Eits! Penasaran Ada Sinden Unik Tanpa Wajah dari Bengkulu

0
43

Sinden biasanya sosok perempuan Jawa dengan kebaya dan jago bernyanyi hingga nada tinggi melengking. Kalau sinden tanpa wajah? Jangan ‘hiyyyy!’ dulu…

Ya, biasanya sinden adalah penyanyi alias pelantun tembang Jawa yang mengiringi setiap pagelaran wayang atau pertunjukan musikal khas Jawa.

Di daerah Rejang Lebong, kebudayaan Rejang begitu kuat dan kebanyakan berakulturasi dengan budaya Jawa. Kesenian Rejang pun ada yang mirip-mirip dengan kesenian Jawa.

Baca Tarian Tradisional Khas Papua Bukan Hanya Sajojo Loh!

Dalam kesenian Rejang, ada penyanyi yang mirip sinden tapi disebut dengan sebutan ‘Nyamei’ atau ‘Ngandak’. Tradisi menyamei atau mengandak ini memang jarang terdengar karena sudah sangat langka banget. Itulah kenapa perlu dilestarikan.

Baca Wah! Ini 6 Momen Pingitan dari Berbagai Suku di Indonesia

Tradisi Menyambei sendiri biasanya dilakukan setelah dilakukan Tari Kejei. Tapi tradisi ini banyak mengalami perubahan, salah satunya saat tari ini dibawakan hanya dengan nyanyian saja. Demikian lansiran Kupas Bengkulu.

Apakah persamaan dari Sinden dan Penyamei?

Baca Wow! Ini 4 Tradisi Malam Menjelang Lepas Masa Lajang

Sama-sama melantunkan nyanyian, tapi perbedaan paling mendasarnya lagu yang dinyanyikan Penyamei selalu lagu atau nyanyian sedih. Saking sedihnya malah seringkali suka membawa atmosfir yang sangat menyedihkan sehingga penonton menitikkan air mata.

Baca Yuk! Kenali Keseruan Bebunyian Karinding dari Bandung

Untuk perbedaan lainnya, rupa wajah Penyamei selalu ditutupi kipas. Lalu untuk lantunan musik, biasanya malah tidak ada, atau hanya didampingi bebunyian dari seruling saja. Demikian pemaparan dari Samsul Hilal, anggota Badan Musyawarah Ada (BMA) Rejang Lebong.

Serunya lagi, ada ciri khas lain seputar Penyamei yang tak kalah unik dan beda banget dengan sinden: Penyamei Rejang bisa dilakukan laki-laki, jadi tak hanya perempuan saja.

Baca Wah! Deretan Makanan Tak Biasa Ini Hanya Boleh Disantap Raja

Nah, untuk penyamei laki-laki tidak perlu ditutupi dengan kipas. Demikian tradisi yang dilakukan.

Tentu saja kita harus menonton atau minimal melihat lantunan Penyamei jika sedang jalan-jalan ke Bengkulu, nih!

 

 

 

O.J.

Sumber: Kupas Bengkulu

Foto: Good News from Indonesia

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here