Tradisi Janur Kuning di Nusantara dan Filosofinya

0
343
janur kuning
Ilustrasi Janur - Foto. Yuniar Johan. Ferdy Portole

Saat melihat janur kuning ‘melengkung’ Anda tentu sudah paham bahwa di daerah tersebut tengah berlangsung sebuah pesta pernikahan. Ya., lipatan daun kelapa muda ini memang lazim dimanfaat sebagai petunjuk oleh sang empunya hajat bahwa di tempat tersebut tengah berlangsung sebuah perayaan besar.

Simbolisasi janur kuning sendiri sebenarnya telah berlangsung selama berabad silam di Nusantara, terutama pada suku Jawa, Bali, dan Sunda. Bukan hanya berfungsi sebagai penghias semata, janur ternyata juga mengandung makna filosofis tertentu.

Dari segi bahasa, kata janur berasal dari bahasa Arab yang artinya cahaya dari surga sedangkan kata kuning diambil dari bahasa Jawa yang berarti suci. Sama halnya dengan masyarakat Jawa yang mengartikan janur sebagai ‘sejating nur’ yang berarti cahaya sejati. Janur memiliki makna bahwa sejatinya manusia membutuhkan cahaya dari Tuhan Yang Maha Esa untuk dapat melihat jelas hal yang baik dan buruk.

Janur kuning sendiri merupakan daun muda dari beberapa jenis tumbuhan palma besar, terutama kelapa, enau, dan rumbia yang biasanya dirangkai menjadi untaian menjulang ke atas menyerupai umbul-umbul. Namun belakangan kreasi rangkaian janur kuning semakin unik dan beragam.

Tradisi Janur di Bali

Di Bali pemanfaatan janur lebih luas lagi. Rangkaian janur yang disebut penjor ini biasanya juga digunakan dalam upacara adat penduduk setempat. Penjor biasanya dirangkai dalam berbagai bentuk dan umumnya berupa umbul-umbul yang diikat pada sebuah bambu panjang dan dipasang di tepi jalan. Menurut kepercayaan masyarakat di sana, penjor merupakan sesuatu yang sakral.

Masyarakat bali akan menggunakan janur yang dilengkapi dengan bunga, dedaunan, buah-buahan, jajanan pasar dan wewangian (dupa) sebagai sebuah sajen atau persembahan untuk Yang Maha Kuasa. Penjor ini dibuat untuk mengungkapkan rasa syukur atas anuugerah yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Dalam beberapa kesempatan, janur dapat digunakan sebagai sarana tolak bala, menangkal kejahatan atau menghindar dari maksud buruk.

Tradisi Janur di Jawa

Dalam tradisi Jawa, janur dianggap sebagai simbol kebahagiaan ini diolah menjadi beragam bentuk dan fungsi. Selain dibentuk bulat semacam bokor dan umbul-umbul yang berfungsi sebagai penanda atau petunjuk, janur juga dirangkai menjadi kembar mayang (sepasang hiasan dekoratif yang dipajang di pelaminan).

Dalam upacara perkawinan adat Jawa, kembar mayang digunakan sejak prosesi midodareni sampai prosesi panggih. Hiasan dekoratif ini pun menjadi simbol penyatuan dua individu dalam wadah rumah tangga. Sementara warna keputihan pada janur diharapkan menjadi doa agar cinta dan kasih sayang diantara mempelai dapar selalu muda laksana sebuah janur.

Teknik Anyam Rangkaian Janur

Ada tiga teknik utama dalam membuat rangkaian janur, yaitu melipat, mengiris atau memotong, dan menganyam. Teknik khusus ini dapat dipadukan dengan inovasi baru, yaitu memadukan teknik tradisional janur pada rangkaian bunga tren masa kini.

Bagi masyarakat Hindu di Bali, seni merangkai janur juga disebut ‘mejejahitan’, suatu prakarya dengan bahan utama janur dan aneka dedaunan. Disebut jejahitan karena cara cara merangkainya menggunakan teknik jahit dengan memakai bambu kecil yang disebut biting/semat. Berkat kemajuan teknologi, biting atau semat tersebut sudah digantikan oleh staples. Alat ini akan lebih memudahkan dan menghemat waktu dalam proses merangkai janur.  Agar rangkaian janur tetap terlihat estetik, arah dan jarak staples tetap harus diperhatikan.

Menurut Ineke Turangan, perlu kiat tersendiri agar keindahan janur bisa bertahan lebih lama. Menurut Ineke Turangan, janur harus menghindari desain yang banyak menggunakan irisan karena selain cepat kering setelah diiris, warna janur akan mudah berubah menjadi kecoklatan.

Dalam merangkai janur kuning pun, daun-daun yang dipasang harus menggunakan teknik yang baik dan tidak boleh digunting, karena dipercaya janur dengan rangkaian tersebut akan membuat mempelai mampu menghadapi segala persoalan hidup.

 

Teks. Mahligai-Indonesia
Sumber. Majalah Mahligai Edisi ke-19 dan Buku Tatanan Baru Rangkaian Janur Gaya Indonesia karya Etnik Padmini Yuwati Dewabrata Spd.

LEAVE A REPLY