Keren! Ini 5 Jenis Batik dalam Tradisi Pernikahan Jawa

0
110

Ya, dalam pernikahan tradisional adat Jawa seringkali mata melihat batik sebagai busana baik itu pengantin, orangtua pengantin, bahkan anggota keluarga dan pengiring pengantin. Keren? Itu sudah jadi tradisi, pastinya.

Seperti yang kita ketahui, saat ini batik sudah menjadi salah satu warisan dunia  dari budaya Indonesia yang diakui UNESCO.

Tak sekadar bagian dari keutuhan estetika berbusana Jawa, batik juga sebagai cerminan kedudukan sosial serta bentuk harapan dari si pemakaianya.

Dalam pernikahan adat Jawa, nyatanya batik punya makna tersendiri di setiap prosesi upacaranya, loh!

Misalnya saja …

Penembung
Dalam proses penembung (lamaran) busana yang dikenakan adalah Jawi, artinya memakai kain batik dan baju beskap tanpa keris. Pada proses ini maka status sosial pengantin akan diketahui.

Apabila memakai batik dengan motif parang rusak atau parang-parangan itu tandanya berasal dari golongan leluhur.

Golongan priyayi akan mengenakan batik semenan latar putih, dan untuk golongan sepuh atau kalangan kebanyakan akan menggunakan batik latar hitam.

Paningset

Pada prosesi ini, calon pengantin laki-laki mengenakan batik motif satrio manah. Batik motif satrio manah mengandung makna ‘memanah jantung hati calon istrinya’ dengan harapan kamu akan berbakti selamanya ke pasangan.
Sedangkan calon pengantin wanita yang akan diikat dengan perjodohan mengenakan batik semen rante.

‘Rante’ berarti belenggu, penggunaan kain motif ini dalam pernikahan bermakna bersedia atau sanggup menjadi calon pendamping suami dengan ikatan batin dan bersedia untuk menutup hatinya untuk laki-laki lain.

 

Siraman

Dalam upacara siraman, busana yang dikenakan calon pengantin wanita adalah kain batik wahyu tumuran dan kembenan dengan kain bangun tulak (berlaku di Keraton Surakarta).

Penggunaan kain tersebut sebagai busana siraman bermakna agar dijauhkan  dari segala godaan dan rintangan serta diberikan wahyu.
Sedangkan orangtua akan mengenakan batik cakar sabuk kemben bangun tulak. Nama dari batik cakar diambil dari sebutan kaki ayam yang bermakna agar mempelai dapat mencari makannya sendiri dan tidak lagi bergantung pada orangtuanya.

Setelah siraman maka pengantin wanita  akan memakai busana kain kembangan, baju kebaya dan kain bermotif sama (setelan). Bermakna keikhlasan akan meninggalkan status gadis dan menjalani hidup berumah tangga.

 

Baca  Wah! Ini 9 Fakta Seru Busana Pengantin Betawi

 

Jonggolan

Busana yang dipakai pada prosesi jonggolan adalah Jawi Jangkep. Bagi keraton solo, busana Jawi Tangkep yaitu busana langenharjan putih dengan kain batik semen rama atau satria wibawa. Sedangkan untuk masyarakat umum busana Jawi Jangkep adalah beskap putih denga kain bathik wahyu Tumuran.

Turunnya Kembar Mayang
Busana yang dikenakan saat ijab biasanya adalah basahan, Jawi Jangkep, ataupun Lengan harjan. Kain batik yang akan dikenakan adalah sidamulya, sidamukti, dll.

Batik sidamulya, sidamukti mempunyai motif yang sama, yang membedakan hanya warna dasarnya. Jika sidamulya berwarna dasar putih, sidaluhur berwarna dasar hitam, maka sidomukti memiliki warna dasar pelataran ukel.

Batik sidamulya bermakna dalam kehidupan kelak tercukupi kebutuhan materi dan tercapai kemulyaan. Makna dari batik sidaluhur yaitu dalam kehidupannya bisa mencapai kedudukan yang tinggi dan menjadi anutan masnyarakat.

Sedangkan Sidamukti bermakna dalam kehidupannya kelak  mencapai kebahagiaan, tercukupi materi, mendapat kedudukan sehingga dihormati oleh masyarakat. Sedangkan Sidaasih bermakna mendapat perhatian dari sesama dan saling mengasihi atau di-tresnani sesamanya.

 

 

Summary:

Batik menjadi pakaian wajib yang dikenakan saat momen pernikahan dengan adat Jawa. Jadi jangan sembarangan mengenakan motif batik tertentu, loh, ya!

 

 

 

 

 

Ani Lestari & Tim thewedding.id

Foto: Wijaaak – pixabay

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here