Mengenal Ragam Pengantin Adat Pernikahan Lampung

0
482
Baju Pengantin Lampung
Dok. Mahligai Indonesia

Penduduk Lampung merupakan masyarakat yang multi etnis. Lokasinya yang strategis memungkinkan daerah ini ditempati oleh pendatang dari berbagai daerah di Sumatera dan Jawa. Hingga dapat dikatakan jumlah penduduk asli Lampung sekarang ini hanya sekitar sepertiga jumlah total keseluruhan penduduk Lampung.

Mayarakat asli Lampung sendiri terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu Pepaduan dan Saibatin. Masyarakat Lampung yang beradat Pepaduan dapat digolongkan lagi menjadi: Abung Siwo Mego (Abung Sembilan Marga), Tulang Bawang Mego Pak (Tulang Bawang Empat Marga), Pubian Telu Suku (Pubian Tiga Suku), Buay Lima Way Kanan (Way Kanan Lima Kebuayan), Sungkay Bunga Mayang. Sementara masyarakat adat Saibatin digolongkan menjadi: Paksi Pak Sekala Brak (Sekala Brak Empat Paksi), Krui Marga Pitu (Krui Tujuh Marga), Komring Buay Lima (Komring Lima Kebuayan), Peminggir Semaka, Melinting.

Baik kelompok Adat Pepaduan maupun Saibatin Memiliki keunikan masing-masing dari segi adat istiadat, maupun busana, juga tata cara melangsungkan pernikahan atau gawei adat. Bahkan diantara suku Pepaduan pun terdapat sedikit perbedaan dalam hal busana pengantin, meski tidak terlalu signifikan.

Sebagai daerah yang dikenal sebagai penghasil kain tipis, kain tenun bersulam emas, pada setiap upacara adat seperti pernikahan, tapis yang dipenuhi sulaman benang emas menjadi kelengkapan busana adat Lampung. Sementara untuk memperindah tampilan, beragam aksesori dikenakan yang semuanya terbuat dari emas. Pakaian pengantin wanita terlihat mewah dipenuhi warna kuning keemasan, mulai dari kepala sampai kaki.

Di kepala, mempelai wanita mengenakan siger, yaitu mahkota yang berbentuk seperti tanduk dari lempengan kuningan yang ditatah hias titik-titik rangkaian bunga. Siger ini berlekuk ruji tajam berjumlah sembilan lekukan di bagian depan dan belakang, dan setiap lekukan diberi hiasan bunga cemara. Puncak siger diberi hiasan serenja bulan, atau kembang hias berupa mahkota berjumlah satu hingga tiga buah, dimana memiliki lengkungan di bagian bawah dan beruji tajam di bagian atas, serta berhiaskan bunga yang dibuat dari kuningan yang ditatah.

Pengantin Pepadun Abung Utara

Baju Pengantin Lampung
Dok. Mahligai Indonesia

Mewah sekaligus unik, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan busana pengantin Lampung Pepaduan Abung Utara. Seperti layaknya busana pengantin Yogya paes Ageng yang mengenakan dodotan, busana adat daerah ini juga mengenakan kain tapis dewosano yang dililit mulai dari dada hingga pinggang, sebagaimana memakai kemben. Dari pinggang kebawah dililitkan kain tapis jungsarat.

Selendang sebagi disampirkan dari kiri ke kanan, dan selendang andak dari kanan ke kiri. Agar kedua selendang dapat terlihat rapi dikenakan ikat pinggang yang kemudian dilapis dengan bulu seratte (pending) di pinggang.

Salah satu persamaan yang dimiliki oleh setiap golongan suku yang tergabung dalam kelompok adat Papaduan adalah dominasi warna putih. Kali ini selain selendang putih, pada bahu pengantin wanita juga disampirkan bebe atau penutup dada warna putih yang terbuat dari sulam usus.

Perhiasan yang dikenakan mulai dari kepala, yaitu siger serta penekan kedak yang dikenakan di dahi, tepat di bawah siger, juga subang giwir di telinga. Buah jukum takkal yang berbentuk seperti rantai dipasang menyilang di bahu kiri dan kanan, dilengkapi dengan kalung papan jajar, sabik dinar, sabik buluh, sabik inuh. Gelang burung garuda dan gelang ruwi durian dikenakan di lengan, sementara pergelangan tangan mengenakan gelang bibit dan gelang caro Mekah. Tak ketinggalan buah manggus yang harus dipegang. Menurut sejarah, buang manggus merupakan tempat menyimpan kunci.

