Simbol-Simbol Pengikat Cinta, dari Roti Buaya hingga Sirih Ayu

0
385
Foto: Dokumenbtasi Mahligai

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa pada pernikahan adat Betawi, ada sepotong roti berbentuk buaya yang selalu dihadirkan? Konon, buaya laki hanya setia pada satu buaya perempuan saja sampai mereka mati.

Selain suku Betawi,beberapa suku lain pun memiliki simbol pengikat cinta. Semuanya memiliki makna masing-masing.

BETAWI
Kesetiaan Buaya Laki

Roti buaya merupakan simbol pernikahan adat Betawi. Setiap acara pernikahan yang mengusung adat Betawi, pasti tak pernah meninggalkan roti buaya. Di antara nampan-nampan atau boks serah-serahan yang dibawa oleh pihak calon pengantin pria, roti buaya-lah yang menjadi ‘pemeran’ utama.

Konon, alasan masyarakat Betawi menggunakan simbol buaya, bahwa buaya laki hanya setia pada satu pasangan buaya perempuan sampai mereka mati. Biasanya roti buaya yang dibawa pada saat pernikahan adat Betawi berjumlah tiga roti, yang pertama menandakan roti buaya jantan, yang kedua roti buaya perempuan dan ditambah dengan roti buaya anakan. Sehingga simbol inilah yang menjadi ciri khas pernikahan masyarakat Betawi.

Selain roti buaya, mempelai pengantin laki-laki juga memberikan uang mahar, perhiasan, kain, baju kebaya, selop, alat kecantikan, serta beberapa peralatan rumah tangga. Dari sejumlah barang yang diserahkan tersebut, roti buaya menempati posisi terpenting. Bahkan, bisa dibilang hukumnya wajib. Sebab, roti ini memiliki makna tersendiri bagi warga Betawi, yakni sebagai ungkapan kesetiaan pasangan yang menikah untuk sehidup-semati.

MINANG
Pahit Manis Sirih Pinang

Prosesi pernikahan secara adat Minang seakan tak terpisahkan dari keberadaan sirih pinang lengkap. Pada saat upacara meminang, maka barang utama yang dibawa adalah sirih pinang lengkap. Apakah disusun atau dibawa dengan carano atau kampia tidak jadi soal. Yang penting sirih harus ada. Tidaklah disebut beradat Minang sebuah acara meminang, kalau tidak ada seperangkat sirih pinang disertakan.

Tradisi masyarakat Minang percaya bahwa daun sirih kalau dikunyah menimbulkan dua rasa di lidah, yaitu pahit dan manis, terkadung simbol harapan kearifan manusia sadar akan keurangan-kekurangan mereka. Dengan menyuguhkan sirih di awal pertemuan saat acara meminang, maka segala sesuatu yang janggal tidak akan jadi gunjingan.

Seusai tercapai kesepakatan, maka akan dilanjutkan dengan saling bertukar tanda. Biasanya berupa tenun songket atau bahkan berbentuk keris pusaka. Sebagai simbol pengikat, agar tidak memutuskan kesepakatan yang telah diucapkan.

JAWA
Pisang dan Sirih Ayu
Tradisi pengantin Jawa senantiasa menyertakan serangkaian benda dan perlengkapan yang kaya akan makna. Pada intinya, bermakna doa dan pengharapan serba mulia, serba baik, dan sejahtera. Salah satu perangkat yang harus disertakan dalam tata cara lamaran pengantin adat Jawa adalah berupa pisang ayu dan sirih ayu. Pisang dan sirih ayu sebagai lambang Sedyo Rahayu, yakni suatu harapan kesejahteraan.

Jenis pisang yang dibawa biasanya adalah pisang raja, berukuran besar, matang dan bentuk kulit luarnya bagus. Buah pisang raja yang diletakkan di nampan yang dihias dengan daun pisang atau kertas warna keemasan, yang kemudian diserahkan oleh pihak pengantin pria kepada pihak pengantin wanita. Terdiri dari: buah pisang raja satu tangkep, suruh ayu, gambir, kembang telon, dan lawe wenang (benang lawe).

Suruh ayu, berasal dari dua kata, yakni suruh berarti “daun sirih” dan ayu berarti “cantik”. Daun sirih yang dibawa harus dalam kondisi yang baik, mengandung maksud daunnya masih utuh dan segar. Suruh ayu mempunyai makna simbolis yang menggambarkan calon mempelai wanita, ketika menjadi pengantin, hendaknya terlihat segar dan menarik. Segar dan menarik menyimbolkan kebahagiaan. Daun sirih yang digunakan harus yang temu ros “bertemu ruasnya” hal ini melambangkan bahwa sepasang pengantin dipertemukan dahulu.

Gambir merupakan kelengkapan dalam menginang, gambir digunakan supaya rasanya semakin mantap. Makna simbolik penggunaan gambir dalam upacara lamaran melambangkan kemantapan hati pihak calon mempelai mempersunting calon pengantin wanita.

Kembang telon terdiri dari tiga macam bunga terpilih diantara bunga yang lain, yaitu mawar, melati dan kantil. Dipilih tiga macam bunga tersebut mempunyai makna simbolik bahwa ketiga bunga tersebut merupakan bunga yang menjadi ‘’raja’’ di taman. Menggambarkan bahwa si gadis yang dilamar adalah bunga terindah di taman yang layak untuk menjadi pendamping hidup calon mempelai pria.

Teks. Tim Mahligai

LEAVE A REPLY