Ragam Motif Batik Parang yang Penuh Makna Mendalam

0
60
makna batik parang
Instagram/ suryastephen

Seiring perkembangan zaman, trend berbusana batik kian berkembang. Tidak hanya digunakan untuk acara-acara khusus, batik kini telah beradaptasi menjadi busana yang bisa dikenakan dalam semua kondisi dan diterima baik oleh kalangan orang tua hingga generasi milenial.

Indonesia memiliki ragam motif batik yang mengandung keindahan nilai seni yang tinggi. Tidak hanya itu, setiap motif batik ternyata memiliki makna filosofis yang menggambarkan kearifan lokal masyarakat kita.

Kali ini akan dibahas asal mula salah satu motif batik tertua di Indonesia, yakni motif batik parang. Parang berasal dari kata “pereng” yang berati lereng. Motif ini menggambarkan susunan garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal. Zaman dulu, batik yang eksis sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo) ini hanya dipakai oleh kalangan kerajaan, kesatria, dan penguasa.

Motif batik parang yang menyerupai huruf S terinspirasi dari ombak samudra, melambangkan kesinambungan semangat membara yang tidak pernah padam. Batik ini juga menggambarkan jalinan yang tidak terputus, melambangkan upaya memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, dan juga sebagai simbol pertalian keluarga.

Faktanya, batik parang merupakan salah satu motif batik yang mengalami banyak perkembangan, hingga memunculkan beberapa motif baru tanpa menghilangkan ciri khas dari batik parang.

Motif Parang Rusak Barong

Parang rusak barong berasal dari kata batu karang dan barong (singa). Motif ini merupakan parang terbesar dan agung karena mengandung filosofi yang sakral, sehingga kerap dikenakan para raja, terutama pada saat ritual keagamaan dan meditasi.

Motif parang rusak barong diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma sebagai bentuk ekspresi pengalaman jiwanya sebagai raja. Kata barong mengartikan suatu hal yang besar dan merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini pun bermakna bahwa raja hendaknya selalu berhati-hati dan dapat mengendalikan diri.

Parang Klitik

Pola parang dengan stilasi halus ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan mengesankan citra yang lebih feminin. Motif yang kerap dieknakan para putri raja ini melambangkan perilaku halus, bijaksana, dan lemah lembut.

Parang Slobog

Motif satu ini kerap dipakai dalam upacara pelantikan sebagai harapan agar pemimpin baru dapat memiliki jiwa yang teguh, teliti, dan sabar dalam menjalankan kewajiban. Parang siobog juga kerap dikenakan saat pemakaman raja dengan harapan agar arwahhnya mendapatkan kelancaran saat menghadap sang pencipta.

Parang Kusuma

Pada umumnya orang Jawa memiliki harapan untuk mendapatkan kesempurnaan dalam menjalani hidup. Hal tersebut tercurahkan dalam motif parang kusuma, di mana keharuman bunga kusuma dimaknai sebagai perjuangan untuk mendapatkan keharuman lahir batin. Ya, orang Jawa cenderung mengutamakan pencitraan yang harum tanpa meninggalkan norma-norma agar senantiasa terlindung dari bencana lahir batin.

Teks: Elsa Faturahmah

Sumber: www.goodnewsdromindonesia.id

 

LEAVE A REPLY