Yuk Mengenal 5 Kain Adat Tradisional Indonesia

0
1899

 

Indonesia terkenal dengan beraneka ragam suku, budaya dan adat istiadatnya. Selain budaya dan adat istiadat, tiap-tiap daerah juga memiliki kain tradisionalnya sendiri. Tiap-tiap daerah juga memiliki ciri khasnya tersendiri. Namanya juga kain tradisioanal, dibuatnya pun secara tradisional. Yaitu, memakai alat tenun  yang dipakai secara turun temurun.

Berikut beberapa kain tradisional yang patut Anda ketahui.

  1. Kain Gringsing
commons.wikimedia
foto: commons.wikimedia

Kain Gringsing adalah kain khas Desa tenganan, bali. Desa Tenganan merupakan salah satu desa yang masih “perawan” dari serangan modernisasi yang telah masuk ke pulau Bali.  Sewaktu saya mengunjungi Desa Tenganan di bali, saya melihat langsung seperti apa proses pembuatan kain Gringsing itu sendiri. Proses pembuatan kain Gringsing itu sendiri sangat unik dan dibutuhkan ketelatenan yang benar-benar konsentrasi. karena, menggunakan teknik double ikat. Proses pembuatannya pun cukup lama, dan memakan waktu sekitar 2 hingga 5 tahun. Kain Gringsing dibuat dan dipintal dari bahan-bahan alami seperti: kapuk berbiji satu yang telah mengalami proses perendaman dalam minyak kemiri khusus yang diambil dari hutan. . Hmmm, butuh perjuangan bukan?

Masyarakat Tenganan memiliki kain gringsing  yang usianya mencapai ratusan tahun lamanya. Kain itu biasanya dipakai untuk upacara khusus. Kata gringsing berasal dari  gring yang berarti “sakit” dan sing yang berarti “tidak”.  Jika digabungkan menjadi ‘tidak sakit’. Maksud yang terkandung di dalam kata tersebut adalah seperti penolak bala. Di Bali, berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan bersandar pada kekuatan kain gringsing.

  1. Kain Songket
foto:songket otonomi.co.id
foto:songket otonomi.co.id

Siapa yang tidak kenal dengan kain songket? Mungkin hampir semua perempuan memiliki koleksi kain songket. Kain Songket berasal dari kebudayaan masyarakat Melayu, Aceh, Minangkabau dan Palembang.

Kain Songket memiliki motif-motif tradisional yang sudah menjadi ciri khas budaya wilayah penghasil kerajinan ini. Misalnya motif Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Silala Rabah, dan Simasam adalah khas songket Pandai Sikek, Minangkabau.

Beberapa pemerintah daerah telah mempatenkan motif songket tradisional mereka. Dari 71 motif songket yang dimiliki Sumatera Selatan, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari 22 motif songket Palembang yang telah terdaftar di antaranya motif Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, dan Limar Beranti. Sementara 49 motif lainnya belum terdaftar, termasuk motif Berante Berakam pada seragam resmi Sriwijaya Football Club.

Selain motif Berante Berakam, beberapa motif lain yang belum terdaftar yakni motif Songket Lepus Bintang Berakam, Nago Besaung, Limar Tigo Negeri Tabur Intan, Limar Tigo Negeri Cantik Manis, Lepus Bintang Penuh, Limar Penuh Mawar Berkandang, dan sejumlah motif lain.

Biasanya, Kain Songket sering dipergunakan untuk berbagai keperluan adat. Tapi, belakangan ini, kain songket sudah dimodifikasi pemakaiannya. Ada yang untuk baju, tas, sepatu, dompet hingga hiasan dinding. Harganya pun bervariatif. Tergantung motif dan bahan songketnya.

  1. Tenun Ikat

Kain tenun ikat sangat identik dengan kain tradisional untuk Indonesia bagian Timur. KainTenun ikat atau kain ikat adalah kriya tenun Indonesia berupa kain yang ditenun dari helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami. Alat tenun yang dipakai adalah alat tenun tradisional sama seperti proses pembuatan kain gringsing, songket dan Ulos. Proses pembuatannya pun cukup rumit. Sebelum ditenun, helai-helai benang dibungkus atau diikat dengan tali plastik sesuai dengan corak atau pola hias yang diingini. Ketika dicelup, bagian benang yang diikat dengan tali plastik tidak akan terwarnai.

Teknik tenun ikat dapat kita jumpai di berbagai daerah di Indonesia bagian timur, seperti; Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor. Kain gringsing dari Tenganan, Karangasem  dan Bali.

  1. Kain Batik
foto:artgalery.nsw.gov.au
foto:artgalery.nsw.gov.au

Kain tradisional Indonesia yang sudah mendunia adalah Batik. Kain batik merupakan kain bergambar yang pembuatannya dilakukan secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu. Proses pengolahannya dengan cara tertentu juga.

Kata batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”. Batik adalah seni melukis dilakukan di atas kain dengan menggunakan lilin atau malam sebagai pelindung untuk mendapatkan ragam hias diatas kain tersebut. Adapun motif batik di Indonesia saat ini sangat banyak. Batik tidak hanya ditemukan di Solo/Yogyakarta. Tapi ada berbagai jenis kain batik khas daerah / provinsi lainnya  yang ada di Indonesia. Seperti batik Cirebon, Batik Tasik, batik Bali dan daerah-daerah lainnya. 

  1. Kain Ulos
foto: wonderfulindoensia
foto: wonderfulindoensia

Kain Ulos adalah kain adat tradisional yang dibuat dan dikembangkan secara turun temurun pada masyarakat Batak yang ada di Sumatera Utara. Ulos yang dalam bahasa batak berarti kain. Proses pembuatannya pun sama seperti dengan kain-kain tradisional lainnya yaitu, dengan alat tenun tradisional.
Warna dominan pada ulos adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Ulos dikenakan di dalam bentuk selendang atau sarung, yang biasanya kerap digunakan pada perhelatan resmi atau upacara adat Batak. Tapi, sekarang ulos banyak di modifikasi dengan membuat rok, kemeja, sarung bantal, tas, taplak meja, dompet dan sebagainya. Harga sehelai ulos pun bervariatif. Ada yang murah namun ada juga yang harganya hingga puluhan juta. Semakin mahal kain ulos yang Anda pakai, maka semakin kelihatan derajat Anda di kalangan masyarakat setempat. Karena Ulos juga merupakan lambang dari kemakmuran orang yang mengenakannya.

 

Very Barus

LEAVE A REPLY