Kain Tenun Bentenan yang Mulai Tergerus Zaman

0
19
Kain Bentenan Minahasa
Dok. Mahligai Indonesia

Sempat menghilang selama 200 tahun, saat ini kain Bentenan masih terus disosialisasikan di tengah masyarakat. Termasuk masyarakat Minahasa sendiri.

Sebagai salah satu warisan budaya, rasanya tidak berlebihan bila penemuan kambali kain Bentenan bak pulangnya anak yang hilang ke pangkuan bumi pertiwi. Betapa tidak, keberadaan yang tinggal segelintir itu merupakan salah satu saksi bisu betapa hebatnya kerajinan tangan masyarakat Kabupaten Minahasa Selatan, khususnya masyarakat Desa Bentenan di masa lampau.

Kain tenun Bentenan terakhir kali diproduksi tahun 1880 oleh kalangan Minahasa yang tinggal di daerah pesisir Selatan Minahasa. Dan pada tahun 1885, kain tersebut dibawa oleh misionaris Kristen asal Belanda, pendeta Brower dari Tomohon Manado ke Batavia.

Seorang antropolog, Hetty Palm, dalam bukunya berjudul Ancient Art of The Minahasa mengungkapkan mengenai kain tersebut. Dari situlah informasi tentang Kain Bentenan mulai terbuka. Dan tanpa disadari banyak orang, kain yang dikira tak ada lagi di Indonesia itu ternyata ada di Museum Nasional. Saat ini hanya ada dua kain Bentenan motif Pinatika yang tinggal di Indonesia. Itu pun terdapat di Museum Nasional. Beberapa kain lain tersebar di berbagai museum di Eropa, seperti Amsterdam, Frankfurt, Dresden dan Rotterdam.

Berasal dari Beberapa Serat

Kain Bentenan ini berasal dari pelabuhan utama yang terletak di Pantai Timur Minahasa Selatan. Sebelum terbuat dari benang katun, kain Bentenan terbuat dari tanaman seperti serat kulit kayu, nanas dan pisang. Barulah pada abad ke-15 kain ini berkembang dengan tenunan yang terbuat dari bahan katun.

Konon sebelum ditenun, biasanya si penenun menyanyikan lagu Ruata yang isinya berupa permintaan atau doa kepada Yang Maha Kuasa untuk membantu menjadikannya sebuah tenunan.

Masuknya pengaruh dunia barat serta modernisasi masyarakat Minahasa menyebabkan keberadaan kain Bentenan lambat laun menghilang.

Mas Kawin

Tak seperti kain ulos milik masyarakat Sumatera Utara pada umumnya, saat ini kain Bentenan belum bisa difungsikan sebagaimana fungsi adatnya dulu. Kain betenan adalah lifecycle. Artinya, dulu selain menjadi salah satu kain yang memiliki mutu tinggi, bukan hanya karena Teknik pembuatannya (bentuk kain lingkar tanpa gunting/ sambungan kain dan menggunakan bel/ lonceng kecil di sekitar kain) namun juga karena kain itu sudah difungsikan sejak seseorang lahir hingga meninggal. Saat seorang bayi baru lahir, ia akan digendong dengan menggunakan kain Bentenan motif Tinonton. Saat orang tersebut menikah, kain itu akan menjadi mas kawin, disimpan terus hingga saat meninggal untuk digunakan sebagai pembungkus raganya.

Menurut agama purba, roh orang meninggal akan dilahirkan kembali. Jadi, saat seseorang meninggal, ia harus dimasukkan ke sarung kain tenun yang berbentuk silinder alias tanpa sambungan.

Tentu saja hal tersebut tak bisa diterapkan mentah-mentah saat ini. Namun demikian, sosialisasi penggunaan kain Bentenan sebagai mas kawin dimulai sejak tahun 1997 lalu.

Tabir Motif

Ada tujuh motif yang dimiliki kain Bentenan, yaitu Tonilama (tenun dari benang putih, tidak berwarna dan merupakan kain putih), Sinoi (tenun dengan benang warna-warni dan berbentuk garis-garis motif jala dan bentuk segi enam) merupakan jenis pertama yang ditenun Minahasa, Tinompak Kuda (tenun dengan aneka motif berulang), Tinonton mata (tenun dengan gambar manusia), Kaiwu Patola (tenun dengan motif tenun Patola India), serta Kokera (tenun dengan motif bunga warna-warni bersulam manik-manik). Tentu saja, dibalik motif-motif tersebut ada filosofi yang mendasari pembuatannya. Misalnya, motif Pinantika yang menyerupai jala berbentuk kotak-kotak. Konon motif jala kotak-kotak tersebut dianggap sebagai kediaman leluhur di langit.

Motif-motif tersebut dapat dikawinkan dengan kebutuhan saat ini. Seperti yang dilakukan pada motif Bunaken Sea Garden dan Ikan Coelacanth dalam rangka Sail Bunaken dan World Ocean Conference beberapa waktu lalu.

Omong-omong tentang ikan Coelancanth atau ikan Raja Laut, berdasarkan penelitian para ahli, ikan tersebut adalah cikal bakal hewan darat. Usianya lebih tua dibandingkan dengan dinosaurus.

Nah, untuk mengankat ikan yang di Indonesia hanya ditemukan di Teluk Manado itu, dikombinasikanlah motif ikan dalam kain Bentenan.

Kain Print

Sebuah kecamatan di Kabupaten Minahasa, Sonder, adalah pusat tenun zaman dahulu. Saat ini jangan harap Anda dapat menyaksikan deretan panjang wanita menenun, karena hanya sedikit wanita Minahasa yang bisa menenun di daerah tersebut.

Agar kain Bentenan tidak terlanjur punah, Yayasan Karema (Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara) mencoba mengangkat kembali kain Bentenan dengan tiga motif, yakni Kaiwu Patola, Tinonton Mata, Tinompak Kuda serta motif daerah seperti Sangir, Bantik, Minahasa Tenggara.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY