Ritual Perawatan Kecantikan untuk Calon Pengantin Wanita Betawi

0
651
Pengantin Betawi Klasik- Sanggar Liza Dok. Majalah Mahligai

Persiapan pernikahan bukan hanya sekedar merencanakan pesta semata. Calon pengantin juga perlu menyiapkan diri melakukan serangkaian perawatan untuk menjadi ‘ratu sehari.’ Dalam budaya Betawi, urusan persiapan calon pengantin wanita ini bahkan tidak bisa dianggap sepele. Pasalnya, si calon pengantin wanita perlu ditemani ahli perawatan kecantikan yang lazim disebut Tukang Piare. Meskipun ritual ini sudah jarang dilakukan calon pengantin wanita namun tak ada salahnya jika kita mengetahui prosesi ini.

Tukang piare yang dimaksud disini juga bukan sembarang penata rias semata. Melainkan wanita sepuh yang memang telah diyakini ahli dalam merawat kecantikan calon pengantin dan punya kekuatan batin khusus. Biasanya ritual ini juga disertai doa-doa tertentu.

Nantinya, Tukang piare akan setia menemani calon pengantin wanita selama masa pingitan, sekaligus memberikan paket perawatan kecantikan yang sangat insentif. Bagaimana tidak? Bisa sebulan atau bahkan lebih, si wanita mendapatkan serangkaian perawatan kecantikan bagi tubuhnya, mulai dari perawatan kecantikan si wanita berupa mengatur pantangan makanan, melulur, dan memberikan minuman jamu godokan.

Setiap hari si wanita akan dilulur dengan bahan-bahan rempah pilihan. Tukang piare biasanya memiliki ramuan spesial yang tidak sama dengan lulur-lulur yang dijual di pasaran. Uniknya, selama proses perawatan ini, calon pengantin wanita sama sekali tidak boleh mandi, kecuali tentu saja cuci muka dan wudhu. Pembersihan lulur akan dilakukan sedemikian rupa tanpa harus mandi.

tips cantik dengan perawatan tradisional
Ilustrasi Bahan Perawatan Tradisional – Dok. Mahligai Indonesia

Sehari sebelum hari pernikahan barulah calon pengantin melakukan upacara mandi atau siraman layaknya dalam adat Jawa. Diawali dengan pembacaan doa, calon pengantin wanita berjalan menuju tempat mandi yang telah dihias cantik. Peralatan mandinya berupa paso dari tanah liat, gayung batok kelapa, kembang 7 rupa, dan pedupaan menyan.

Dalam ritual ini, selain orangtua dan sesepuh keluarga calon pengantin, si Tukang Piare juga berhak menyiram calon pengantin. Setelah menjalani ritual siraman, calon pengantin wanita dipercaya akan pangling dengan kilau kulit si wanita yang sangat bercahaya. Rupacanya sebulan penuh digosok lulur (dan tidak mandi).

Beres dengan urusan mandi, si wanita lalu lanjut pada upacara Ditangas. Tak lain adalah mandi uap dengan rempah yang terdiri dari daun jeruk purut, daun pandan, akar wangi, daun dilem dan sereh. Uap rempah ini bertujuan untuk membersihkan dengan lebih dalam sisa-sisa luhur, dan mencegah keluarnya keringat yang berlebihan.

Perangkat yang dibutuhkan pada upacara Ditanggas ini adalah kursi bambu yang telah dilubangi di bagian tengah yang disebut dengan pelupu, dan sehelai kain atau tikar pandan untuk menutupi seluruh tubuh si wanita selama proses penguuapan.

Setelah beberapa belas menit, si wanita harus segera bersiap menjalani proses selanjurnya yaitu kerik, potong centung, dan pakai pacar. Proses ini dilakukan oleh tukang rias. Maka, sebelum proses ini berlangsung ada upacara kecil yang intinya adalah serah terima tanggung jawab dari Tukang piare ke tukang rias.

Kerik sendiri merupakan proses penghilangan bulu-bulu halus yang tumbuh di tengkuk, dahi, dan pilih. Potong centung adalah memotong dan merapikan rambut cabang sedemikian rupa hingga membentuk lekukan yang artistik. Sementara pakai pacar tak lain adalah mewarnai kuku calon pengantin pengantin dengan daun pacar Cina yang akan memberi warna merah kejingga-an.

Setelah itu, si wanita akan diandani dengan riasan tipis dan pakaian ala None Betawi. Malam jelang hari pengantin ini calon pengantin wanita akan menerima nasihat dan wejangan sebagai bekal kehidupan rumah tangga.(*)

 

Teks. Tim Mahligai
Sumber. Majalah Bella Donna The Wedding

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here