Tedak Sinten : Prosesi Unik Saat Si Buah Hati Mulai Menginjak Bumi

0
72

Tedak Sinten berasal dari dua kata, yaitu tedak yang berarti menapakan kaki dan sinten yang berasal dari kata siti yang artinya tanah. Dalam tradisi Jawa, prosesi ini digelar guna menandai bayi yang sudah mulai belajar berjalan. Biasanya saat bayi telah berusia 7 lapan atau 7 x 35 hari. Di masa inilah anak biasanya sudah mulai belajar duduk dan belajar berjalan.

Bagi masyarakat jawa, tradisi ini memiliki makna filosofi sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah air yang telah memberikan banyak hal dalam hidup manusia di bumi ini. Meskipun sudah jarang diterapkan oleh generasi masa kini, namun tak ada salahnya jika kita mengenal kembali prosesi unik dari Tedak Sinten di sini.

Pembuka

Acara diawali dengan kata sambutan orang tua si bayi, lalu dilanjutkan nasehat yang biasa disebut ular-ular. Kakek dari pihak ayahlah yang umumnya diserahi tugas ini, sedang kakek dari pihak ibu bertugas memimpin doa. Bila mereka merasa kurang mampu, tugas itu bisa diwakilkan pada seorang pemuka agama.

Siraman

Dalam tradisi jawa, prosesi siraman sering diartikan sebagai prosesi penyucian diri. Begitu pula siraman dalam prosesi tedak sinten. Prosesi memandikan bayi dengan air bunga setaman ini dimaksudkan untuk mensucikan bayi dari segala hal buruk. Prosesi siraman diawali dengan sungkeman orang tua si bayi kepada ayah-ibu dan mertua untuk memintakan restu bagi bayi yang akan diupacarakan. Lalu, bayi dimandikan oleh kedua orangtua mereka serta kakek-nenek. Usai siraman, bayi dikenakan busana bermotif jumputan atau bisa juga warna putih bersih sebagai lambang kesucian.

Injak Tanah

Inilah inti dari prosesi tedak sinten. Bayi akan diajak menginjak lalu bergerak menapaki jadah atau sejenis uli beraneka warna menuju sebuah kursi yang berada di atas anak tangga. Ada tujuh warna jadah yang harus dilewati yakni merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga, dan ungu.

Jadah merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui oleh si anak, mulai dia menapakkan kakinya pertama kali di bumi ini sampai dia dewasa, sedangkan warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak akan menghadapi banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya. Jadah warna disusun mulai dari warna gelap ke terang, hal ini menggambarkan bahwa seberat apapun masalah pasti ada solusinya.

Masuk Kurungan

Setelah melangkahi jadah dan duduk di atas kursi, bayi diturunkan untuk menjalani prosesi masuk kurungan. Fungsi kurungan dalam prosesi ini adalah sebagai simbol, bahwa setiap orang tua wajib menjaga dan melindungi anaknya hingga si anak tumbuh menjadi orang yang berguna dan berakhlak mulia.

Saat itu, bayi akan diletakkan di dalam kurungan untuk memilih salah satu benda yang diletakkan di dalam kurungan, antara lain mendapat cincin, alat tulis, kapas dan lain sebagainya yang mungkin tergantung dengan perkembangan zaman. Barang yang dipilih si anak konon merupakan gambaran dari kegemaran dan juga pekerjaan yang akan diminatinya kelak setelah dewasa.

Nyebar Udek-udek

Udek-udek yang berisi beras kuning dan uang receh kemudian akan disebar lalu diperebutkan oleh anak-anak yang hadir. Saat udek-udek disebar, seekor ayam dilepaskan sebagai tanda dimulainya bayi menjejaki bumi, menjalani, dan mencari penghidupan. Ayam dipilih sebagai simbol binatang rajin mengais rejeki.

Potong Tumpeng

Prosesi pun ditutup dengan acara potong tumpeng sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Tumpeng yang dipilih adalah tumpeng selamat, yaitu tumpeng putih dilengkapi ayam ingkung, sayur kluwej, sambel goreng krecek, tempe, tahu dan beberapa jenis makanan lainnya.(*)

 

Teks. Tim Mahligai.
Fotografer : Art U
Dokumentasi : Kel.. Nani Swardiningrat (Dok. Majalah Mahligai Edisi ke-2 tahun 2007)

LEAVE A REPLY