Mengenal Tari Kipas Pakarena dari Sulawesi Selatan

0
137
Tari Kipas Pakarena
Instagram/ insto.id

Sulawesi Selatan menjadi salah satu provinsi yang memiliki banyak suku bangsa dan budaya. Konon, Sulawesi Selatan memiliki sebanyak 316 jenis tarian, diantaranya terdapat 98 jenis tarian adat orang Bugis, 116 milik orang Mandar, 36 milik orang Toraja, dan 66 milik orang Makassar. Nah, dari sekian banyaknya tarian tersebut, kali ini kita akan membahas tari Kipas Pakarena yang cukup dikenal oleh banyak masyarakat Indonesia.

Tari kipas pakarena biasa dihadirkan dalam berbagai acara, baik acara adat maupun acara hiburan semata. Bahkan tarian ini disebut menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Gowa. Ya, tarian yang diiringi dengan gandrang pakarena ini berasal dari daerah Gowa, Sulawesi Selatan.

Kostum Adat Penari

Busana yang dikenakan penari kipas pakarena biasanya merupakan pakaian adat khas Gowa, yakni menggunakan baju longgar, kain selempang, dan kain sarung khas Sulawesi Selatan. Sedangkan pada bagian kepala, rambut penari dikonde dan dihiasi tusuk konde berwarna emas serta bunga-bunga. Selain itu, penari juga mengenakan aksesori seperti gelang, kalung dan anting khas wanita Gowa. Tidak lupa dengan kipas lipat yang dijadikan sebagai instrumen penting dalam tarian ini.

Iringan Musik Gondrong Rinci

Biasanya tarian ini dibawakan oleh para penari wanita yang berjumlah sekitar lima atau tujuh orang dengan berbapakaian busana adat sambil memainkan kipas sebagai atribut tarian. Musik pengiring tarian ini adalah alunan gondrong rinci, yakni musik tradisional khas Sulawesi Selatan yang terdiri dari gendrang dan seruling.

Musik pengiring ini biasanya dimainkan oleh empat sampai tujuh orang pemusik, di mana salah satu pemusik memainkan seruling, sementara yang lainnya memainkan gendrang dengan cara dan ketukan berbeda. Irama yang dihasilkan pun bertempo cepat. Meski begitu, tarian kipas pakarena ditarikan dengan gerakan yang lemah lembut sambil memainkan kipas lipat.

Gerakan memainkan kipas tentu sangat mendominasi. Selain itu ada juga gerakan badan yang diikuti gerakan tangan dan kaki yang melangkah. Terdapat pakem atau aturan dalam melakukan gerakan tari, salah satunya ketika para penari tidak diperbolehkan membuka mata terlalu lebar dan mengangkat kaki terlalu tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan nilai kesopanan dan kesantunan yang menjadi hal utama dalam tarian ini.

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY