Tata Cara Ngebakan : Prosesi Siraman Adat Sunda

0
6336
Ilustrasi Prosesi Siraman - Foto, George Bharata

Dalam tradisi Jawa, prosesi membersihkan diri dengan “memandikan” calon pengantin menjelang pernikahan disebut sebagai “siraman.”  Sementara di tanah Sunda, ritual simbolis yang bermakna menyucikan calon pengantin sebelum akad nikah ini disebut prosesi “ngebakan.”

Prosesi ngebakan umumnya digelar seminggu atau tiga hari menjelang hari peresmian pernikahan. Baik calon pengantin wanita maupun pria, semuanya melalui prosesi ini secara terpisah di kediaman masing-masing. Bagi calon pengantin beragama muslim, terlebih dahulu akan digelar pengajian dan pembacaan doa khusus.

Setelah itu, barulah prosesi ngebakan dilaksanakan dengan tata cara sebagai berikut.

Ngecagkeun Aisan. Calon pengantin wanita keluar kamar yang secara simbolis digendong (atau diais, dalam bahasa Sunda) oleh sang ibu. Sementara ayah calon pengantin wanita berjalan di depan sembari membawa lilin menuju tempat sungkeman. Menurut beberapa sumber, prosesi ini bermakna tanggung jawab orangtua kepada anaknya.

Ngaras. Setelah itu, calon pengantin wanita melakukan sungkeman dan membasuh kaki kedua orang tua sebagai simbol penghormatan dan permohonan ijin. Siapkan tikar dan handuk untuk prosesi ini. 

Pencampuran Air Siraman. Kedua orang tua akan menuangkan air siraman ke dalam bokor, sejenis wadah besar yang cekung dan bertepi lebar terbuat dari logam. Lalu mengaduk air siraman untuk upacara ngebakan. Air siraman berisi bunga setaman dari 7 macam bunga wangi, dua helai kain sarung, dua helai selendang batik, satu helai handuk, pedupaan, baju kebaya, payung besar, dan lilin.  

Ngebakan. Ritual ngebakan sendiri diawali dengan permainan musik kecapi sling. Calon pengantin wanita dibimbing oleh perias menuju tempat prosesi Ngebakan dengan menginjak tujuh helai kain. Siraman dimulai dari sang Ibu, Ayah, dan disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiram ganjil yaitu 7,9 atau paling banyak 11 orang.

ngebakan
Tempat Prosesi Ngebakan – Dok. Mahligai

Potong Rambut. Calon mempelai wanita dipotong rambutnya oleh kedua orangtua sebagai lambang untuk memperindah diri baik secara lahir dan batin. Setelah rambut dipotong, acara dilanjutkan dengan prosesi ngeningan. Pada prosesi ini calon pengantin wanita juga akan dicukur bulu-bulu halus pada wajah, kuduk, membentuk amis cau/sinom, membuat godek serta kembang turi.   

Rebutan Parawanten. Sembari menunggu calon pengantin dirias, para tamu undangan menikmati acara hahampangan dan beubeutian. Hahampangan sendiri ialah aneka makanan ringan seperti ranginang, opak, saroja, kue bugis, wajik, kue lapis, dan lain sebagainya. Sedangkan beubeutian ialah makanan yang sifatnya tumbuh di dalam tanah lalu diolah dengan cara direbus atau dikukus seperti, ubi-ubian, kacang, talas, singkong, dan sebagainya. Pada acara ini juga dilakukan pembagian air siraman.

Suapan Terakhir.  Pemotongan tumpeng oleh kedua orangtua calon mempelai wanita dan dilanjukan dengan acara memberi suapan terakhir kepada anak sebanyak tiga kali.  Suapan terakhir menjadi simbol pelepasan orangtua kepada calon mempelai wanita untuk hidup mandiri dengan keluarga baru kelak setelah menikah.

Tanah Rambut. Kedua orangtua akan menanam potongan rambut calon mempelai wanita di tempat yang telah ditentukan. Penanaman rambut ini bermakna sebagai membuang atau menguburkan masa lalu calon mempelai yang dirasa kurang baik. *

Baca Juga : Tata Cara Prosesi Mitoni : Tujuh Bulanan Adat Jawa

Text. Tim Mahligai Indonesia | Berbagai Sumber

 

LEAVE A REPLY