Ragam Batik Motif Parang yang Sarat Makna

0
166
Ragam Batik Parang
Pinterest/ theactualstyle.com

Ragam corak batik, pada jaman dahulu, merupakan ekspresi atau pernyataan yang menyiratkan status sosial seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Busana dengan berbagai simboliknya selain mencerminkan norma, juga terkandung makna yang tersirat, serta sebuah penghormatan akan tradisi dan nilai-nilai budaya setempat.

Motif parang sangat jarang digunakan untuk menghadiri upacara pernikahan. Apalagi digunakan sebagai busana pengantin. Dalam tradisi Jawa, bila motif parang sebagai busana pernikahan, akan menyebabkan rumah tangga menjadi dipenuhi percekcokan.

Dari beberapa pola batik yang ada hingga saat ini pola geometris merupakan pola tertua, yang pada masa dahulu hanya bisa dipergunakan oleh kalangan kerajaan atau bangsawan. Bentuk geometris diatur berjajar dengan bentuk pengulangan yang tegas, teratur dan memiliki arah yang jelas. Salah satu diantara motif geometris tertua adalah parang.

Parang berasal dari kata pereng yang berarti lereng. ‘Perengan’ menggambarkan sebuah jalur garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Istilah parang lazim dipakai oleh orang Jawa, sedangkan di daerah Pasundan disebut rereng atau lereng.

Batik motif parang pada dasarnya tergolong sederhana, berupa motif leter S jalin-menjalin membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat tidak terputus yang melambangkan kesinambungan. Di masa lalu, motif parang sangat ‘dikeramatkan’ dan hanya dikenakan pihak istana dalam acara-acara tertentu saja.

Ragam Batik Parang
Dok. Mahligai Indonesia

Maka filosofi pada batik parang tidak sesederhana motifnya. Ada ajaran-ajaran keutamaan yang terkandung di dalamnya. Bentuk dasar leter S konon diambil dari ombak Samudra yang menggambarkan semangat tidak pernah padam. Batik bercorak parang pada abad ke-18 merupakan eksklusif milik keraton, yang hanya boleh dipakai oleh raja dan bangsawan, dan dinyatakan sebagai corak terlarang bagi masyarakat umum.

Corak parang juga menyerupai alur lekukan senjata keris atau pedang, sehingga kain batik corak ini juga dikenakan oleh para kesatria atau penguasa. Komposisi miring pada motif parang melambangkan kekuasaan dan gerak yang cepat, lincah dan gesit. Parang juga diartikan sebagai karang yang runcing melambangkan heroisme, patriotisme dan memberi ‘kekuatan’ pada pemakainya. Konon, dahulu kala seorang senapati yang hendak berangkat perang berbusana kain batik parang dan dilantik oleh raja di pendopo atau alun-alun, dengan harapan pulang membawa kemenangan.

Dewasa ini, motif parang kerap digunakan dalam acara wisuda sarjana, penganugerahan bintang tanda jasa atau penghargaan dalam lomba. Motif parang juga sering ditemukan dalam dunia Pendidikan dalam bentuk cover buku seragam, piala, dan sebagainya karena secara eksplisit motif parang juga memiliki makna kecerdasan.

Perkembangan dewasa ini, motif parang mengalami banyak modifikasi, stilasi atau bahkan penggabungan dengan motif lain, sehingga menghasilkan motif baru yang tak kalah menarik.

Ragam Motif Parang

Corak batik parang sudah dikenal sejak zaman awal dinasti Kraton Mataram Kartosura-Jawa. Jenis-jenis itu telah diciptakan motif parang banyak sekali. Pada masa kerajaan telah diciptakan motif parang barong, parang rusak, parang kusumo, parang klithik, parang sobrong dan beberapa lainnya. Berikut ini sebagian dari garam motif parang beserta makna dan filosofinya.

Ragam Batik Parang
Dok. Mahligai Indonesia
Parang Rusak

Motif ini merupakan motif batik yang pada awalnya diciptakan oleh Penembahan Senopati Laut Pantai Selatan dengan bentuk karang-karang yang meruncing terkikis deburan ombak. Berdasarkan besar kecilnya corak, parang rusak dapat dibedakan ragam motifnya; yakni parang rusak barong yang berukuran besar yang dikerjakan hanya diperuntukkan bagi raja dan pangeran; parang rusak klithik yang berukuran kecil untuk para putra-putri raja.

Parang Kusuma

Corak parang kusuma sangat tradisional dan hingga kini masih banyak dibuat dan digemari, lantaran terlihat luwes. Corak kusuma ini menggambarkan bunga, dalam Bahasa Jawa kusuma berarti bunga di tengah-tengah lingkungan atau masyarakat. Dalam tradisi Jawa, batik motif ini lazim digunakan sebagai kain saat lamaran atau tukar cincin, yang melambangkan budi pukerti dan tujuan yang luhur.

Parang Curiga

Kata ‘curiga dalam Bahasa Jawa kuno berarti senjata atau pusaka, dapat berbentuk keris atau pisau. Makna dari motif ini adalah sebagai perlindungan diri untuk menaklukkan atau melawan sesuatu yang tidak diinginkan.

Ragam Batik Parang
Dok. Mahligai Indonesia
Parang Bimo Kudro

Bimo adalah sosok dalam legenda Pandawa Lima, merupakan sosok tokoh wayang yang gagah berani dan jujur dan dikagumi oleh Soekarno. Corak ini dibuat secara khusus oleh pembatik bernama Go Tik Swan Penembahan Hardjonagoro untuk dipersembahkan kepada Presiden Sukarno.

Parang Udan Liris

Corak ini bermakna hujan gerimis yang jatuhnya miring, sehingga dipercai memiliki kekuatan melambangkan kesuburan. Biasanya jumlah ‘deretan’ bidang yang ‘dilukis’ berjumlah ganjil, tujuh atau sebelas bidang. Tujuh atau ‘pitu’ (dalam Bahasa Jawa) berarti pertolongan; sementara sebelas dalam Bahasa Jawa yakni ‘welas’ yang memiliki persamaan arti dengan iba atau belas kasihan. Motif ini memiliki makna berbelas kasih dan menolong kepada siapapun yang memerlukan. Motif udan liris juga telah banyak pengembangan diantaranya dengan memadukan corak yang diilhami dari bunga-bunga atau daun-daunan.

Rereng di Pasundan

Selain di Jawa Tengah-Yogya, batik dari tatar Pasundan juga memiliki corak parang yang biasanya disebut lereng atau rereng. Beda dengan corak parang di Jawa Tengah – Yogya yang cenderung klasik dengan dominasi warna dasarnya coklat, soga atau putih; batik corak rereng Pasundan umumnya berwarna cerah bahkan cenderung ngejreng. Perpaduannya dengan corak floral berupa buketan yang biasanya berada pada bagian pinggiran kain menjadikan corak rereng Pasundan tampak lebih ‘ringan’ dan feminin. Pada beberapa darah di Tataran Pasundan, batik motif rereng juga diumbuhi motif tumpal pada pinggiran kainnya. Batik corak rereng merupakan salah satu motif khas dari beberapa daerah di Pasundan seperti Garut dan Tasikmalaya.

Teks: Tim Mahligai Indonesia

LEAVE A REPLY