Mitos Tentang Larangan Pernikahan Adat Jawa. Anda Percaya?

0
4177
Pernikahan Jawa
Ilustrasi pernikahan Jawa-Foto: Desen Galyandi

Jawa merupakan salah satu suku di mana masyarakatnya masih banyak memegang teguh tradisi dan kepercayaan yang kerap disebut sebagai tradisi “kejawen”. Aturan kejawen pun melingkupi banyak hal, mulai dari kehidupan bermasyarakat, ritual kepercayaan, hingga tata cara pernikahan adat Jawa.

Meski terkesan ribet, namun nyatanya masih ada masyarakat yang masih menjalankan aturan kejawen tersebut, terutama bagi para orang tua. Seperti dalam pernikahan adat Jawa, selain prosesi yang harus dilalui, ternyata ada beberapa larangan yang harus dihindari. Berikut beberapa larangan dalam pernikahan adat Jawa tersebut:

Menikah di Bulan Syuro

Bulan Syuro dianggap bulan keramat oleh masyarakat Jawa zaman dulu. Sampai sekarang pun sebagian orang masih mempercayainya. Mereka percaya, kalau di bulan Syuro Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul tengah menggelar hajatan, sehingga masyarakat dilarang untuk berpesta pora jika tidak ingin terkena bala atau kesialan.

Dilansir dari Merdeka.com, pengamat budaya Jawa, Han Gagas berpendapat, di bulan Syuro banyak orang Jawa yang mengurangi aktivitas pesta pora, seperti pernikahan dan lainnya. Dibanding menggelar pesta, masyarakat Jawa lebih memilih menjadikan bulan Syuro sebagai momen untuk menyucikan jasmani dan rohani.

Menikah dengan Suku Sunda

Aturan ini konon terbentuk sejak terjadinya perang Baba tantara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda. Peperangan itu menimbulkan larangan pernikahan antara orang Jawa dengan orang Sunda. Jika itu dilarang, perjalanan rumah tangga akan sangat menyengsarakan.

Pernikahan Jilu (Siji Karo Telu)

Pernikahan jilu merupakan pernikahan yang dilakukan antara anak pertama dengan anak ketiga. Misalnya Anda anak pertama dan pasangan Anda anak ketiga, dalam adat Jawa hal tersebut dilarang karena ada kepercayaan bahwa pernikahan jilu akan mendatangkan sial bagi rumah tangga di kemudian hari, seperti tidak akur, bercerai atau bahkan ditinggal mati.

Menikah dengan Tetangga yang Rubuh Karang

Tetangga yang rubuh karang maksudnya adalah tetangga yang rumahnya berhadapan dengan rumah kita, membelakangi atau terletak di samping kiri-kanan rumah. Sebagian masyarakat Jawa percaya, orang yang memaksa menikah atas keadaan tersebut hidup keluarganya akan penuh dengan kekurangan dan tidak bahagia.

Menikah dengan Warga yang Sekampung dengan Ipar

Dalam adat Jawa, menikah dengan warga yang tinggal sekampung dengan pasangan saudara kandung sendiri merupakan sebuah pantangan. Jika dilanggar, sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa salah satu orang tua akan meninggal dunia.

Pernikahan Siji Jejer Telu

Siji jejer telu merupakan istilah jika kamu, pasangan, dan salah satu orang tua merupakan anak pertama. Sehingga jika disusun dalam angka menjadi 111 (satu berjajar tiga). Hal ini dipandang tidak baik bagi sebagian orang Jawa karena akan membuat rumah tangga menjadi tidak sejahtera.

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here