempar gantal (terbuat dari daun sirih yang ditekuk atau dilinting lalu diikat dengan benang putih). Gantal yang dibawa untuk dibawa oleh pengantin putri disebut gondhang kasih, sedangkan gantal yang dipegang pengantin laki-laki disebut gondhang tutur.

balangan suruh
Balangan Suruh – Instagram | joelianphotography

Dibalik acara lempar-melempar gantal yang tak jarang menimbulkan gelak tawa di antara kedua mempelai ini, ternyata tersimpan makna menjauhkan rumah tangga kedua mempelai terhindar dari segala bentuk godaan.  

Penggunaan daun sirih pada ritual ini juga mengandung makna/filosofis mendalam. Daun sirih dipercaya memiliki kekuatan untuk menangkal gangguan buruk. Selain itu, ciri khas daun sirih yang ruas-ruas daunnya tidak terputus, melainkan melingkar menjadi simbol dan harapan bahwa perkawinan mempelai juga akan langgeng dan tak terputus.

Daun Sirih dalam Lamaran Pengantin Jawa

Selain dalam upacara balangan suruh, penggunaan daun sirih juga digunakan sebagai simbol pengikat cinta dalam acara lamaran pengantin adat Jawa. Calon pengantin pria diwajibkan membawa pisang dan suruh ayu saat mendatangi kediaman calon pengantin wanita sebagai lambang Sedyo Rahayu atau suatu harapan kesejahteraan.

Suruh ayu sendiri berasal dari dua kata yaitu suruh yang berarti ‘daun sirih’ dan ayu yang berarti ‘cantik’. Daun sirih yang dibawa dalam acara ini pula tak boleh asal, melainkan harus dalam keadaan baik. Ini menggambarkan bahwa calon mempelai wanita ketika menjadi pengantin hendaknya terlihat segar dan menarik.

Kesan segar dan menarik tentu menyimbolkan kebahagiaan. Daun sirih yang digunakan harus yang temu ros “bertemu ruasnya” hal ini melambangkan bahwa sepasang pengantin dipertemukan dahulu. Suruh ayu ini menjadi barang bawaan yang dibawa dengan perlengkapan lainnya seperti gambir, kembang telo, dan lawe wenang (benang lawe).*

Baca Artikel Ini : Ritual Puasa Mutih: Diet Tradisional Jelang Hari Pernikahan

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here