Wah! Ini Toh Keseruan Tradisi Maudu’ Lompoa dari Sulawesi Selatan (Bag.2)

0
8

Setiap daerah di Negeri Nusantara ini pasti punya tradisi dan budaya yang berbeda-beda.  Termasuk tradisi Maudu’ Lompoa ini. Seseru apa, nih?

Sebelumnya sudah kita bahas di bagian pertama, Maudu’ Lompoa adalah tradisi maulid yang dirayakan warga Takalar guna memperingati harinya Nabi Muhammad SAW.

Keseruan tradisi ini ada pada puluhan pemuda bergotong royong mengarak julung-julung (replika kapal).

Secara makna, tradisi ini ditujukan untuk menanamkan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.

Maudu Lompoa Cikoang sendiri adalah pesta keagamaan masyarakat Cikoang yang sarat dengan nilai-nilai budaya yang terus dilestarikan turun-temurun.

Sekarang, ternyata ada kisah lagi dibalik tradisi ini.

 

Dibalik Maudu’ Lompoa

Kisah dibalik tradisi Maudu Lompoa memang sangatlah panjang.

Sehingga banyak turis lokal dan mancanegara ingin mengetahui apa kisah dibalik tradisi tersebut dan kenapa masyarakat Takalar begitu antusias menyambut perayaan tersebut.

Menurut sejarah yang dipercaya masyarakat Takalar. Maudu’ Lompoa ini bermula saat Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid datang ke Sulawesi Selatan pada abad ke-17.

Saat itu Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid tiba di kerajaan Gowa-Makassar. Sayyid Djalaluddin sendiri adalah seorang ulama besar asal Aceh. Ia adalah cucu tokoh terkenal Sultan Iskandar Muda Mahkota.

Selain itu, Sayyid juga punya darah keturunan Arab Hadramaut, Arab Selatan, dan juga masih keturunan Nabi Muhammad SAW ke-27.

Karena memiliki darah keturunan bukan orang sembarangan, maka Sayyid Djalaluddin kemudian diangkat sebagai Mufti kerajaan oleh Sultan Alauddin, lalu namanya diganti menjadi Muhammad al-Baqir I Mallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin.

Saat tiba di Sulawesi Selatan, Sayyid Djalaluddin membawa serta dua naskah agama dari Aceh yakni, Akhbarul Akhirah dan Ash-Shiratal Mustaqim.

Naskah-naskah karangan Nuruddin ar-Raniriy tersebut juga sempat dipelajari oleh Syekh Yusuf sebelum diberangkatkan ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmunya.

Demikian kira-kira makna tradisi ini.

Lalu bagaimana dengan tahapan proses Maudu’ Lompoa?

Ini dia:

 

1. Angngantara’ kanre Maudu (mengantar persiapan Maulid)

Lokasi maudu’ adalah di tepi Sungai Cikoang. Pada pagi hari tanggal 29 Rabiul Awal setiap tahun segala persiapan dan peralatan diantar ke sana oleh masing-masing pemiliknya dengan doa-doa khusus yang dipanjatkan.

2. Pannarimang kanre Maudu (penerimaan nasi Maulid)

Penerimaan ini dilakukan oleh guru yang memimpin upacara, dengan membakar dupa dan duduk bersila menghadap kiblat sambil membaca doa agar persembahannya diterima dan menyenangkan Rasulullah SAW.

3. Rate’(pembacaan syair pujian pada Rasulullah SAW dan keluarganya)

A’rate’ (inti acara) artinya membaca kisah atau syair-syair pujian terhadap Rasulullah SAW dan keluarganya dengan lagu dan irama tersendiri yang amat khas dan menyentuh hati.

4. Pattoanang (Istirahat)

Ini adalah jamuan makan untuk undangan yang telah disediakan sesudah selesai upacara inti. Makanan yang dihidangkan dibuat sendiri oleh penyelenggara acara dan para undangan dapat menikmati makanan dan minuman sambil beramah ramah.

5. Pambageang Kanre Maudu’(Pembagian Nasi Maulud)

Setelah acara selesai, tamu-tamu yang datang dibekali makanan untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing sebagai berkah dari hadrat Nabi oleh penyelenggara, menurut tingkatan sosial di dalam masyarakat.

 

 

 

 

 

Tim Mahligai Indonesia

Foto: Raiyani Muharramah – wikipedia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here