5 Poin Menawan Batik Gedog Tuban Setelah Nyaris Punah

0
176
Foto: EFWI 2018

Kamu pecinta batik tapi belum ngeh dengan kain dari daerah yang satu ini? Kalau memang belum, yuk, kepoin eksistensi batik gedog Tuban ini!

Asal tahu saja, batik asal kabupaten di pesisir utara Jawa Timur  ini mulai banyak diminati karena keistimewaannya. Jadi ini nih saatnya menelusuri apa saja yang bikin batik Tuban ini kian moncer dan dilirik kolektor hingga mancanegara!

 

Unik tekstur kainnya lebih kasar

Material utama batik gedog Tuban menggunakan kain tenun. Tenunnya sendiri dibuat dari kapas yang banyak ditanam di sekitar lokasi pembuat batik. Jalinan tenun kapas inilah yang membuat tekstur kain batik gedog Tuban bila diraba terasa lebih kasar dibanding batik dari daerah lain, seperti Solo, Cirebon, atau Pekalongan. Setiap helai kainnya juga terasa lebih tebal dari kain mori yang biasa dipakai untuk batik dari daerah lain.

 

Dominasi warna gelap

Batik pesisir identik dengan warna-warna ‘ngejreng’ yang cerah dan terang, namun beda dengan batik ini yang didominasi warna lebih gelap. Proses pembuatan cenderung dengan warna alam sehingga lebih gelap. Warna biru berasal dari tanaman indigofera, sementara warna merah kehitaman berasal dari pohon soga tingi. Tak heran bila nuansa gelap monokromatik batik gedog Tuban terkesan elegan diantara batik pesisiran daerah lain.

 

Foto: Eco Fashion Week Indonesia 2018 (EFWI 2018)

 

Baca juga: Kerennya Sajian Rumah Batik dan Tenun Indonesia dengan Karya ‘Emak-Emak’ Pengrajin Tuban dan Ende

 

Motif perpaduan tiga nilai budaya

Motif-motif batik Tuban dipengaruhi nilai-nilai budaya Jawa, Islam dan Tiongkok. Jejak sejarah kota Tuban terukir tiga budaya yang pernah berkembang dan berdampingan harmonis. Perpaduan  tiga corak budaya melahirkan motif-motif yang ‘kaya’ dan variatif pada batik tulis Tuban. Budaya Jawa terlihat di motif bunga, budaya Islam tampak di motif yang relijius seperti kijing miring, dan pengaruh budaya Tiongkok hadir sangat khas pada corak motif burung Hong (phoenix).

 

Asal-muasal nama batik

Istilah ‘gedog’ rupanya berasal dari suara yang dikeluarkan saat proses pemintalan dan penenunan, bunyinya ‘gedog-gedog’. Untuk membedakan dengan kain batik yang sudah lebih populer dari daerah lain, maka istilah ‘gedog’ pun dipakai, bersanding dengan kata ‘Tuban’.

Proses pembuatan batik Tuban ini cukup panjang, berawal dari gulungan kapas dipintal jadi benang, kemudian ditenun jadi selembar kain, setelah itu baru mulai diproses membatik. Seluruhnya dilakukan kelompok pengrajin kain batik Tuban. Beda dengan batik lainnya, yang mendatangkan kain ataupun pewarna bisa jadi dari daerah lainnya.

 

Guratan Batik Gedog yang unik dan elegan | Foto: EFWI 2018

 

Baca juga: Menikmati Gelaran Koleksi Batik Xoela Lenny Agustin di Jakarta Fashion Week 2019

 

Hampir punah

Batik gedog Tuban kembali hadir dan bangkit setelah lama tenggelam dan terlupakan, bahkan nyaris punah. Selain makin berkurangnya jumlah pemintal dan penenun, proses pembuatan batik gedog Tuban pun perlu waktu hampir 3 bulan!

Untungnya, dengan hadirnya pemberdayaan dan pelatihan ke masyarakat pengrajin batik Tuban, batik gedog kini pun mulai bangkit kembali. Sejumlah pengrajin mulai menggeliat berproduksi, antara lain seperti di Kampung Kedungrejo, Kerek, Kabupaten Tuban, aktif membatik kembali.

Tertarik mengoleksi? Coba teliti sebelum membeli. Kenali tekstur kainnya, dan juga jenis batiknya, pilih batik tulis. Maklum, kini makin banyak beredar motif batik hasil printing pabrikan yang tentu kualitasnya jauh dari wastra aslinya.

 

Teks: Dwi Ani Parwati

Editor: Orlando

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here