Tradisi dan Simbol Status di Balik Penutup Kepala

0
173
Topi Etnik Indonesia
Dok. Mahligai Indonesia

Diantara bagian tubuh, kepala memang berada di posisi paling atas. Dan karena itulah berbagai bangsa di dunia percaya bila kepala adalah bagian terpenting dari seluruh tubuh. Kepala juga dipercaya sebagai tempat masuk dan keluarnya roh maupun sukma manusia. Untuk itu kepala harus dilindungi, dihias dan dipelihara. Caranya bisa lewat berbagai macam, misalnya tutup atau tudung kepala.

Berbicara tentang tudung kepala, rasanya hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru dalam peta busana tradisional negeri kita. Suwati Kartiwa, master antropologi University of Pennsylvania, Philadelphia, dalam makalah seminar yang berjudul The Diversity of Indonesia Headdresser as Reflection of Regional as well as International Relationship menegaskan bila tutup kepala orang Indonesia merupakan bagian dari kekayaan busana tradisional Indonesia.

Barangkali Anda masih ingat pelajaran sejarah saat duduk di sekolah dasar dulu dimana deretan nama pahlawan yang dilengkapi dengan gambar sosok menghiasi tiap-tiap halaman buku. Dalam gambar tesebut, biasanya sang pahlawan digambarkan lengkap dengan aksesori yang menghiasi bagian kepala, bisa berupa ikat ataupun tudung. Dan hebatnya, hiasan yang bertengger di kepala itu selalu berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Ambil contoh, hiasan kepala yang digunakan Sultan Hasanuddin, pahlawan asal Sulawesi Selatan yang mendapatkan julukan Ayam Jantan dari Timur, sungguh berbeda dengan tali-tali, hiasan kepala yang digunakan pahlawan asal Sumatera Utara, Sisingamaraja XI. Namun, tidak hanya pahlawan asal daerah berbeda saja yang menggunakan hiasan kepala dengan aneka bentuk, bahkan pahlawan se-daerah pun tampil dengan tutup kepala yang berbeda. Sebut saja Teuku Cik Di Tiro dan Teuku Umar. Keduanya berasal dari Aceh, akan tetapi jenis dan bentuk hiasan kepala yang digunakan berbeda sama sekali. Teuku Cik Di Tiro menggunakan kopiah Riman sedangkan tutup kepala yang digunakan Teuku Umar adalah kopiah Meukutob. Ini membuktikan bila kita memiliki banyak jenis tutup kepala.

Simbol Status

Tak dapat dipungkiri memang selain sebagai penghias, tudung kapala merupakan alat multi fungsi yang memiliki makna dan juga alat identifikasi diri. Tutup kepala juga merupakan simbol kehormatan, kebanggaan dan martabat seseorang. Ia juga dapat merefleksikan nilai-nilai religius, afiliasi seseorang atau personal seseorang. Dan tentu saja tutup kepala juga dikenakan dalam upacara-upcara ritual seperti pernikahan, kelahiran dan kadang-kadang kematian.

Di daerah Nangro Aceh Darussalam misalnya, selain dapat dilihat dari pakaian yang digunakan, status sosial budaya seseorang dapat tercermin dari tutup kepala. Untuk kaum pria Aceh, tutup kepala itu lazim disebut kopiah yang memiliki ragam berbeda. Namun untuk membedakan status, biasanya kopiah yang digunakan kelompok sosial keluarga kerajaan dan bangsawan Aceh adalah kopiah Meuketob. Sedangkan kopiah Riman mempresentasikan kelompok sosial kaum ulama dan rakyat sekitar. Sedangkan kopiah Sulam merupakan representasi kelompok masyarakat.

Demikian juga dengan kaum wanita Aceh. Bagi mereka keturunan raja dan bangsawan, unsur hiasan dari logam mulia yang diikat atau dililit lebih diutamakan dibanding dengan penutup kepala. Ikatan kepala ini lebih berfungsi sebagai hiasan atau mahkota. Contohnya bisa dilihat pada pengantin perempuan dari daerah Aceh Barat.

Sejalan dengan perkembangan jalan dan diberlakukannya hukum Syariah di NAD dimana perempuan wajib menggunakan jilbab, penutup kepala untuk pengantin dimodifikasi dengan menutup seluruh rambut dan leher dengan kain yang halus dan setelah itu pengikat kepala dan perhiasan lain dipasang di kepala.

Itu baru sekelumit tutup kepala dari Aceh, tentunya masih banyak tutup kepala dari daerah lain yang memperkaya khasana kebudayaan nusantara yang patut dipelihara dan dipertahankan.

Teks: Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY