Kemegahan Busana Pengantin Adat Mandailing, Sumatera Utara

0
606
busana pengantin wanita Mandailing
Dok. Majalah Mahligai Edisi 32

Berbicara etnis Sumatera Utara mungkin amat identik dengan suku Batak. Padahal wilayah dengan ibukota Medan ini memiliki beberapa sub etnik lainnya, sebut saja Batak Toba, Angkola/Maindailing, Karo, Simalungun, dan lain sebagainya. Jadi, jangan heran pula bila di satu wilayah Sumatera Utara saja, Sahabat Mahligai akan menemui beragam busana adat yang beragam. Jika di artikel sebelumnya, kami membahas seputar busana pengantin adat Karo, kali ini kami akan menguas busana pengantin Mandailing Sumatera Utara.

Sebagai informasi, Mandailing sendiri merupakan sub etnik Batak yang banyak tersebar di wilayah Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara. Karena suku ini datang di bawah pengaruh perang padri, Minangkabau, maka mayoritas keturunannya dipengaruhi budaya Islam. Beberapa marga yang secara sah diakui sebagai suku Maindailing diantara adalah; Nasution, Lubis, Pulungan, Hasibuan, Harahap, Siregar, dan lain sebagainya.

Bukan tanpa ciri khas, busana pengantin Mandailing ternyata tak kalah unik dengan busana etnik Sumatera Utara lainnya. Jika pengantin Karo memiliki ciri khas pada bentuk tudung kela mempelai wanita maka keunikan pengantin Mandailing ada pada perhiasan megah pada bagian kepala yang disebut Bulang. Sementara untuk pengantin pria, ciri khas busana ada pada penggunaan hiasan kepala berbentuk khas yang disebut Ampu. Selengkapnya langsung saja, mari kita ulas busana pengantin Mandailing satu per satu.

Pengantin Pria Mandailing

Ampu merupakan penutup kepala pengantin pria Mandailing yang terbuat dari bahan beludru hitam dengan ornamen warna emas. Bukan hanya bentuknya yang unik, pemilihan warna pada Ampu juga menyimpang makna filosofis tersendiri. Warna hitam pada Ampu erat kaitannya dengan fungsi magis. Sementara ornamen warna emas mengandung lambang kebesaran dan keagungan orang yang memakainya. Tak pelak, jika di masa lalu Ampu dikenakan sebagai mahkota raja-raja Mandailing.

Untuk busana, pengantin pria Mandailing menggunakan Baju godang atau baju kebesaran yang berbentuk jas tutup terbuat dari kain beludru berwarna hitam. Namun kini, pilihan warna sudah makin variatif, tidak hanya hitam, melainkan juga merah, hijau, ataupun biru sesuai selera pengantin.

Baju godang pengantin pria Mandailing pun dipadankan dengan kain sesamping yang terbuat dari songket atau tenun yang dikenakan dengan cara dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Penggunakan ikat pinggang warna keemasan atau disebut Bobar pun semakin menyempurnakan tampilan gagah pengantin pria Mandailing.

Pengantin Wanita Mandailing

Sebagai lambang kebesaran dan kemuliaan sekaligus simbol dari status sosial seseorang, maka hiasan pada kening dan kepala pengantin wanita yang disebut ini memiliki aturan atau tingkatan teretentu. Bulang terdiri dari tiga macam, masing-masing bertingkat tiga disebut bulang barbo atau kepala kerbau, bertingkat dua atau disebut bulang bambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat.

Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disembelih pada saat menjelang pesta adat pernikahan yang digelar. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disembelih adalah kerbau. Pada jaman dahulu, bulang terbuat dari emas murni, namun kini sudah banyak berganti dengan logam kuningan yang diberi sepuuhan emas.

Aksesori busana pengantin wanita Mandailing pun kian semarak dengan dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Pilihan warna biasanya kuning keemasan atau disesuaikan dengan kain yang membalut badan bagian bawah. Pada masa lalu, selendang terbuat dari kain tenun petani (kain tenunan petani). Namun, kini sudah mulai kembali lagi penggunaan songket atau tenun dari pengrajin Sipirok, Tapanuli Selatan, dengan motif khas Tapanuli Selatan.(*)

 

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY