Batik dalam Tradisi Pernikahan Jawa

0
78
Batik untuk Pernikahan Jawa
Corak Mukti Luhur dikenakan oleh kedua orang tua mempelai pria dan wanita pada acara panggih maupun resepsi. Corak Delima Wirasat untuk kedua orang tua calon pengantin wanita dalam midodareni (kiri ke kanan) - Dok. Mahligai Indonesia

Tak sekadar bagian keutuhan estetika berbusana Jawa, batik memegang peranan kuat sebagai cermin kedudukan sosial serta bentuk harapan pemakainya. Pahami penggunaan kain batik dalam tradisi pernikahan Jawa di sini.

Paningset

Saat penyerahan paningset, anak laki-laki yang akan dinikahkan berbusana Jawa Jangkep belum memakai dasar baju hitam, atau istilahnya Jawi Jangkep Padintenan dengan memakai kain batik motif Satir Manah. Makna batik Satria Manah adalah memanah jantung hati calon istrinya. Harapannya, si gadis akan bekti kepada ‘guru laki’-nya selama-lamanya.

Gadis yang akan diikat dengan perjodohan mengenakan kain batik Semen Rante. Rante berarti belenggu. Makna penggunaan kain ini dalam tradisi pernikahan adalah bersedia dan sanggup menjadi calon pendamping suami dengan ikatan batin yang telah membelenggu pada dirinya, serta telah menutup diri dari cinta lelaki lain. Tradisi ini diambil dari Wewarah Ingkang Sinuhun Pakoe Boewono ke IX dalam ajaran Salaki Rabi. Di luar tatacara Pasrah-Paningset, kain jenis ini bisa dipakai oleh golongan apa saja dan untuk kalangan muda.

Batik untuk Pernikahan Jawa
Kain jumputan sutera, biasa dikenakan oleh calon pengantin wanita dalam prosesi siraman – Dok. Mahligai Indonesia

Siraman

Dalam upacara ‘siraman’ busana calon pengantin wanita adalah kain batik ‘wahyu tumurun’ dan kembenan ‘kain bangun tulak’ (berlaku di Karaton Surakarta). Busana siraman kain batik wahyu tumurun dan kain bangun tulak ini memiliki makna seperti dalam tatacara tingkepan atau mitoni yaitu supaya kuat ‘kedunungan wahyu’ atau mendapat wahyu dan dijauhkan dari segala godaan dan rintangan.

Sedangkan orangtua mengenakan ‘batik cakar’ dan sabuk kemben bangun tulak. Batik cakar diambil dari sebutan kaki ayam, yang bermakna agar mempelai dapat ceker-ceker seperti ayam dalam mencari nafkahnya sendiri, tidak lagi tergantung pada orang tua. Setelah melakukan siraman, calon pengantin perempuan mengenakan kain kembangan. Inilah yang disebut sawitan, baju kebaya dan kain motifnya sama (setelan). Busana Kembangan setelan atas bawah ini melambangkan bersih tata lahir dan batinnya. Gambaran keiklasan akan meninggalkan status gadis dan menjalani hidup berumah tangga.

Batik atau yang dalam Bahasa Jawa dilafalkan sebagai batik, cukup kuat memegang peranan dalam berbagai busana dalam keseharian masyarakat Jawa serta tradisinya. Lebih dari sekadar keutuhan busana, ia juga merupakan cermin kedudukan sosial serta bentuk harapan pemakainya.

Penggunaan busana Jawa juga menuntut keselarasan dengan rasa jiwa budaya. Karena busana Jawa mengandung nilai-nilai tatasusila dan kepribadiannya yang meliputi lahir dan batin manusia, seperti sabda SISKS Pakoe Boewono X, “Berbusana itu menjadi syarat membangun manusia luar dan dalam (lahir dan batin), maka sesuaikanlah pakaianmu yang cocok dengan penggunaannya, yang serasi dengan tubuhmu, kedudukan dan kepangkatanmu.” Sabda ini menuntut keserasian dalam berbusana Jawa dan ketepatan memilih busana yang sesuai dengan ukuran tubuh, acara, maupun kedudukan.

Apabila seorang anak laki-laki dewasa sudah berkeinginan untuk menikah, untuk menyunting gadis menjadi dari keluarganya. Dan dalam prosesi manton tersebut, jenis kain batik yang dipakai sangat spesifik dan memiliki makna tertentu.

Batik untuk Pernikahan Jawa
1. Corak Sida Asih (kiri) dan Truntum Garudo (kanan). 2. Kain batik corak Sida Luhur untuk orang tua calon pengantin wanita saat pemasangan bleketepe. – Dok Mahligai Indonesia

Penembung

Saat akan menerima kedatangan utusan dari pihak laki-laki, pihak perempuan didampingi beberapa sesepuh sekaligus sebagai saksi. Dalam proses panembangan/ lamaran ini, dalam budaya Jawa busana yang dikenakan adalah busana Jawi, artinya memakai kain batik dan baju beskap. Baju beskap ini tidak memakai ‘krowokan’, atau disebut ‘beskap landung’ atau panjang, karena dalam tradisi itu tidak memakai keris.

Dari kain batik yang dikenakan pada waktu pelaksanaan panembung, status sosial dari yang akan saling berbesanan sudah dapat diketahui saat itu, misalnya:

  • Batik Parangrusak atau jenis parang-parang yang lain menandakan bahwa pemakainya berasal dari golongan luhur.
  • Batik Swemenan Latar Putih menunjukkan pemakainnya berasal dari golongan priyayi
  • Batik Latar Hitam atau jenis Ceplokan menandakan yang mengenakan berasal dari golongan sepuh atau daru kalangan kebanyakan.

Jonggolan

Busana yang dipakai dalam jonggolan adalah Jawi Jengkep dengan baju Langenharjan putih (bagi Keraton Surakarta) dengan kain batik Semen Rama atau Satria Wibawa. Di dalam masyarakat umum, yang dipergunakan adalah busana jawi jangkep, beskap putih dengan kain batik Wahyu Tumurun.

Batik untuk Pernikahan Jawa
3. Corak Sida Mukti. 7 Corak Cakar Garudo untuk kedua orangtua calon pengantin wanita saat siraman. – Do. Mahligai Indonesia

Turunnya Kembar Mayang

Busana yang dipakai untuk ijab biasanya adalah Basahan, Jawi Jangkep ataupun Langeharjan. Kain batiknya adalah batik yang tidak diprada seperti: kain batik Sidamulya, batik Sidamukti, dll. Orangtua pengantin mengenakan kai batik Truntum dan memakai sabuk kemben dari Sindur.

Kain batik Sidamulya berasar dari jaman Mataram Kartasura. Kemudian pada masa pemerintahan Pakoe Boewono IV dikembangkan, dasar kain yang semula latar putih memakai dasar ‘ukel’ dikembangkan menjadi kain batik yang disebut batik ‘Sidamukti’. Sebenarnya batik Sidamukti, Sidaluhur dan Sidamulya mempunyai motif sama, yang membedakan adalah warna dasar dari batik itu. Sidamulya mempunyai dasar pelataran putih, Sidaluhur mempunyai dasar pelataran hitam dan Sidomukti dasar pelatara ukel.

Setelah pada masa Pakoe Boewono IX, terdapat pengembangan ‘motif Sida Asih’, yaitu dasar pelataran putih diselingi ukel. Makna kain batik Sidamulya adalah diharapkan dalam kehidupan kelak tercukupi kebutuhan materi dan tercapai kamulyan.

Batik Sidaluhur, mempunyai suatu pengharapan dalam hidupnya bisa mencapai kedudukan yang tinggi dan menjadi panutan masyarakat. Sidamukti mempunyai makna kelak dalam hidupnya bisa tercapai kebahagiaan tercukupi materi dan mempunyai kedudukan sehingga dihormati dalam masyarakat. Sidaasih agar mendapat perhatian dari sesame dan saling mengasihi atau dengan kata lain ditresnani dan disayang sesamanya.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

 

LEAVE A REPLY