Sementara pengantin pria mengenakan kain tapis bidak becungkil sebagai penutup dada, dan kain tapis jungsarat dibagian bawah, dengan selendang jungsarat disampirkan di bahu seperti pengantin wanita, kemudian ditutup dengan bulu seratte. Perhiasan yang dikenakan di dada sama dengan yang dikenakan pengantin wanita, namun untuk gelang hanya gelang burung dan gelang kano yang digunakan, ditambahkan terapang/ keris yang disematkan di pinggang dan dihias dengan selendang andak.

Pengantin Lampung Saibatin

Baju Pengantin Lampung
Dok. Mahligai Indonesia

Masyarakat adat Lampung Saibatin sering disebut sebagai Lampung pesisir, karena kebanyakan dari mereka mendiami wilayah sepanjang pantai timur, selatan dan barat. Agama Islam yang masuk dari Banten, berpengaruh besar di wilayah ini, sehingga dapat dikatakan tingkat masyarakat sudah tidak terlalu berpengaruh. Pakaian pengantin Saibatin memiliki perbedaan yang cukup besar dengan Lampung Pepadun, salah satunya dari segi warna.

Bila pengantin Pepaduan didominasi warna putih, pengantin adat Saibatin didominasi oleh warna merah. Siger yang dikenakan oleh pengantin wanita Saibatin berbeda dengan pengantin wanita Pepadun, dengan lekukan tajam berjumlah tujuh buah. Pengantin wanita mengenakan kebaya panjang merah bintang tabur dan tapik cucuk handak, selempang jungsarat disampirkan di bahu kanan, dan sebagai pengencang di pinggang dikenakan bubuduk. Di dada dipasangkan beberapa kalung seperti gajah minung, beputuran, papan jajar. Gelang burung layang di lengan dan gelang geruncung, caro Mekah dan bibit di pergelangan tangan.

Sementara pengantin pria mengenakan jas tutup bunga tabur dan celana panjang merah, dengan kain sinjang rumpak dikenakan sebagai sarung dari pinggang hingga lutut, serta selempang jungsarat disampirkan di bahu kanan. Sebagai penutup kepala, dikenakan ikat pujuk ketupang, terapang/ keris disematkan di pinggang dan kalung gajah minong, berputuran, papan jajar di dada, tak ketinggalan juga gelang burung dikenakan di lengan kiri dan kanan.

Pengantin Lampung Pepadun

Baju Pengantin Lampung
Dok. Mahligai Indonesia

Masyarakat Lampung Pepadun mendiami wilayah pedalaman. Bila masyarakat Lampung Saibatin sudah tidak menonjolkan kebangsawanan, sebaliknya dikalangan masyarakat adat masih nampak, masih ada anggapan bahwa golongan satu lebih rendah dari golongan lain, terutama dalam pelaksanaan upacara adat.

Dari sekian banyak busana pengantin adat Lampung Pepadun, lalu dibuatkan semacam keseragaman. Busana pengantin Lampung Pepadun didominasi warna putih. Pengantin wanita mengenakan kebaya kurung warna putih dari bahan brokat yang diberi rambai ringgit sebanyak 12 buah. Sebagai pelapis kebaya, dikenakan selendang sapuran dengan delapan buah rambai ringgit, kemudian disampirkan bebe putih sulam usus di pundak. Untuk bagian bawah, dikenakan kain tapis jungsarat dengan rambai ringgit 20 buah, dan bulu serrate melingkar di pinggang. Perhiasan yang dikenakan sama persis dengan pengantin wanita Abung, mulai dari siger suhun sebagai mahkota, kalung dan juga gelang.

Pengantin pria mengenakan jas tutup warna putih dengan celana panjang putih. Kain bidak becungkil dikenakan melilit dipinggang hingga lutut, dan di bagian luar dilapis dengan bidak andak berbentuk segitiga, dengan ikat pinggang bulu seratte dikenakan di pinggang. Selendang songket/ selengkap balak dari bahan jungsarat disampirkan menyilang di bahu.

Sebagai penutup kepala dikenakan kopiah mas/ siger pengantin pria. Menyilang di dada dipasang buah jukum, lalu kalung papang jajar, sabik inuh dan sabik buluh. Sama seperti pengantin Abung, pengantin pria Pepadun juga mengenakan gelang burung dan gelang kano. Serta terapang tersemat di pinggang yang kemudian dilapis atau dihias dengan selendang andak.

Teks: Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY