Kain Tradisional Bali dan Penggunaannya di Kalangan Masyarakat

0
133
Kain Bali
Pinterest/ farm3.staticflickr.com; Pinterest/ allwomenstalk

Sebagai bagian terpenting dari tradisi, ada sejumlah aturan tidak tertulis namun menjadi keharusan untuk diikuti. Yakni menyangkut penggunaan kain-kain berdasarkan motif dan jenisnya. Kain secara lebih khusus diterapkan sebagai busana maupun pelengkap pada upacara adat maupun kegiatan berkaitan dengan upacara religi. Baik aturan mengenai motif maupun warna yang harus dipergunakan.

Kain sangatlah akrab dengan tahapan perjalanan kehidupan manusia. Mulai sejak dalam kandungan, anak-anak, remaja, dewasa, pernikahan hingga pada kematian. Seluruhnya melibatkan keberadaan sehelai kain yang memiliki makna filosofi.

Berikut ini disajikan beberapa jenis dan motif kain adat Bali, sesuai dengan penggunaanya terkait untuk upacara tradisi.

Kain Bali
1. Kain Wali; 2. Kain Prada; 3. Kain Cepuk; 4. Kain Poleng; 5. Kain Songket dengan Tenun; 6. Kain Endek (Ikat) – Dok. Mahligai Indonesia

Kain Bali

Bermotif seperti lurik dengan garis-garis sebagaimana motif dari kain ikat. Kain demikian dipergunakan sebagai sarana upacara.

Kain Wali

Diperuntukkan bagi pria dan wanita pada upacara selamatan akil baliq. Usia menginjak akil baliq di Bali ditandai dengan upacara yang melibatkan sanak keluarga dan pemuka adat serta agama.

Kain Poleng

Perpaduan warna putih dan hitam ini menandakan keseimbangan dengan alam. Dipergunakan dalam tradisi dan upacara bersifat adat maupun keagamaan.

Kain Endek (Ikat)

Masyarakat Bali menyebutnya sebagai kain endek, yang dalam istilah umum merupakan salah satu jenis kain ikat pakai buatan para perajin Bali. Kain ini bisa dipergunakan secara umum, maupun untuk kain dipakai sehari-hari.

Kain Cepuk

Bermotif sangat khas warna merah. Kain motif demikian digunakan sebagai kain yang cara memakainya dililitkan (tapih) sebagai busana bagian bawah. Lazim dipakai dalam upacara-upacara Bali.

kain bali
Atas: Kain Bebali; Bawah: Kain Gringsing Ikat – Dok. mahligai Indonesia

Kain Geringsing/ Gringsing

Berasal dari kata gering, yakni sakit. Kain double ikat ini awalnya berasal dari desa Tengan, Kabupaten Karang Asem yang berkesan magis dan sakral. Di kalangan masyarakat Tenganan, kain ini hanya dipakai pada upacara-upacara tertentu, sebagai kemben atau penutup dada untuk wanita.

Baca Artikel Ini: Kain Gringsing, Tenun Khas Bali yang Istimewa

Kain Songket

Bali pun mengenal songket dengan ragam motifnya yang sangat khas. Tenun bermotif demikian merupakan hasil dari sungkitan benang leungsi yang bisa dibentuk motif beraneka ragam.

Kain Prada

Inilah kain yang menandakan status sosial kalangan bangsawan. Motif prada merupakan hasil lukisan emas yang diterapkan pada sehelai kain. Kain motif keemasan prada, dipergunakan sebagai busana pemotongan gigi maupun pernikahan yang menggunakan payas Ageng sebagai simbolisasi keagungan status sosial pemakainya.

Teks. Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY