Pentingnya Ulos dalam Kehidupan Masyarakat Batak

0
26
Ulos - Mangulosi - Batak
Instagram/ h7_picture

Ulos merupakan salah satu kain khas Indonesia yang dikembangkan turun – temurun oleh masyarakat Batak, Sumatera Utara. Kain dengan warna dominan merah, hitam dan putih ini dibuat dengan alat tenun.

Menurut pemikiran orang Batak terdahulu, salah satu unsur yang memberi kehidupan pada tubuh manusia antara lain adalah darah, nafas dan “kehangatan”. Mengingat orang Batak terdahulu lebih memilih tinggal di dataratan tinggi bersuhu dingin, sehingga rasa hangat menjadi suatu hal yang penting. Sementara itu, orang Batak juga meyakini tiga sumber kehangatan, yakni matahari, api dan ulos. Sayangnya, matahari dapat tenggalam dan api tidak cukup praktis untuk digunakan setiap saat. Karena itu, ulos menjadi suatu barang berharga untuk menjaga tubuh tetap hangat kapanpun dibutuhkan.

Ulos juga dipercaya dapat mempermudah persalinan jika dikenakan oleh ibu yang sedang mengandung. Masyarakat Batak terdahulu meyakini ulos dapat melindungi ibu hamil dari segala mara bahaya saat melahirkan.

Setiap aktivitas adat dalam Masyarakat Batak dikenal istilah Mangulosi, yakni pemberian kain tenun ulos. Namun tidak sembarang orang dapat mangulosi, hanya orang yang dituakan (hula-hula) yang dapat melakukannya. Ulos selalu menjadi bagian adat yang selalu diikut sertakan, seperti upacara pernikahan, kelahiran, dan dukacita.

Dalam perkembangannya, ulos akhirnya memiliki nilai yang tinggi di mata masyarakat Batak. Kini dibuatlah aturan penggunaan ulos yang dituangkan dalam aturan adat, antara lain:

  1. Ulos hanya diberikan antar kerabat, seperti Nataros tu ianakhon (orang tua kepada anak).
  2. Jenis ulos yang akan diberikan kepada kerabat harus sesuai, misalnya ulos Ragihotang yang khusus diberikan untuk hela (menantu laki-laki).
  3. Jenis ulos juga harus sesuai dengan penggunaannya. Ulos yang dipakai ke tubuh menjadi baju atau sarung (Siabithonon) menggunakan ulos ragidup, sibolang, runjat, jobit, dan lain-lain. Ulos yang diletakkan di bahu (Sidahadanghononhon) menggunakan ulos sirara, sumbat, bolean, mangiring dan lainnya. Sedangkan untuk pengikat kepala (Sitalitahononhon) menggunakan ulos tumtuman, mangiring, padang rusa dan lain-lain.

Baca Artikel Ini: Ragam Motif Ulos untuk Pernikahan Adat Batak

Ya, ulos memang memiliki ragam jenis yang variatif, namun sayangnya ada beberapa jenis yang telah punah, seperti ulos raja, ragi botik, gobar, saput (ulos yang dipakai untuk membungkus janazah), dan ulos sibolang.

Teks: Elsa Faturahmah

LEAVE A REPLY