Wajah Baru Batik Tulis

0
1116
Batik Tulis
Batik Corak Jerapah - Mahligai

Batik tulis kontemporer kualitas premium kini banyak dikembangkan untuk membidik pasar eksklusif kelas atas. Kreasi batik juga dituangkan pada berbagai bahan serat alam, bukan hanya katun atau sutra. Itulah kreasi batik tulis kontemporer yang lebih punya warna-warni dan variasi corak motif.

Bila menyinggung perihal batik tulis, tidak keliru bila Anda kemudian membayangkan motif-motif batik klasik yang selalu terikat oleh pakem-pakem motif atau corak batik tradisional kuno. Namun, bila anggapan batik tulis hanya sebatas motif tradisional yang penuh batasan etika dan tata aturan pakem batik tradisional, tentu akan sirna ketika berkunjung ke pagelaran batik kontemporer yang belum lama ini dipamerkan di Museum Tekstil, Jakarta. Mengusung tajuk Batik Kontemporer: Teknik Batik Sebagai Media Transfomasi Budaya, makin tergambar ragam hias motif batik tulis kontemporer yang begitu indah dan eksklusif.

Kehadiran batik tulis kontemporer tentunya erat kaitannya dengan ‘kebangkitan’ era batik. Apresiasi masyarakat umum terhadap batik tak perlu diragukan. Kebutuhan akan batik pun kini kian berkembang, sejak pengakuan UNESCO akan batik sebagai world heritage dari Indonesia. Bila dahulu batik hanya sebatas digunakan dalam beberapa macam pakaian adat/ daerah seperti berupa kain panjang, sarung, kemben, selendang dan dodot, namun sekarang ini batik sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan busana sehari-hari.

Tak pelak lagi, kebutuhan akan permintaan batik yang sangat besar ini berimbas pada arah ‘industrialisasi’ produk batik, untuk memenuhi permintaan masyarakat yang bertumbuh pesat. ‘’Sebagian besar sentra-sentra batik cenderung membuat desain batik atau polanya lebih banyak mengikuti selera pasar. Pembuatan batiknyapun secara sederhana. Sehingga, kualitas batik yang ada pada umumnya tidak seindah batik dulu,’’ ungkap Dwita Herman, seorang kolektor batik.

Dampak berkembangnya ‘industrialisasi’ pembuatan batik sekarang ini, berimbas pada makin berkurangnya jumlah pembuatan batik tulis yang berkualitas halus. ‘’Ini memang imbas dari ‘’market’’ yang membentuk perilaku konsumen batik dewasa ini. Namun, kita juga tidak menginginkan pembuatan batik yang berkualitas halus semakin sedikit, bahkan hilang,’’ sambung Dwita.

Sejatinya, industri bisa berkembang dengan lebih besar dan luas, karena peminat batik bisa terbagi menjadi dua katagori. Yakni, batik fashion yang digunakan sehari-hari dengan harga yang terjangkau, dan satu lagi adalah batik yang dijadikan sebagai barang koleksi –dan tentunya harganya spesial karena pembuatannya yang sangat spesial juga.

BATIK TULIS EKSKLUSIF

Batik Tulis
Batik Corak Partitur Musik – Mahligai

Kebangkitan kembali pembuatan batik-batik tulis berkualitas premium memang tak terlepas dari dorongan para pecinta dan kolektor batik. Dwita Herman misalnya, ia kerap blusukan ke sentra-sentra batik di beberapa wilayah di Jawa, demi tujuannya untuk membuat batik-batik tulis dengan pengembangan desain baru. Adanya pengembangan dan perubahan desain batik disertai pewarnaan dengan nuansa warna kontemporer, maka batik-batik tulis yang tercipta pun mempunya ‘wajah baru’.

Wajah baru batik tulis memang kemudian lebih popular disebut batik kontemporer. Proses pembuatannya tetap menggunakan proses tradisional batik Jawa dan Bali. Yakni, menggunakan lilin untuk pembuatan motif dan perintang warna, kemudian pencelupan untuk memberi warna, dan lorot (pelunturan lilin dari atas kain). Hanya saja, ragam corak batik tulis kontemporer lebih memperlihatkan eksplorasi dan komplasi dari inspirasi motif-motif tradisional, sehingga terciptalah motif-motif baru yang lebih variatif.

Salah satu seniman batik yang mengolah ragam motif batik kontemporer adalah Benny Adrianto. Benny sengaja mengusung kompilasi rancangan yang berbasis klasik tradisional menjadi lebih kontemporer.

Menurut Benny, batik kontemporer adalah batik yang sifatnya personal. “Tidak ada motif yang pakem, yang penting pengembangan bentuk motif tradisional,” tambah dia.

Pasalnya, menurut Benny, setiap motif dapat dikembangkan sehingga lebih bervariasi dan terlihat lebih modern. Benny misalnya, dia menggabungkan eksplorasi dari beberapa motif klasik sebagai dasar dari desain batik kreasinya, sehingga menghasilkan ragam pola yang unik, menarik, dan berkonsep kekinian. Pandangan lain tentang batik kontemporer dikemukakan Abdul Syukur, desainer batik asal Yogya. Menurut dia, batik kontemporer merupakan batik-batik baru, dalam arti motif-motif batik dapat dikembangkan menjadi motif baru, asalkan motif tersebut tidak melenceng dari esensinya.

Batik Tulis
Batik Corak Pagi Sore – Mahligai

Apapun pandangan dan definisi batik kontemporer, tentunya ada kesamaan tujuan dari para desainer maupun koletor batik tulis. Yakni, untuk menjaga proses kreatif demi pelestarian dan pengembangan batik. Proses kreatif pembuatan ragam hias dan desain batik baru pun tak luput dari ‘kompilasi’ atau penggabungan ragam motif atau ornamen tradisional nusantara dengan pengaruh budaya dari luar. Diantaranya, inspirasi dari ragam budaya Arab, Cina, India, pengaruh tradisi Islam, bentuk flora dan fauna, serta pengaruh benda seni lainnya, sebutlah seperti wayang, kipas, hingga bentuk not balok pada music. Dengan teknik gambar stilasi, maka tercipta ragam motif baru batik tulis yang memukau dan eksklusif.

Produk batik tulis premium ini tentunya menyasar market kalangan menengah ke atas, seperti para kolektor batik dan pecinta wastra. Setiap helai kain dibuat secara custom sehingga memberikan nilai prestisius bagi pemiliknya. Menurut kolektor batik Dwita Herman, batik tulis kontemporer ‘’wajah baru’’ koleksinya memang tergolong eksklusif. Pasalnya, Dwita hanya membuat satu helai batik untuk setiap motif atau desain batik tulis koleksinya.

‘’Batik tulis ini lebih merupakan karya kreatif seni. Satu desain batik, hanya dibuat satu helai saja. Proses pengerjaan bisa lebih dari 3 bulan untuk setiap helai batik, tergantung panjang wastra batiknya. Jadi tidak ada lembar batik yang memilki kesamaan motif maupun warna,’’ ungkap Dwita yang batik koleksinya seharga belasan hingga puluhan juta rupiah.

ARABESQUE

Batik Tulis
Corak Arabesque – Mahligai

Eksplorasi desain wastra batik kontemporer tak luput dari pengaruh kultur Arab Islami. Formasi ubin lantai berbentuk geometris dari arsitektur bangunan-bangunan Islam, serta bentuk sulur-sulur darun dan tanaman merambat yang dikenal dengan istilah Arabesque menjadi salah satu isnpirasi ragam hias batik tulis kontemporer. Percobaan untuk membuat batik dengan ragam hias Arabesque beraneka warna bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan oleh apra pembatik. ‘’Mereka pada umumnya sudah terpaku pada ragam hias pola tradisional. Sehingga untuk mengaplikasikan ragam bias pola baru, pada umumnya memakan waktu lama.’’ Terang Dwita.

PENGARUH INDIA

Batik Tulis
Kain Panjang-Pohon Kehidupan – Mahligai

Tekstil India telah diperdagangkan ke berbagai belahan dunia, termasuk di wilayah Adia Tenggara sejak berabad yang lalu. Dahulu tekstil India merupakan barang mewah yang menjadi bagian pusaka keluarga di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa diantaranya, telah menjadi bagian dari budaya setempat yang digunakan untuk berbagai upacara. Ragam motif batik tulis yang dikembangkan oleh sejumlah perajin batik dewasa ini, juga terinspirasi oleh gambar-gambar kain India yang diperoleh dari sejumlah buku. Ragam motif yang terinspirasi dari kultur India memiliki pola yang sangat khas, seperti bentuk siluet orang dan pohon-pohon kehidupan yang merupakan pengaruh filosofi kultur Hindu-India, hingga pola hias bentuk ubin dari Kashmir yang dipadukan dengan corak paisley yang pernah popular di negara Eropa, dan tetap digemari di negara Asia Selatan dan Tengah, bahkan di Indonesia.

PENGARUH CINA

Batik Tulis
Batik Motif Burung Hong & Tiga Dewi – Mahligai

Budaya Cina telah lama hadir di nusantara turut memberi andil terhadap perkembangan ragam hias batik, terutama yang berasal dari daerah pesisir Utara Jawa, seperti Lasem dan Cirebon. Ragam hias  pengaruh budaya Cina yang kemudian dikembangkan untuk desain batik tulis kontemporer kini banyak diilhami dari lukisan tradisional, gambar-gambar pada keramik atau porselen asal Tiongkok atau Cina, dan simbol-simbol dalam mitologi Cina. Sebutlah seperti motif awan, bunga-bunga dan burung hong, hingga ragam hias naga atau liong, lampion, hingga buketan (taman bunga-bunga) merupakan salah satu ciri khas dari eksplorasi ragam hias batik kontemporer dalam tampilan kekinian. Ragam motif ini sekarang banyak dikembangkan oleh perajin batik tulis dari Cirebon.

 

Teks: Dwi Ani Parwati
Foto: Allan Likumahua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here