Keunikan Songket Palembang dengan Benang Emas yang Mewah

0
357
Songket Palembang
Instagram/ zainalsongket_official

Meski merupakan kain tenun tradisional masyarakt Palembang, kain songket Palembang kini sedang menjadi idola banyak kalangan karena rupanya yang indah dan mewah. Ya, itu semua karena benang emas atau perak yang menjadi bagian dari kain tersebut.

Konon, Songket Palembang sudah ada sejak zaman Kesultanan Palembang. Namun sayangnya, belum dapat dipastikan kapan songket Palembang mulai eksis di kalangan masyarakat. Beberapa ahli dan pakar berpendapat bahwa songket telah ada di Palembang sejak ratusan tahun silam. Bahkan sebagian lain berpendapat bahwa songket Palembang telah muncul sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Pada masa itu, kerajinan songket merupakan salah satu usaha sambilan yang kerap dilakukan masyarakat asli Palembang.

Pendapat lainnya mengatakan, songket muncul bersamaan dengan kehadiran Kesultanan Palembang Darussalam (1959-1823). Dan jika menilik kembali catatan sejarah, yang pantas dan boleh mengenakan songket pada masa itu hanyalah kalangan kerajaan. Songket konon merupakan pelengkap dari pakaian kebesaran.

Asal Muasal Kata Songket

Belum ada penjelasan resmi mengenai asal muasal kata songket. Salah satu sumber mengatakan bahwa songket merupakan gabungan dari dua kata, yakni disongsong dan di-teket. Dalam baso Palembang Lamo, teket berarti sulam. Sedangkan songsong mengacu pada proses pembuatan kain dengan cara memasukkan benang ke mesin sederhana dengan cara diterima atau disongsong. Dengan kata lain, songket berarti kain yang pembuatannya dengan cara disongsong dan disulam.

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa songket Palembang berasal dari kata songko, yakni kain penutup kepala yang dihiasi benang emas. Ada juga yang mengatakan, bahwa kata songket berasal dari kata ‘tusuk’ dan ‘cukit’ yang disingkat menjadi ‘sukit’. Seiring berjalannya waktu, kata sukit berubah menjadi sungki dan kini dikenal dengan kata songket. Istilah songket baru ada sejak awal abad ke-19, sedangkan sebelumnya masyarakat Pelembang mengenal songket sebagai kain benang emas, karena terbuat dari benang emas.

Baca Artikel Ini: Warni – Warni Kebaya Simpel Nan Elegan Karya Zainal Songket

Songket Palembang
Instagram/ zainalsongket_official

Macam-macam Songket Palembang

Songket Palembang terbagi menjadi lima macam, antara lain songket Lepus, songket Tabur, songket Bunga-bunga, Tretes Mender dan Limar. Lima jenis songket ini terbagi berdasarkan benang emas dan motif yang tergambar pada kain.

Lepus

Songket Lepus merupakan kain songket dengan motif anyaman dan permukaannya hampir ditutupi seluruhnya dengan corak dari benang emas. Hiasan benang emasnya menyebar di seluruh permukaan songket.

Tabur

Songket Tabur memiliki motif yang menyebar merata. Jadi, hiasan motifnya tidak dijalin dari pinggir, melainkan berupa kelompok-kelompok seolah motif tersebut ditaburkan di atas permukaan songket. Songket jenis ini biasanya memiliki motif bunga, bintang dan masih banyak lagi. Motif menyebar sesuai dengan selera penenun songket.

Bunga-bunga

Songket ini memiliki motif mirip bunga di bagian tengah. Awalnya, motif bunga di kalangan masyarakat asli Palembang terbagi menjadi dua, yakni motif bunga pacik yang kerap dikenakan masyarakat keturunan Arab dan bunga emas atau bunga Cina yang dikenakan keturunan Tionghoa. Perbedaan ini konon berdasarkan prinsip orang Arab yang menolak benang emas, karena meyakini manusia dilarang memamerkan kemewahan.

Limar

Songket ini menggunakan benang sutra warna-warni, antara lain merah, hijau, ungu, biru, hitam, oranye, dan kuning. Warna songket limar tidak terlalu menyala dan memiliki kombinasi warna yang cenderung gelap. Ada yang berpendapat bahwa limar menyerupai buah limau (jeruk). Limar artinya banyak bulatan kecil dan percikan yang membintik, serupa tetesan air jeruk peras.

Songket Tretes Mender

Perkembangan songket ini diperkirakan mulai tercipta pada fase-fase terakhir. Hal tersebut dikarenakan pada bagian tengah kain songket jenis ini tidak dijumpai motif (polosan). Gambar motif hanya dijumpai pada kedua ujung pangkal dan pada pinggiran kain.

Sumber: Buku Warisan Budaya Tak Benda Indonesia: Penetapan Tahun 2013, Buku Satu

ELSA FATURAHMAH

LEAVE A REPLY